Komunikasi Kita

Seminar Parenting di Balai Kota Solo telah mengingatkan saya terhadap pertanyaan seorang ibu. “Pak Jinan, putri saya kelas VI SD suatu saat berkata, ‘Ma, aku suka sama temanku, Hamzah.’ Apa yang harus saya sampaikan kepadanya? Ia masih terlalu muda untuk berpacaran.”

Saya balik bertanya kepada ibu tersebut, “Apa yang telah Ibu sampaikan kepadanya?” Ia menjawab, “Saya sangat khawatir dengan putri saya sehingga saya berkata, ’Nak, kamu masih terlalu muda untuk menyenangi teman laki-lakimu, apalagi berpacaran.’”

Sebagai orangtua mungkin kita juga sering menghadapi pernyataan anak-anak kita yang sekilas terasa bertentangan dengan kaidah-kaidah moral, seperti “Ummi jahat,” “Aku benci Abi,” Aku pingin bunuh temanku,” Aku nggak mau ditemeni Eyang,” dan lain-lain.

Menghadapi pernyataan-pernyataan seperti di atas, kita sering hanya melihat wujud nyata dari kalimat yang dipergunakannya. Akhirnya, kita sering memarahi atau memberi ceramah-ceramah yang sebenarnya tidak diharapkan oleh anak.

Padahal, di balik kata-kata yang terasa kasar dan kurang pada tempatnya, anak mempunyai maksud sendiri. Marilah kita mencoba untuk menganalisa pernyataan dari putri seorang ibu di atas, “Ma, aku suka sama temanku, Hamzah.” Mungkin ada beberapa maksud yang dapat kita identifikasi di balik pernyataan tersebut, yaitu:

  1. Ada gejolak rasa suka dalam diri anak tersebut sehingga ia memilih ibunya sebagai orang yang paling ia percayai untuk bercerita.
  2. Ada upaya untuk mengetahui, apakah menyukai teman laki-laki tersebut boleh atau tidak.
  3. Ia ingin mengetahui respon ibunya tentang perasaan sukanya.

Berdasarkan tiga  kemungkinan maksud di atas, mari kita juga menganalisa jawaban yang telah disampaikan si ibu kepada putrinya, “Nak, kamu masih terlalu muda untuk saling menyenangi teman laki-lakimu, apalagi berpacaran.”

  1. Ibu ini telah menolak perasaan suka putrinya terhadap teman laki-lakinya. Mungkin dikemudian hari ia tidak akan lagi menceritakan perasaan serupa karena ibunya biasa menolaknya.
  2. Jawaban si ibu di atas tampak menganggap anaknya masih terlalu muda untuk suka terhadap temannya sehingga dapat menghancurkan kepercayaan putrinya.
  3. Ibu ini terlalu berpikir jauh atas rasa suka putrinya. Ia telah menafsirkan rasa senang tersebut dengan istilah “pacaran”. Dengan jawaban tersebut, anak justru telah diarahkan rasa sukanya untuk berpacaran.

Seorang anak yang berani mengungkapkan perasaan suka kepada teman laki-lakinya sesungguhnya ia hanya ingin didengarkan dan diterima perasaan tersebut.

Ibu: ”Oh ya, kamu suka sama Hamzah?”

Anak: “Ya, saya senang terhadapnya, Bu.”

Ibu: “Mengapa kamu suka dengan Hamzah?”

Anak: “Ia pandai dan perhatian, Bu.”

Ibu: “Berarti kamu menyukainya karena ia pandai dan suka membantu?”

Anak: “Ia suka membantu anak-anak lain mengerjakan tugas-tugas kelas.”

Ibu: “Ibu senang jika…seterusnya.”

Ketika orangtua mencoba untuk mendengar dan menerima terlebih dahulu pernyataan anak dan tidak segera menilai atau memberikan nasehatnya, sesungguhnya orangtua mempunyai kesempatan untuk mengetahui lebih jauh motif dan maksud dibalik pernyataan anak tersebut. Jika orangtua merasa anak perlu diarahkan atau dinasihati atas motif dan maksud tersebut, maka orangtua dapat memberi arahan yang sesuai dengan maksud anak.

Mungkin kita masih ingat dalam sirah Nabi tentang seorang pemuda yang menghadap Rasulullah SAW., “Wahai Baginda, aku telah dapat menunaikan seluruh ajaran Islam, kecuali zina.” Mendengar pernyataan pemuda yang terasa agak vulgar tersebut beberapa Sahabat beliau kurang nyaman.

Dengan wajah tenang dan santun Rasulullah SAW. berkata, “Wahai, Pemuda, apakah kamu mempunyai bibi atau saudari perempuan?” Pemuda itu pun menjawab, ”Ya, Rasulullah, aku mempunyai bibi dan saudari perempuan.” Kemudian Rasulullah SAW. bertanya, “Bagaimana perasaanmu jika ada seseorang yang menzinai bibi atau saudari perempuanmu?” Dengan lantang pemuda itu pun menjawab, “Saya akan membunuh seseorang yang berani berbuat kurang sopan terhadap bibi dan saudari perempuanku.” Rasulullah SAW. berkata, “Bagitu pula perasaan orang-orang yang bibi dan saudari perempuannya telah engkau zinai.”

Rasulullah SAW tidak langsung menolak pernyataan spontan dari si pemuda tersebut dengan ceramah, instruksi, dan dalil-dalil tentang keharaman zina. Rasulullah SAW. justru mencoba memahami perasaan pemuda tersebut sambil mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang mendorongnya untuk menjawab sekaligus menghentikan kebiasaan buruknya.

Ketika anak berkata, “Mama jahat.” apakah itu berarti mamanya memang jahat? Saya yakin arti jahat bagi anak kita tidak seperti arti jahat bagi orang dewasa. Mungkin ia kecewa karena mamanya tidak membelikannya cokelat sehingga respon yang lebih pas untuk pernyataan tersebut adalah, “Nak, kamu kecewa karena Mama tidak membelikan cokelat?” Bukan sebaliknya, “Nak, nggak sopan kamu menyebut Mama jahat.”

Dengan menerima terlebih dahulu apa yang disampaikan oleh anak, walaupun sering terasa kurang pas, sebenarnya kita mendapatkan peluang untuk mengetahui maksud dan motif dari pernyatan tersebut, sekaligus membenarkan kata yang ia pilih untuk mengungkapkan perasaannya. Selanjutnya, ia akan lebih mudah menerima pendapat kita karena sebelumnya ia telah merasa diterima oleh orangtuanya.

Miftahul Jinan, M. Pd., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”