Workshop Sertifikasi Musyrif, Bentuk Komitmen Tingkatkan Mutu Pengasuhan Pesantren

Mojokerto, 30–31 Agustus 2025“Membentuk karakter santri tidak bisa hanya dengan aturan, tetapi dengan kasih sayang, keteladanan, dan keterampilan mendidik. Itulah semangat yang dihadirkan dalam Workshop Sertifikasi Musrif 2025.”

Pondok Modern Al-Firdaus Pacet Mojokerto menjadi saksi dari komitmen para pengasuh pondok pesantren dalam meningkatkan kualitas diri. Selama dua hari, 30-31 Agustus 2025, 43 peserta dari 10 pondok pesantren di Mojokerto dan Jombang berkumpul untuk mengikuti Workshop Sertifikasi Musyrif, sebuah program peningkatan mutu pengasuhan pesantren yang digagas oleh Griya Parenting Indonesia.

Pondok Modern Al Firdaus Pacet Mojokerto bersama Griya Parenting Indonesia sukses menyelenggarakanProgram Peningkatan Mutu Pengasuhan Pesantren melalui Workshop Sertifikasi Musrif. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Riung Education Center, Riung Mining Contractor, Baitul Maal Hidayatullah, dan Ummi Foundation. Program dirancang dengan tujuan agar wali asrama atau musyrif mampu memahami nilai dan karakter pribadinya, berperan lebih efektif sesuai kebutuhan santri, menciptakan suasana hangat, memberikan penghargaan yang inspiratif, menegur santri secara bijaksana, serta memiliki kerangka berpikir logis dalam memberikan konsekuensi.

Dalam sambutannya, Pimpinan Pondok Modern Al Firdaus Mojokerto, Bapak Samsul Abadi, menegaskan bahwa workshop ini merupakan “cangkir ilmu pengetahuan yang nantinya akan diaplikasikan di lembaga masing-masing, sehingga bermanfaat bagi kita, lembaga, dan juga santri-santri kita.”

Selama dua hari pelaksanaan, suasana workshop berjalan penuh antusiasme. Para peserta aktif dalam diskusi, ice breaking, maupun simulasi interaktif yang dipandu oleh pemateri berpengalaman diantaranya; Drs. Mitahul Jinan, M.Pd.I., LCPC, Farda Khoirul Roin, S.Psi., dan Anwari Nuril Huda, S.Sos.I., M.A.. Kehangatan, keceriaan, dan semangat belajar mewarnai setiap sesi, menjadikan kegiatan ini bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter bagi para musyrif.

Workshop ini membuktikan bahwa pengasuhan di pesantren membutuhkan sentuhan hati, keteladanan, serta kompetensi yang terus ditingkatkan. Dengan bekal yang diperoleh, para musyrif diharapkan mampu melahirkan suasana pengasuhan yang humanis, penuh empati, dan bernilai mendidik.

Menutup kegiatan, para peserta sepakat bahwa ilmu yang diperoleh bukan sekadar teori, melainkan energi baru untuk membimbing generasi penerus dengan cara yang lebih bijaksana. Sebab pada akhirnya, mendidik santri adalah mendidik kehidupan—dan kehidupan itu akan menjadi warisan terbaik bagi masa depan bangsa. (EA)