Saat Kondisi Tidak Sempurna

Idealnya seorang anak mendapatkan pengasuhan yang baik dari kedua orangtuanya serta kakek-neneknya. Di mana anak-anak dengan mudah melihat contoh-contoh kebaikan dari mereka serta melihat standar-standar perilaku yang baik dari orang-orang tersebut. Sang ibu meminta anak meninggalkan televisi untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid, dan ayahpun sudah siap dengan sarung dan sajadahnya untuk pergi ke masjid.

Namun kenyataan sering menunjukkan kondisi sebaliknya, ada salah satu dari orangtua di rumah yang kurang mendukung di dalam proses pendidikan anak. Sang ibu begitu lembut dan bijak di dalam menyikapi sikap “nakal” anaknya, namun sebaliknya sang ayah begitu kasar dan tergesa-gesa di dalam merespon sikap tersebut. Atau sebaliknya sang ayah memberikan waktu yang panjang untuk memperhatikan anaknya, dan sang ibu tidak ada waktu lagi untuk sang buah hati.

Dengan perbedaan yang sangat tajam antara bapak dan ibu di dalam mendidik anak, tentunya akan menempatkan anak pada situasi yang sulit. Bahkan seringkali menimbulkan dampak negatif pada anak; seperti sulitnya untuk taat pada aturan rumah karena aturan yang diterapkan oleh bapak dan ibu sangat berbeda, atau anak yang sering berbohong karena menjumpai satu dari orangtuanya sering berbohong sementara yang lain selalu jujur.

Ada satu firman Allah yang dapat kita jadikan sebagai pegangan bagi kita orangtua di dalam pengasuhan anak, surat Luqman ayat 15.

“Dan apabila keduanya (ayah dan ibu) memaksamu untuk menyekutukan Aku dgn apa-apa yg tdk ada ilmu padanya, jangan taati kedua dan bergaul lah dalam kehidupan dunia dgn peruntukan yg ma’ruf (baik) dan ikutilah jalan orang-orang yg kembali kpd-Ku kemudian ha kpd-Ku lah kembalimu, maka Ku-beritakan kpdmu apa-apa yg telah kamu kerjakan“.

Ayat ini mendorong kepada kita orangtua membantu anak untuk tetap hormat dan sayang kepada kedua orangtuanya, bahkan saat mereka berdua atau salahnya kurang memberikan contoh yang baik bagi anaknya.

Apa yang harus dilakukan oleh salah satu dari orangtua yang kebetulan lebih baik dan lebih menyadari keadaan;

1. Mengajak Anak untuk Berfikir Tidak Semua Sempurna sesuai Harapan.

Bahkan kedua orang tua anak sendiri bukanlah pribadi yang sempurna. Anak diajak untuk bersikap yang bijak di dalam menghadapi ketidaksempurnaan tersebut. Ada ruang untuk saling menolong pada ketidak sempurnaan. Kelemahan bapak bisa dibantu oleh ibu untuk menguatkannya, bahkan kekuatan anak adalah sarana untuk mengurangi kelemahan orang tuanya.

2. Membiasakan Anak untuk Melihat Sisi Positif dari Orangtua

Mendorong anak untuk lebih melihat sisi kebaikan dari orangtua tersebut, dibandingkan berkutat pada aspek negatifnya. Dorongan yang baik ini sangat membantu anak lebih berfikir positif terhadap kelemahan salah satu orang tuanya, dan membantu mereka untuk mencontoh yang baik saja dari orang tuanya.

3. Mengajak Anak untuk Mendoakannya semoga Allah Segera Memberi Hidayah.

Proses untuk mengajak anak untuk mendoakan orangtua yang belum baik membutuhkan kejernihan fikiran dan hati yang luas dari orangtua yang baik. Insya Allah hasilnya adalah menghindarkan anak untuk mencontoh bagian yang jelek dari orangtuanya dan menjadi kelompok yang mengajak pada kebaikan orangtuanya.

4. Menyadarkan Anak Bahwa itu Semua sebagai Ujian.

Ujian yang dimaksud adalah cobaan yang menggairahkan kita, bukan beban yang harus ditanggung. Ujian yang menggairahkan tentu sangatlah berbeda dengan beban yang harus ditanggung. Ujian adalah syarat untuk menaikkan derajat lebih bernuansa positif, sementara beban adalah hambatan untuk meningkatkan diri dan lebih bernuansa negatif.

Saat kondisi rumah belum sempurna, bukan saatnya untuk menyalahkan bahkan mengajak anak untuk mencari kambing hitam. Tetapi ini saatnya untuk menyadarkan anak bahwa tidak semua sesuai harapan kita. Justru kitalah adalah bagian yang akan menyempurnakan anak.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC

DIrektur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.