Anak Mandiri dan Bertanggungjawab

Banyak orangtua yang mengeluhkan anaknya yang tengah duduk di kelas V Sekolah Dasar masih sering harus diingatkan tentang PR dan tugas sekolah lainnya. Bahkan mereka begitu santai menghadapai ujian kenaikan kelas yang akan dilaksanakan minggu depan. Akhirnya, orangtualah yang sibuk mencarikan guru les atau mendaftarkan mereka ke lembaga bimbingan belajar untuk memastikan mereka siap menghadapi ujian tersebut.

Dengan cara di atas, beban mempersiapkan anak untuk siap ujian memang telah lepas dari pundak orangtua, namun apakah dengan sikap tersebut  akan tumbuh  kemandirian dan rasa tanggung jawab anak terhadap tugas belajarnya pada masa-masa yang akan datang? Di sinilah teknik mendidik anak untuk mandiri dan tanggung jawab perlu dipahami oleh orangtua.

PENDIDIKAN KEMANDIRIAN DAN TANGGUNGJAWAB

Untuk mendidik anak agar lebih mandiri dan bertanggungjawab di dalam belajar tidak cukup dengan meminta anak untuk belajar dan menjelaskan tentang manfaatnya. Thomas Lickona menyebutkan ada tiga tahapan  yang harus dilalui anak untuk memastikan kedua karakter tersebut terbangun.

Pertama, tahap moral knowing, yaitu menumbuhkan kesadaran akan pentingnya belajar dan memastikan bahwa anak mempunyai alasan kuat untuk belajar. Kedua, tahap moral feeling, yaitu menumbuhkan rasa percaya diri atas kemampuan anak untuk belajar dan membantu untuk merasakan kenikmatan di dalam belajar. Ketiga, tahap moral action, yaitu memastikan anak mempunyai habit belajar (membaca) dan membangun keinginan mereka untuk berprestasi dalam belajar.

Beberapa orangtua mungkin mempunyai pandangan yang berbeda tentang tanggung jawab belajar anak dan tanggung jawab terhadap barang-barang miliknya. Anak tidak perlu dibebani kewajiban-kewajiban, seperti mengurus kamar, alat permainan, dan kebersihan dirinya karena mereka sudah sangat sibuk dengan kewajiban prioritas, yaitu belajar.

Padahal dengan belajar bertanggungjawab atas hal-hal yang lebih konkret dan mudah dievaluasi seperti di atas dapat menjadi jembatan bagi anak untuk bisa bertanggungjawab terhadap aktivitas belajarnya. Sesuatu yang agak abstrak dengan evaluasi yang memerlukan waktu yang panjang.

Dengan tiga tahapan di atas, orangtua dapat memulai pendidikan kemandirian dan tanggung jawab anak-anak secara tidak langsung melalui kegiatan belajar. Namun, sejak dini anak sudah harus dilatih dalam kegiatan-kegiatan yang lebih konkret dengan manfaat yang lebih mudah dirasakan dan dievaluasi secara langsung oleh anak, seperti mendidiknya untuk bertanggungjawab terhadap kebersihan diri, alat-alat sekolah, kamar pribadinya, dan lain sebagainya.

Berikut ini ada beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk membangun kemandirian dan tanggung jawab anak. Langkah-langkah ini terlihat tidak ada hubungannya dengan kegiatan belajar mengajar tapi dapat menjadi pondasi bagi tumbuhnya tanggungjawab dan kemandirian anak pada kegiatan-kegiatan lainnya, termasuk belajar.

1. Membiasakan Anak untuk Merawat Tubuhnya Sendiri.

Orangtua bisa melakukan langkah ini dengan cara meminta anak untuk mandi sendiri secara teratur setiap pagi dan sore hari. Usahakan agar penataan kamar mandi memperhatikan kepentingan dan kebutuhan anak, seperti meletakkan sabun dan gantungan pakaian dalam jangkuan anak.

Anak perlu juga belajar menggosok gigi sendiri secara teratur tanpa diingatkan. Jika anak harus mengonsumsi obat atau vitamin, maka untuk pertama kalinya orangtua dapat menyiapkan dan mengingatkan anak.

Untuk selanjutnya, orangtua dapat meletakkan obat dan vitamin tersebut di (di dekat) meja makan dan meminta anak untuk melakukannya sendiri. Ajari anak untuk mengingat sendiri kapan mereka harus melakukan itu.

2. Menata Buku Pelajaran Sendiri.

Pada usia sekolah dasar, anak sudah harus bertanggungjawab terhadap kebutuhan-kebutuhan sekolahnya. Orangtua dapat menempelkan atau meletakkan kalender dan jadwal pelajaran di dekat lemari buku. Orangtua juga perlu mengajari anak untuk menyiapkan buku-buku sesuai dengan jadwal pelajaran. 

3. Mengerjakan PR dengan Mandiri.

Pada jenjang sekolah dasar, anak mulai mendapatkan pekerjaan rumah dari sekolah. Jumlah dan tingkat kesulitan pekerjaan rumah bisa bervariasi. Di beberapa sekolah, anak bisa mendapatkan pekerjaan rumah yang cukup berat dan banyak.

Walaupun orangtua merasa kasihan dan tidak tega melihat beban anak, tidaklah bijak jika orangtua mengambil alih mengerjakan pekerjaan rumah milik anak. Jika hal ini dilakukan, maka anak akan terbiasa untuk melemparkan tanggungjawabnya kepada orang lain.

Orangtua dapat mengajak anak untuk mengatur jadwal hariannya dan menyisihkan waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Anak perlu didampingi ketika mengerjakan pekerjaan rumahnya. Jika dia mengalami kesulitan, maka orang tua dapat mengajari dan memberinya penjelasan. Jika dia merasa lelah dan putus asa, maka orang tua bisa mendorong dan menyemangatinya. 

4. Mengajari Anak untuk Menyelesaikan Permasalahannya Sendiri.

Ketika anak sedang bermasalah dengan temannya, orangtua tidak perlu ikut campur dan memusuhi teman tersebut. Orangtua bisa mengajarinya bagaimana menghadapi temannya tersebut tapi jangan mengambil alih permasalahannya. Jika anak mendapatkan penilaian yang kurang benar dari guru, mungkin orangtua terbebani untuk mendatangi guru tersebut dan membelanya.

Jika orangtua merasa permasalahan itu terlalu kompleks untuk dihadapi sendirian oleh anak, maka orangtua bisa menemui guru tersebut tanpa sepengetahuannya supaya dia tidak terlalu menggantungkan intervensi dari orangtua. Di rumah, orangtua bisa mengajarinya untuk mempertahankan haknya dengan sikap dan bahasa yang santun.

5. Membiasakan Anak untuk Merapikan Mainan.

Orangtua bisa menyediakan lemari, rak, atau kotak mainan untuk menyimpan mainan anak dan meletakkannya di tempat yang mudah dijangkau oleh anak. Jangan membeli lemari atau rak yang terlalu tinggi. Biasakan anak untuk merapikan mainannya sendiri setiap selesai bermain.

Orangtua dapat mengajari anak suatu sistem penyimpanan berdasarkan kategori mainan, misalnya rak boneka, kotak penyimpan mobil-mobilan, dan sebagainya. Sistem pengkategorian ini akan memudahkan pencarian kembali mainan ketika dibutuhkan.

Selamat mencoba, semoga putra-putri kita lebih mandiri dan lebih bertanggungjawab atas apa yang mereka hadapi.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Tips Instan Mendidik Anak”

_______________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.