Mengais Hikmah di Balik Musibah

Beberapa waktu yang lalu putra kedua saya memberikan sebuah amplop berisi surat permohonan bantuan gunung Kelud atas nama sekolahnya. Saya langsung membacanya dan memberikan sejumlah uang untuk dimasukkan dalam amplop tersebut. 

Saya membatin inilah teknik sekolah untuk mendidik siswanya untuk lebih peduli kepada sesama terutama yang terkena musibah. Namun saya mulai merenung cara di atas memang bagus, namun ada yang lebih baik yaitu dengan meminta dari sebagian uang anak untuk mereka berikan bersamaan dengan donasi kita. Toh anak-anak sekarang mempunyai sejumlah uang sebagai simpanan mereka.

Merasakan sendiri berkurangnya uang untuk dishadaqahkan tentunya jauh lebih bermakna daripada sekedar menjadi jembatan sedekah dari orangtuanya kepada panitia di sekolah.

Saya justru menemukan beberapa orangtua yang melakukan lebih dahsyat dari teknik di atas, mengajak anaknya untuk berdagang barang-barang bagus di rumahnya yang tidak dipakai lagi dan seluruh hasil keuntungan dagang mereka diberikan kepada saudara mereka yang tertimpa musibah. Subhanallah.

Hadirnya musibah juga dapat menginspirasi kita apakah anak-anak kita telah kita didik untuk lebih siap menghadapi musibah sebagaimana kita telah mempersiapkan mereka untuk sukses. Karena cobaan atau musibah dan kenikmatan adalah fenomena dalam hidup mereka. Kita sebagai orangtua harus mempersiapkan mereka untuk tegar di dalam menghadapi setiap musibah atau nikmat.

Ada beberapa sikap orangtua yang saya cermati kurang didalam membangun kesiapan mental anaknya di dalam menghadapi musibah, diantaranya:

1. Orangtua Tidak Rela Jika Melihat Anaknya Mengalami Kesusahan.

Biasanya orangtua yang berada pada posisi di atas akan langsung turun tangan membantu saat melihat anaknya kewalahan menghadapi PR nya. Seharusnya orangtua tetap menjaga jarak dari membantu anak walaupun mereka harus tetap memotivasi anak untuk menyelesaikan pekerjaannya

2. Orangtua yang Selalu Menuruti Keinginan Anaknya.

Anak yang selalu mendapat perlakuan seperti ini akan menganggap bahwa hidup begitu mudah di dalam mendapatkan apa yang diinginkannya. Dan saat Ia benar-benar menghadapi kerumitan maka Ia tidak siap dan cenderung mudah mengalah.

3. Orangtua yang Tidak Siap Melihat Anaknya Mengalami Kegagalan Kecil.

Seperti anak yang mencoba menggeser kursi sedikit demi sedikit kemudian kursi tersebut terjatuh dan orangtua langsung menyalahkan dan tidak memberi kesempan bagi anaknya untuk mencoba lagi.

Anak seperti ini sangat miskin pengalaman didalam mencoba yang akhirnya berhasil. Anak-anak perlu mengalami kegagalan-kegalan kecil di dalam hidupnya, dan mereka belajar bahwa di balik kegagalan tersebut mereka mendapatkan keberhasilan besar

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

_____________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.