Sebagai orangtua tentunya kita sering menghadapi beberapa permintaan anak. Ada permintaan yang harus kita terima dan ada pula permintaan yang harus kita tolak. Untuk permintaan yang kita terima, mungkin tidak banyak teknik yang perlu kita perhatikan saat menyampaikannya. Namun sebaliknya saat kita harus menolak permintaannya, maka hal-hal berikut ini perlu kita perhatikan :
1. Menolak dengan Alasan.
Setiap penerimaan dan penolakan permintaan anak harus diikuti dengan alasan yang jelas. Dari penjelasan tentang alasan ini seorang anak belajar apa dan kapan permintaannya diterima dan ditolak oleh orangtua.
Seperti orangtua yang tidak membelikan ice cream bagi anaknya dengan alasan baru saja sakit pilek dan batuk, maka alasan ini akan menjadi pelajaran pada anak bahwa Ia tidak akan meminta ice cream setiap kali batuk dan pilek. Sebaliknya anak yang ditolak tanpa alasan apapun, maka suatu ketika Ia akan meminta lagi seperti permintaan yang lalu.
2. Menangguhkan Keputusan untuk Menolak dan Menerima Permintaan Anak.
Beberapa anak kadang meminta sesuatu secara spontan dan tergesa-gesa. Permintaan seperti ini seringkali mendesak dan kurang mempertimbangkan asas manfaat. Menangguhkan keputusan akan membuat kita cukup mempunyai waktu untuk berfikir di dalam menolak dan menerima dengan alasan yang paling baik. Di samping itu anakpun akan lebih bisa berfikir logis setelah beberapa waktu, apakah permintaannya betul-betul ia butuhkan atau hanya sekedar permintaan spontan
3. Memberi Opsi Pilihan Lain.
Orangtua dapat menolak permintaan anak dengan cara menawarkan dua atau tiga pilihan barang selain yang dipilih oleh anak. Seperti anak kita yang meminta sepeda motor balap, sementara kita khawatir akan kebiasaannya kebut-kebutan, maka kita dapat menawarkan beberapa jenis sepeda motor lain yang agak sporty.
Beberapa pilihan yang kita tawarkan akan membuat anak merasa tidak terlalu ditolak permintaannya, dengan memberi alternatif pilihan terbatas dari kita. Anak merasa masih mempunyai otoritas untuk memilih walaupun terbatas. Sementara orangtua masih dapat memanage tingkat bahayanya dengan beberapa alternatif sepeda motornya.
4. Bertanya kepada Anak.
Suatu saat anak saya pernah meminta izin untuk naik sepeda motor padahal usianya yang baru 13 tahun. Ia beralasan tubuhnya cukup besar dan Ia beberapa kali diajari oleh kakak besannya untuk naik sepeda motor.
Tentunya tanpa sepengetahuan saya. Kemudian saya bertanya kepadanya, “Jika abi mengizinkan Mas naik sepeda motor, adakah aturan yang abi harus langgar?” Kemudian Ia diam, karena Ia tahu saya harus melanggar aturan lalu lintas saat mengizinkannya naik sepeda motor.
Semua anak perlu merasakan diterima dan ditolak permintaannya, yang paling penting bagaimana dan mengapa kita menolak dan menerima permintaan tersebut. Semua dapat menjadi dasar bagi anak mengajukan permintaan pada masa yang akan datang.
Drs. Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


