Ditunggu Orangtua

Saya sering mendengarkan keluhan dari beberapa Guru kelas satu di SD maupun MI tentang kebiasaan orangtua yang masih menunggu putra-putri mereka. Biasanya mereka bergerombol di depan maupun di samping kelas anaknya. Mereka merasa terganggu dengan perilaku orangtua yang masih sering memberi instruksi bagi anaknya untuk mendengarkan dan memperhatikan Guru saat menjelaskan pelajaran. Pandangan anak-anak selalu tertuju kepada kepala orangtuanya, apakah orangtuanya masih ada di luar kelas atau sudah pergi.

Alasan mereka menunggu adalah tidak tega, kasihan jika anaknya nangis atau karena memang orangrua tersebut tidak ada kegiatan di rumah. Sehingga menunggu menjadi pengalihan aktifitas mereka yang nganggur di rumah.

Saya mencoba untuk melihat masalah ini dari perspektif anak, walaupun sudut pandang guru dan orangtua seperti di atas tidak dapat saya abaikan. Pada kegiatan supervisi di sebuah MI di daerah Madiun, kebetulan banyak orangtua yang masih menunggu anaknya. Saya menemukan beberapa fenomena anak-anak yang masih ditunggu orangtuanya, diantaranya adalah :

1. Anak-anak Menjadi Canggung

Anak-anak yang masih ditunggu orangtua terlihat masih sangat canggung ketika bertindak, bahkan saya bisa mengidentifikasi mayoritas anak yang ditunggu walaupun tanpa bertanya kepada Guru karena kecanggungan mereka dalam bertindak.

2. Terlihat Lebih Ceria Jika Tidak ditunggu Orangtua

Wajah anak-anak yang sudah lama ditinggal orangtua terlihat lebih ceria daripada anak-anak yang masih ditunggu orangtuanya. Karena sebenarnya anak-anak yang sudah ditinggal orangtua mempunyai kebebasan lebih dalam berekpresi daripada anak-anak yang masih ditunggu.

3. Lebih Percaya Diri jika Tanpa ditunggu Orangtua

Kepercayaan diri anak yang masih ditunggu orangtua jauh lebih rendah daripada mereka yang telah ditinggal orangtuanya. Terutama saat mereka diminta menjawab dan maju kedepan oleh gurunya. Karena sebenarnya anak-anak tersebut ada ketakutan jika melakukan kesalahan di depan orangtua mereka.

Berangkat dari fenomena inilah, maka tidak ada alasan apapun yang dapat dibenarkan baik oleh sekolah maupun orangtua untuk masih menunggu anaknya belajar di sekolah. 

Menunggu anak pada hari-hari pertama sekolah adalah madu bagi anak, ini bentuk perhatian orangtua terhadap putra-putrinya. Selanjutnya menunggu mereka pada minggu atau bulan setelahnya justru menjadi racun bagi mereka.

Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

DIrektur Griya Parenting Indonesia