Bonding : Ketika Mushrif Menyiram dengan Hati

Bayangkan sebuah taman yang indah. Ada bunga-bunga yang baru tumbuh, masih rapuh, mudah layu. Setiap pagi, tukang kebun datang—membawa gembor air. Tapi ia menyiram sekadarnya, sambil melihat jam tangan. Tidak ada senyum, tidak ada tatapan penuh kasih. Lalu ia pergi. Air memang sampai ke akar. Tapi bunga-bunga itu tidak tumbuh penuh cinta.

Begitulah santri di pesantren, bila hanya mendapat pengawasan tanpa kehadiran hati. Mereka disiplin, iya. Tapi jiwa mereka bisa kering bila sang mushrif hanya hadir sebagai penjaga jadwal, bukan penjaga jiwa.

1. Lebih dari Sekadar Pengasuh

Banyak orang mengira mushrif itu hanya “pengawas asrama”. Padahal, dalam tradisi pendidikan Islam, peran mushrif jauh lebih besar: ia adalah jembatan antara ilmu dan akhlak, antara aturan dan cinta.

Di pondok, seorang kiai mungkin memberi arah besar, para guru memberi ilmu, tapi mushrif-lah yang paling banyak hadir dalam keseharian santri. Ia melihat bagaimana santri bangun, makan, belajar, salat, bahkan bagaimana mereka menahan rindu kepada orangtua.

Bonding — hubungan hati antara mushrif dan santri — menjadi fondasi yang tidak terlihat, tapi menentukan segalanya. Tanpa bonding, semua nasihat seperti air yang jatuh di atas daun talas.

2. Masuk Telinga Kiri, Keluar Telinga Kanan.

Mushrif itu ibarat montir di bengkel jiwa. Setiap santri datang dengan “mesin” yang berbeda-beda: ada yang cepat panas, ada yang macet start, ada pula yang mesinnya halus tapi performanya turun. Montir yang baik tidak langsung memukul mesin dengan palu. Ia mendengarkan bunyi halusnya, mencium aromanya, lalu memperbaikinya dengan sabar.

Demikianlah mushrif. Ia tidak sekadar memberi perintah, tapi memahami dari mana masalahnya muncul. Kadang, anak yang sulit bangun Subuh bukan malas — tapi sedang kehilangan semangat. Kadang, santri yang suka diam bukan sombong — tapi sedang menahan rindu. Dan mushrif yang punya bonding akan tahu itu. Karena ia bukan hanya melihat perilaku, tapi membaca hati.

3. Teladan Rasulullah: Menyentuh Sebelum Mengajar

Rasulullah ﷺ tidak hanya menjadi guru, tapi sahabat bagi para sahabatnya. Beliau menyapa dengan nama, menepuk bahu, bercanda, dan memanggil dengan panggilan yang membuat mereka merasa dihargai.

“Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari golongan kalian sendiri; berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, dan amat penyayang lagi penyantun terhadap orang-orang mukmin.” (QS. At-Taubah: 128)

Itulah dasar pendidikan hati: kasih sayang sebelum perintah. Para sahabat taat bukan karena takut, tapi karena cinta. Dan cinta tumbuh karena kehadiran.

Begitu juga di pesantren. Mushrif yang hanya menegur, tapi tak pernah menegur dengan hati, akan kehilangan ruh pengasuhan. Tapi mushrif yang mendekati santrinya dengan kasih, meski tegas, akan diteladani.

4. Ketika Santri Takut, Tapi Rindu

Ada mushrif yang disegani, tapi tak dirindukan. Dan ada mushrif yang ditakuti, tapi dicintai diam-diam. Yang pertama mungkin berhasil menjaga disiplin, tapi gagal menumbuhkan kedekatan.

Yang kedua, meski keras, tetap disayang — karena santri tahu: di balik ketegasannya ada cinta yang tulus.

Bonding tidak lahir dari kelembutan semata, tapi dari ketulusan niat dan konsistensi perilaku.

Santri punya radar tajam: mereka tahu siapa yang benar-benar peduli, dan siapa yang hanya menjalankan tugas.

5. Ruang Makan, Lapangan, dan Waktu Maghrib

Bonding tidak tumbuh di ruang rapat atau jadwal formal. Ia tumbuh di tempat-tempat kecil: di ruang makan ketika mushrif duduk di antara santri sambil bercanda ringan, di lapangan saat ia ikut bermain bola, atau saat Maghrib, ketika mushrif bertanya pelan, “Kamu kelihatan sedih, kenapa?”

Kalimat sederhana itu bisa mengubah hari seorang santri. Bisa membuatnya merasa dilihat, diakui, dan diterima. Dan di situlah pengaruh pendidikan bekerja — bukan dari kata-kata, tapi dari perhatian.

6. Bonding Melahirkan Ketaatan Tanpa Paksaan

Ketaatan sejati tidak lahir dari ketakutan, tapi dari kepercayaan. Jika santri percaya pada mushrifnya, ia akan patuh bahkan tanpa diawasi. Sebaliknya, jika tidak percaya, semua aturan hanya berlaku di depan mata pengawas.

Bonding menjadikan pengasuhan tidak memaksa, tapi mengalir. Mushrif tidak lagi perlu berteriak untuk menegakkan aturan, cukup hadir dengan wibawa yang lahir dari kasih. Karena hati yang merasa dekat akan lebih mudah diarahkan daripada hati yang tertutup.

7. Keteladanan yang Menghidupkan

Satu hal yang sering dilupakan: bonding tidak dibangun dengan banyak bicara, tapi dengan banyak menjadi. Santri melihat, bukan sekadar mendengar. Ketika mushrif sabar saat dimarahi atasan, mereka belajar menahan diri. Ketika mushrif bangun lebih awal untuk tahajud, mereka belajar tanpa disuruh.

Ketika mushrif minta maaf saat salah, mereka belajar rendah hati. Maka, bonding sejati lahir dari keteladanan yang konsisten, bukan dari petuah panjang. Sebab anak muda tidak butuh banyak teori tentang akhlak; mereka butuh contoh nyata.

8. Mewariskan Kehangatan

Suatu hari, santri-santri itu akan pulang ke kampung, menjadi guru, pemimpin, atau ayah.

Mereka mungkin lupa siapa yang pertama kali memberi hafalan, tapi mereka akan selalu ingat siapa yang pertama kali mendengarkan keluhannya dengan sabar. Itulah warisan mushrif sejati: jejak kasih dalam jiwa muridnya. Dan dari kasih itulah tumbuh generasi yang mencintai kebaikan, bukan sekadar menaati peraturan.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

DIrektur Griya Parenting Indonesia

________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.