Suasana hangat dan penuh semangat terasa selama kegiatan Workshop Musyrif berlangsung. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi para musyrif dan pendidik untuk merefleksikan kembali cara mendampingi santri di asrama, bahwa sejatinya mereka bukan hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai figur pengasuh yang menghadirkan rasa aman, dihargai, dan didengarkan. Workshop berlangsung selama satu hari penuh (11/12) mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB bertempat di Hotel Neo+ Waru Sidoarjo.

Workshop diawali dengan sambutan oleh Direktur Griya Parenting Indonesia. Dalam sambutannya, beliau mengajak peserta melihat kembali makna pesantren ramah santri. Menurutnya, sikap ramah tidak berarti mengurangi kedisiplinan, tetapi justru membuat aturan lebih mudah dipahami dan dijalani santri karena disampaikan dengan cara yang manusiawi dan penuh empati.
Sesi pelatihan dipandu oleh Tim Trainer Griya Parenting Indonesia, yakni Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC dan Anwari Nuril Huda, S.Sos.I., M.A. Materi disampaikan dengan pendekatan aplikatif, disertai diskusi dan contoh kasus yang dekat dengan kehidupan santri di asrama. Peserta diajak aktif berbagi pengalaman serta mencari solusi bersama atas tantangan pengasuhan santri yang kerap kali dihadapi.
Materi Menegur Santri dengan Hati menjadi salah satu sesi yang paling menarik perhatian. Peserta diajak merefleksikan cara menegur santri yang tepat agar pesan dapat tersampaikan tanpa melukai perasaan mereka. Teguran secara empati dan terbesit niat dalam hati untuk mendidik diyakini akan lebih efektif dalam membentuk karakter dibandingkan pendekatan yang keras.

Kegiatan ini diikuti 41 peserta offline dan 17 peserta online. Peserta berasal dari berbagai pesantren dan lembaga pendidikan, antara lain PP. Muhammadiah Karangasem, PP. Bahrul Hidayah Sidoarjo, PP. Al-Fattah Buduran, SMP Aplikatif Assuniyah Sunan Drajat, PP. Darul Quran Mojokerto, PPTQ Permata Boarding, PP. Al Ibrah Gresik, MBS Porong, MBS Tuban, PP. Hidayatullah Surabaya, serta sejumlah lembaga lainnya.
Melalui workshop ini, para musyrif diharapkan mampu membangun hubungan harmonis dengan santri di asrama, memiliki kepedulian terhadap perkembangan akhlak santri, memahami konsep reward maupun punishment dandapat membangun komunitas kamar yang positif. Dengan pendekatan yang lebih empatik dan komunikatif, pesantren diharapkan mampu menjadi ruang yang ramah, mendidik, dan menguatkan karakter santri secara berkelanjutan. (IA)


