Konsultasi Seputar Memimpin Pesantren dengan Kasih Sayang

Bincang Pesantren pada Rabu, 19 November 2025 menghadirkan KH. Muhammad Idris sebagai narasumber dengan tema “Memimpin Pesantren dengan Kasih Sayang“. Beliau adalah Pimpinan Pondok Pesantren Al Hasyimiyyah Pangkalan Bun Kalimantan Tengah, Kepala sekolah SMP Teladan Se-Kabupaten Kotawaringan Barat Tahun 2005, Ketua Yayasan Annida Alhusna Pangkalan Bun tahun 2020 – Sekarang, dan Pendiri Yayasan Dzikrullah Dzikron Katsiron Pangkalan Bun tahun 2024.

Selama sesi berlangsung ada banyak pertanyaan yang masuk, sebagian terjawab, sebagian yang lain masih belum. Sebagai bentuk layanan kami kepada peserta webinar, kami menghubungi narasumber dan memohon kebersediaannya untuk menjawab pertanyaan yang sudah masuk secara tertulis. Alhamdulillah beliau berkenan.

Bagaimana jika pesantren sudah “mendarah daging” sistem iqob atau hukuman bagi pelanggar dengan cara marah, iqob dan tidak menimbulkan sayang atau terputusnya kasih sayang? (Ustadzah Rima)

Sebaiknya peraturan itu dievaluasi bersama. Bila realitanya dengan adanya peraturan itu jadi tumbuh sifat kasih dan sifat sayang diantara sesama guru/ musyrif dengan para santrinya, begitupun para santrinya dengan guru/musyrifnya. Sebaiknya peraturan itu tetap diberlakukan. Begitupun sebaliknya.

Bagaimana meyakinkan atasan agar ia tidak meng-iqob santri jika bersalah, tetapi terapkan “kasih sayang” atau melihat sisi positifnya santri tersebut?

Selama di pondok, setiap individu santri berbuat baik/ taat dan terkadang berbuat buruk/pelanggaran. InsyaAllah kebaikannya santri sangat banyak. Sedang dia berbuat melanggar sedikit sekali.

Ketika santri berbuat baik harus dikenali dan diperhatikan. Ketika berbuat salah/melanggar wajar ada iqob/ hukuman. Apakah guru/ musyrif sudah mengenali dan memperhatikan serta mengapresiasi atas kebaikan kebaikan yang dilakukan oleh santri sehari hari selama dia di pondok? Bila sudah. Alhamdulillah.

Bila belum dan hanya memberi iqob. Tentu belum ada keseimbangan dalam pembelajaran terhadap santrinya.

Bagaimana mengubah mindset petinggi (yayasan), guru dan musyrif agar tertanam kasih dan sayang sesama nya dan menerapkan “lihat sisi positif anak atau individu tersebut” dan tidak melihat sisi negatifnya?

Semua penghuni pondok dilatih bersama sama untuk fokus melihat kebaikan sesama penghuni pondok. InsyaAllah ikhtiyar ini bisa merubah mindset sebelumnya.

Jika banyaknya guru yang tidak suka atau tidak faham dengan konsep ini, apa yang harus kita lakukan?

Bila tidak suka. Ubahlah jadi suka dengan pendekatan yang baik. Karena kebaikan itu disukai oleh semua orang tanpa terkecuali.

Bila tidak paham. Ya pahamkan sampai paham. Apakah maunya seperti keadaan saat ini atau berubah. Tentu ada konsekuensinya. Terima kasih Ustadzah Rima. Jazaakumullah atas amal sholehnya

Bagaiman menghukum dengan kasih sayang supaya tidak marah atau melukai hati? (Ustadz Aziz Al Abrar Mojogedang)

  1. Pantau dan perhatikan kebaikan kebaikan yang dilakukan santri santrinya sehari hari.
  2. Kenali kebaikan kebaikan yang dilakukan oleh santri-santrinya sebanyak banyaknya yang bisa musyrif lakukan.
  3. Perlihatkan dan perdengarkan kebaikan kebaikan yang sudah dilakukan para santrinya di hadapan para santri itu sendiri.
  4. Apresiasi setiap kebaikan yang dilakukan oleh santri. Baik kebaikan individu maupun kebaikan yang dilakukan dengan bersama sama.
  5. Setelah kegiatan amal sholeh di atas ini dilakukam oleh guru/ musyrif kepada santri-santrinya. InsyaAllah musyrif bisa menghukum santrinya yang melanggar dengan kasih sayang. Terima kasih Ustadz Aziz atas amal sholehnya mengikuti webinar ini. Jazaakumullah.

Bagaimana cara menumbuhkan kesadaran santri untuk bisa shalat tepat waktu atau terbiasa menunggu waktu shalat? (Ustadz Abdul Salam)

Ajarkan dan pahamkan santrinya:

  1. Sholat itu afdolul a’mal. Amalan istimewa. Istimewanya apa? Kasih tahu ke santrinya.
  2. Bacaan dan gerakan sholat yang benar.
  3. Isi isi sholat. Isinya apa saja. Ajarkan.
  4. Manfaat sholat itu apa saja. Ajarkan.
  5. Balasan orang yang sholat. Kasih tahu.
  6. Yang diajarkan pada santri santrinya sebaiknya disertakan pula dalil nya. Baik dari alquran
    maupun hadits.

InsyaAllah bila santri sudah diajarkan ini mereka akan tumbuh kesadaran untuk sholat. Dilakukan tepat diawal waktu ataupun belum diawal waktu. Dia tetap akan melakukan sholat. Berjamaah ataupun munfarid. Terima kasih Ustadz Abdul Salam atas amal sholehnya ikut webinar ini. Jazaakumullah.

Bagaimana cara menumbuhkan jiwa bangun pagi secara mandiri untuk anak dengan kasih sayang? (Ustadz Amal AABS Purwokerto)

  1. Di motivasi betapa istimewanya bangun pagi secara mandiri alias tidak perlu dibangunkan oleh musyrif atau orang lain. Sebaiknya yang memberi motivasi adalah beberapa musyrif pelaku bangun pagi mandiri di mata para santri. Perdengarkan bagaimana kronologinya para musyrif bisa bangun mandiri.
  2. Lihat dan pantau terus sampai menemukan ada santri yang bisa bangun pagi secara mandiri.
  3. Bila mendapatkan ada santri yang bangun mandiri. Segera apresiasi dia. Bila perlu kasih dia hadiah. Perdengarkan terus menerus bangun mandirinya kepada sesama santri. Kasih tahu juga kepada musyrif musyrifah yang lain dan diminta untuk mengapresiasi kepada santri tersebut.
  4. Suruh santri tersebut berbicara didepan para santri sekamarnya tentang kenapa dia bisa bangun pagi secara mandiri. InsyaAllah akan bertambah jumlah santri yang bisa bangun pagi secara mandiri.
  5. Doakan dan pintakan kepada Allah terus menerus agar para santrinya dimudahkan Allah bisa bangun pagi secara mandiri.

Melekatkan 1 karakter pada para santri perlu proses dan waktu yang cukup lama. Maka lakukan kegiatan diatas terus menerus sampai karakter bangun pagi mandiri bisa dilakukan oleh banyak santri. Terima kasih Ustadz Amal atas keikutsertaanya di webinar ini. Jazaakumullah wa ahlikum ajmain ahsanal jazaa’

Bagaimana cara kita menghindari kata yang bisa menimbulkan kekerasan verbal? (Ustadz Zainul PTQ Nurul Fath Lawang)

Di antara ikhtiar yang kita lakukan adalah:

  1. Kita fokus berbicara tentang kebaikan kebaikan saja. Karena dengan seperti itu akan melatih keluarnya kata kata yang baik.
  2. Kita perbanyak lihat orang orang sholeh ketika mereka berbicara. Kita jadikan inspirasi dalam berbicara.
  3. Kita berdoa kepada Allah agar dimudahkan berbicara dengan kata kata yang baik dan terhindar dan dihindarkan dari kata kata yang bisa menimbulkan kekerasan verbal. Terima kasih atas amal sholehnya dengan mengikuti kegiatan webinar ini. Jazaakumullah ahsanal jazaa.

Sentuhan fisik ke santri laki-laki dengan tujuan kasih sayang dan membangun bonding ke santri seperti apa? dan sampai di mana batasannya? (Ustadz Febriadi Markaz Imam Malik Makassar)

Alhamdulillah.
Tentang mengasihi dengan cara menyentuh fisik [ guru laki laki kepada santri laki laki ] dengan mengusap kepala atau punggung atau memegang pipi ini sepengetahuan kami belum ada dasarnya. Ditempat kami berda’wah, kami lakukan dengan berjabat tangan disertai senyuman saat bertemu atau berpapasan dengan santri.

Khusus santri usia Sekolah Dasar terkadang kami sertai juga dengan mengusap kepala sebagai tanda kasih sayang. Dan ini tidak kami lakukan kepada santri yang usia SMP dan SMA. Responnya mereka kurang suka. Karena mereka merasa diperlakukan sebagai anak anak yang masih kecil [anak usia SD]. Ini pengalaman di pondok kami yang bisa kami informasikan. Demikian jawaban dari kami berbagi pengalaman dalam beramal sholeh di pondok pesantren.

Terima kasih atas keikutsertaannya dalam webinar yang diselenggarakan oleh Griya Parenting Indonesia.

Apakah di pondok pesantren sebaiknya tidak ada reward dan punishment, sementara Allah kan menyediakan surga dan neraka? (Ustadz Zainul PTQ Nurul Fath Lawang)

Selalu ada reward dan punishmen. Bedanya kita fokus pada reward dulu. Ini yang harus kita lakukan. Setelah reward menjadi karakter pada diri kita, insyaAllah punishment akan menumbuhkan terlihatnya indahnya kebaikan yang harus kita lakukan dengan kesadaran. Di pondok pesantren realitanya masih banyak yang fokus punishment daripada reward-nya. Para santri lebih paham punishment dibanding reward. Ini pola pikir yang belum baik. Dan perlu diperbaiki. Terima kasih atas amal sholehnya dengan mengikuti webinar ini. Jazaakumullah ahsanal jazaa.

Demikian kumpulan jawaban dari KH. M. Idris. Semoga ada kebaikan dan manfaat yang bisa kita ambil untuk diterapkan di lembaga kita. Amin..

Kami mengundang Ustadz/ah untuk mengikuti webinar BINCANG PESANTREN yang insyaAllah akan diselenggarakan setiap bulan bersama narasumber dengan tema-tema menarik. Bismillah