Sekolah tidak dapat sepenuhnya mengambil alih tanggung jawab pendidikan anak. Pendidikan anak yang menyeluruh memerlukan peran utama orangtua. Mempercayakan sepenuhnya proses mendidik pada sekolah bisa mengancam masa depan anak. Peringatan Hari Anak Nasional menjadi momen untuk menyadari betapa berharganya anak-anak dan pentingnya peran keluarga.
Pandangan sebagian orangtua yang menganggap sekolah mampu menangani segala aspek pendidikan anak seringkali muncul. Seperti seorang ibu yang mempromosikan sekolah dengan berkata, “Pilih saja sekolah X, dijamin mantap. Kita bisa bekerja tenang tanpa memikirkan anak, karena sekolah akan mendidik dengan profesional.” Pandangan ini mencerminkan pola pikir umum yang mengagungkan peran sekolah.
Fenomena tersebut berkaitan dengan gaya hidup modern. Dalam buku Keine Zeit karya Arlie Hochschild, dijelaskan bagaimana orangtua berjuang membagi peran antara pekerjaan dan keluarga. Penelitian Hochschild menemukan bahwa kehidupan modern seringkali membuat orangtua merasa anak-anak hanya menjadi beban. Meski masyarakat terus menyuarakan “sayang anak”, kenyataannya perhatian terhadap anak kerap berkurang karena kesibukan orangtua.
Kondisi ini juga terlihat di Indonesia. Kalangan ekonomi menengah atas sibuk memperkaya diri, sedangkan kalangan menengah bawah berjuang mempertahankan hidup. Akibatnya, waktu untuk mendampingi anak semakin terbatas.
Banyak orangtua kemudian menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak pada sekolah, bahkan menuntut hasil sempurna karena biaya sekolah yang mahal. Contohnya, seorang wali murid yang berkata, “Saya sudah bayar mahal anak saya sekolah di sini, kok bisa tidak naik kelas?” Padahal, hasil belajar anak sangat dipengaruhi juga oleh peran orangtua di rumah.
Para ahli pendidikan menekankan bahwa pendidikan sejati dimulai dari rumah. Sekolah hanyalah pelengkap untuk hal-hal yang tidak dapat dipenuhi di rumah. Pendidikan karakter dan pengembangan kepribadian yang digembar-gemborkan sekolah tetap membutuhkan keterlibatan orangtua. Buktinya, banyak sekolah yang melibatkan orangtua melalui pertemuan, kunjungan rumah, dan seminar parenting.
Sekolah memang memiliki metode mendidik, namun perubahan pada anak tidak akan maksimal jika hanya terjadi di lingkungan sekolah. Misalnya, jika anak dilatih sholat di sekolah tetapi tidak didukung kebiasaan serupa di rumah, maka anak bisa saja meninggalkan sholat di rumah. Begitu juga dengan kemandirian; jika di sekolah anak dilatih membereskan barangnya sendiri namun di rumah semua dilakukan pembantu, hasil pendidikan kemandirian di sekolah pun tidak akan optimal.
Saran agar tidak mempercayakan anak sepenuhnya pada sekolah bukan berarti anak harus dikeluarkan dari sekolah untuk dididik sendiri. Maksudnya adalah orangtua tetap harus terlibat aktif, bekerja sama dengan sekolah, dan memahami apa saja program yang ada. Orangtua dapat mengkritisi program sekolah jika perlu, serta merancang kegiatan pendukung di rumah.
Mencari ilmu mendidik anak tidak dapat hanya mengandalkan sekolah. Orangtua perlu bertanya kepada guru, mengamati lingkungan, mengikuti seminar parenting, membaca buku, meneladani keluarga yang berhasil, dan memahami keunikan anak-anak sendiri. Dengan begitu, orangtua bisa menemukan pendekatan yang tepat tanpa harus marah atau menghukum.
Anak-anak adalah investasi hidup yang tak ternilai. Demi masa depan mereka, mari kita tata kembali kehidupan keluarga. Jadilah mitra yang solid bagi sekolah dalam mendidik anak-anak kita. Seperti slogan salah satu lembaga pendidikan, let’s back to home, back to family. Luangkan waktu untuk menciptakan rumah yang hangat dan mendukung tumbuh kembang anak.
Selamat Hari Anak Nasional | 23 Juli 2025
Bunda Ani Christina
Tim Ahli Tumbuh Kembang Anak Griya Parenting Indonesia


