Anak Belajar Saat Ia Jatuh

Menjelang kepergian ke Timor Leste pekan lalu, saya mendapatkan tamu yang sangat istimewa. Seorang keponakan yang sedang tugas belajar di Mesir pulang ke Indonesia beserta suami dan putranya yang masih berumur dua tahun, untuk liburan kuliah dan karena kondisi Mesir yang kurang kondusif.

Saat kami sedang asyik berdiskusi dengan sang bapak tentang kabar terakhir negara Mesir, anak dua tahun tersebut juga asyik berekplorasi pada lingkungan rumah, dari naik tangga maupun turun tangga, hingga menarik meja tamu. Itu semua dilakukannya dengan selalu didampingi oleh ibunya yang begitu sayang terhadap anak semata wayangnya.

Sampai pada satu moment saya meminta kepada ibunya untuk agak menjauh dari anak tersebut dan tidak menyentuhnya. Saya melihat sedikit keraguan dari ibu tersebut terhadap permintaan saya dan akhirnya memang ia agak mengambil jarak dari anak dan tidak menyentuh tubuhnya.

Tetapi tiba-tiba kepala anak itu membentur jendela yang ada pada sisi tangga kemudian menangis. Ibunya sempat memandang saya seolah mengatakan, “Ini lho om akibatnya jika saya tidak mendampinginya dari dekat”.

Saya menanggapinya dengan santai dan berusaha meyakinkannya bahwa itulah salah satu di antara sekian banyak peristiwa yang harus dialami oleh anaknya. Di mana untuk selanjutnya anakpun tidak pernah mengalami peristiwa serupa karena Ia telah belajar dari peristiwa yang lalu.

Anak belajar dari peristiwa-peristiwa yang dilaluinya di dalam hidupnya. Orangtua tidak mungkin selalu menghindarkan mereka dari peristiwa yang kurang baik dan mencarikan peristiwa-peristiwa yang baik. Tugas orangtua hanyalah menghindarkan dari anak pada peristiwa yang terlalu berat dihadapi dengan akibat yang terlalu fatal.

Karena pada setiap peristiwa yang pernah dialami oleh anak baik peristiwa positif maupun negatif akan memaksa anak belajar dan untuk selanjutnya Ia telah siap untuk menghadapi peristiwa yang lain yang lebih menantang dan lebih komplek.

Maka biarkanlah anak untuk bersenang-senang dengan pengalaman kecil mereka dan akhirnya mereka akan tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri, percaya diri, berani mengambil resiko dan ceria.

Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”