Pada beberapa training motivasi, seringkali sapaan pertama yang disampaikan oleh trainer adalah “Selamat Pagi”. Kalimat ini diucapkan beberapa kali, dari volume yang terendah hingga volume tertinggi. Para peserta training pun secara otomatis menjawab sapaan “Selamat Pagi” dengan volume suara yang disesuaikan dengan tinggi rendah volume suara trainer.
Proses alamiah penyamaan volume suara ternyata tidak hanya terjadi dalam konteks training saja, tetapi dalam percakapan sehari-hari. Seseorang yang diajak berkomunikasi oleh orang lain ternyata mampu merangsang orang tersebut untuk menyesuaikan volume suaranya dengan mitra komunikasinya. Karena itu, tidak mengherankan jika percakapan yang terdiri hanya dua orang saja mampu memekakkan telinga orang-orang di sekitar mereka.
Fenomena di atas sangat mungkin terjadi pada sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarga tersebut berkomunikasi dengan suara yang keras. Hal ini dipicu oleh orangtua setiap kali menjelaskan atau memerintah kepada anaknya selalu menggunakan suara yang keras pula.
Akibat dari fenomena tersebut anak juga akan menjawab dengan teriakan yang tidak kalah keras. Sehingga, anak-anak terbiasa untuk bercakap-cakap dengan suara keras. Bahkan bisa jadi sambil berteriak. Tidak mustahil saat mereka berkembang menjadi dewasa, mereka akan berkomunikasi dengan orang lain juga sambil berteriak.
Mungkin beberapa orangtua berargumentasi, “Anak saya tidak akan menurut tanpa diteriaki, mana mungkin kita menggunakan suara datar kepadanya apalagi dengan setengah berbisik?.”
Ada sebuah teori tentang gelombang otak manusia yang diakibatkan oleh tinggi rendahnya suara. Suara tinggi akan merangsang gelombang otak dalam kondisi Beta, yaitu kondisi otak aktif bergerak dan pikiran bercabang.
Suara keras ini hanya merangsang anak untuk lebih banyak bergerak sehingga suara keras atau teriakan memang akan manjur bagi anak hanya pada perintah atau instruksi yang bersifat fisik. Sebaliknya, pada penjelasan yang membutuhkan fokus pikiran atau penyadaran yang membutuhkan sensitivitas hati, maka suara keras akan menjadi kurang efektif.
Dengan demikian, sebenarnya instruksi orangtua yang menggunakan teriakan atau bentakan hanya akan efektif jika menuntut anak untuk bergerak secara fisik dan tidak efektif saat tuntutan tersebut bersifat pikiran atau perasaan.
Dalam konteks inilah sebenarnya tidak ada manfaat yang terlalu signifikan jika orangtua suka berteriak kepada anaknya. Orangtua berteriak ketika meminta anaknya untuk mandi. Begitu pula saat tiba waktunya berangkat ke sekolah, orangtua kembali berteriak.
Akhirnya, tiada hari di dalam keluarga tersebut kecuali teriakan-teriakan yang tidak meningkatkan anak untuk menepati apa yang harus ia lakukan.
Beberapa ayat Al Qur’an menyebutkan perlunya tidak menaikkan suara saat berkomunikasi melebihi suara Nabi Muhammad SAW. Bahkan dalam Surat Luqman, Allah menjelaskan bahwa berkomunikasi dengan lemah lembut dan sederhana adalah salah satu diantara perilaku terpuji yang harus dibangun pada diri anak-anak.
“Sesunguhnya, seburuk-buruknya suara adalah suara himar”. Ibn Katsir menjelaskan disebutkannya suara yang paling buruk adalah suara himar menunjukkan bahwa mengangkat suara yang paling keras itu bukan hanya tidak baik tapi juga tercela.
Banyak sekali manfaat bagi anak jika dibiasakan berkomunikasi secara lemah lembut tanpa berteriak.
- Membangun kebiasaan anak untuk berbicara dengan sikap yang baik dan sopan.
- Memudahkan orangtua memberi pemahaman kepada anak atas peraturan dan anjuran orangtua terhadap anak.
- Menghindarkan anak dari sikap-sikap yang buruk dan kurang sopan ketika mereka berbicara kepada orang-orang dewasa.
- Menghindari kegentingan suasana di dalam keluarga akibat suara masing-masing anggota keluarga yang juga sama-sama keras.
- Menghindari terjadinya konflik antara anggota keluarga akibat ada seorang anggota kurang memahami isi percakapan anggota lainnya karena yang dirangsang adalah fisiknya, bukan pikiran atau hatinya.
Beberapa orangtua dengan sangat bijak telah menggunakan teknik komunikasi yang lebih baik. Setiap meminta anaknya untuk melakukan sesuatu cukup mendatanginya tanpa sepatah kata pun yang terucap.
Anak secara cerdas sudah memahami maksud tatapan dan kehadiran orangtuanya karena pada keluarga tersebut terbangun kebiasaan atau jadwal yang pasti. Tidak ada suara keras apalagi teriakan. Jika terpaksa ada suara yang harus keluar, yang ada hanyalah suara berbisik atau pernyataan yang sama sekali tidak mengarah untuk menyuruh anak.
Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia*
Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”


