Sore itu, putra kedua saya (Faruk) datang menghampiri saya sambil menunjukkan sebuah mangga masak yang telah separuh ia sedot airnya. Jenis mangga tersebut memang lebih nikmat jika tidak dikupas tetapi dengan dipijit-pijit hingga empuk kemudian disedot airnya dengan mulut. Ia menawari saya untuk turut menikmatinya sambil mengatakan bahwa mangganya sangat manis dan segar.
Melihat mangga yang asing karena di lingkungan kami tidak ada satu warung pun yang menjual mangga, saya segera menanyakan tentang asal-muasal mangga tersebut. Dengan sedikit terkejut atas pertanyaan saya ia menjawab bahwa mangga tersebut ia temukan di bawah pohon mangga milik tetangga.
Kemudian saya bertanya kembali apakah ia mendapatkan mangga tersebut karena diberi oleh tetangga atau sudah meminta izin kepada yang punya. Pertanyaan kedua ini menjadikan anak saya bertambah bingung. Akhirnya, saya mengetahui bahwa anak saya memang sekedar mengambil buah mangga di bawah pohonnya dan belum meminta izin.
Segera saya mendorongnya untuk meminta izin kepada tetangga yang memiliki mangga tersebut. Namun, ia begitu enggan melakukannya. Beberapa kali saya membujuknya tetapi ia tetap tidak mau pergi.
Saya berasumsi bahwa ia tidak mau melakukannya karena ia belum mengetahui apa yang harus ia katakan. Kemudian saya mengajarinya dengan beberapa kalimat untuk meminta izin dan dengan cepat ia dapat menirukannya.
Selanjutnya, saya memintanya kembali ke tetangga untuk menyampaikannya kepada mereka. Ia masih enggan untuk segera berangkat ke rumah tetangga dan saya baru menyadari bahwa keengganannya bukan hanya dipicu oleh ketidaktahuannya menyampaikan kata-kata tetapi karena adanya rasa bersalah dalam dirinya telah mengambil mangga milik orang lain tanpa izin terlebih dahulu.
Saya menawarkan diri menemaninya pergi ke tetangga dan ia menerima tawaran tersebut untuk pergi bersama-sama. Tiba di sana, rasa gugup menyerang anak saya. Di hadapan pemilik pohon mangga ia terbata-bata menyampaikan kata-kata yang telah kami rancang bersama. Wajahnya begitu tegang dan gerakan tangannya sesekali mengusap matanya tanda kegugupannya.
Alhamdulillah, kami memiliki tetangga yang sangat baik. Ia menerima informasi anak saya dengan santun, bahkan mengucapkan terima kasih. Kini, saya melihat wajah anak saya yang sebelumnya begitu tegang telah berubah menjadi riang dan berseri. Sore itu anak saya telah menikmati hasil kejujuran dan keberaniannya.
Setiap anak mempunyai kesempatan seperti Faruk untuk menikmati hasil dari kesalihan tingkah lakunya. Saat mereka menghadapi momen kritis di dalam hidupnya, orangtua dapat membimbingnya untuk memastikan kesuksesan atas kesalihan sebuah perilaku. Kemudian saat keberhasilan tersebut tiba dengan segera kita memberikan apresiasi atas keberhasilannya.
Seperti pada suatu siang ketika anak kita menutup pintu rumah secara keras. Otomatis suara pintu tersebut membangunkan adiknya yang sedang tidur. Lalu kita menghampiri anak tersebut untuk menjelaskan dan memberi tahu akibat perbuatannya.
Cara ini memang sangat baik, apalagi dilakukan tanpa ada nada emosi dan marah. Lebih indah jika kita melanjutkan proses ini dengan memberi contoh menutup pintu dengan lembut dan meminta anak untuk merasakan perbedaan antara menutup pintu secara keras dan menutup pintu secara lembut.
Membimbing anak untuk menikmati hasil kesalihan perilaku merupakan tahap lanjutan dari pendidikan akhlak. Selama ini kita cenderung memberi tahu mana perilaku yang baik dan perilaku yang kurang baik dengan alasan masing-masing. Kita jarang melibatkan aspek emosi dan perasaan anak di dalam pendidikan akhlak mereka.
Akibatnya, anak-anak mengetahui setiap perilaku yang baik dan buruk, akan tetapi ia tidak mempunyai kekuatan untuk melakukannya. Padahal, aspek emosi dan perasaan inilah yang sering menjadi dorongan internal (energi) anak untuk melakukan perbuatan yang baik.
Mungkin hari ini ada beberapa anak kita yang masih kurang bertanggungjawab terhadap barang-barangnya. Ia selalu membiarkan barangnya tergeletak di mana-mana dan pada saat membutuhkannya ia selalu berteriak menanyakan kepada seluruh anggota keluarga letak barang tersebut. Ada beberapa langkah yang dapat kita lakukan untuk menghadapi anak seperti di atas dengan melibatkan aspek emosi (menikmati) dari hasil perilaku baik mereka, yaitu:
- Hindari untuk mencemooh dan memarahinya saat ia merasa kehilangan barang.
- Bimbing pada satu aspek dari kehidupan anak, seperti merapikan kembali mainannya. Bimbingan ini terkait memberi contoh merapikan mainan, mendampingi anak saat merapikan mainan, dan mengecek kembali saat mainan sudah dirapikan.
- Membuat lomba untuk menemukan kembali mainannya dan memberi penghargaan pada setiap keberhasilan yang ia capai.
- Memberi contoh mengembalikan barang di rumah ke tempat semula.
- Selalu menghubungkan pada banyak pembicaraan tentang keberhasilan anak dengan sikap baiknya yang selalu merapikan kembali mainan ke tempatnya.
Semua orang sudah mengetahui bahwa membaca adalah perilaku yang bermanfaat, tetapi tidak semua orang mampu merasakan manfaat membaca mereka. Pastikan di dalam setiap tahapan pendidikan kita terhadap anak ada unsur merasakan dan menikmatinya.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I.,LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


