Moral Action

Mungkin kita pernah menjumpai sebuah kecelakaan lalu lintas dengan beberapa korban yang mengalami luka-luka pada beberapa anggota tubuh mereka. Banyak orang yang segera membantu mereka (tentunya juga diri kita) dengan memberikan pertolongan pertama, kemudian pertolongan-pertolongan lanjutan.

Namun ada sekelompok orang yang semenjak awal melihat kecelakaan tersebut, hanya terlihat gugup dan cemas. Tetapi dengan kegugupan dan kecemasan tersebut, mereka terlihat tidak mampu bahkan bingung untuk membantu para korban.

Kita yakin mereka mengetahui tentang nilai moral di dalam memberi bantuan, dan dengan sikap mereka yang gugup dan cemas menyiratkan bahwa mereka sebenarnya mempunyai keinginan untuk membantu. Namun mereka tidak tahu bagaimana cara membantu, karena mereka memang belum terbiasa untuk memberikan bantuan.

Disinilah pentingnya aspek ketiga dalam pendidikan moral, yaitu moral action. moral action adalah aspek mewujudkan pengetahuan tentang moral dan keinginan untuk mewujudkannya menjadi tindakan nyata. Perbuatan atau tindakan moral ini merupakan hasil dari dua aspek pendidikan moral pada tulisan sebelumnya.

William Kilpatrick salah seorang ahli moral menulis, salah satu penyebab ketidakmampuan seseorang untuk berperilaku baik, walaupun secara kognitif mengetahuinya adalah bahwa ia tidak terlatih untuk melakukan kebajikan atau perbuatan bermoral, sehingga dengan demikian pendidikan moral tidak hanya memerlukan pengetahuan moral beserta definisi-definisinya, tetapi juga diperlukan unsur latihan dan praktek yang terus menerus.

Thomas Lickona mendefinisikan orang yang bermoral sebagai sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara baik, yang dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur dan bertanggung jawab.

Aristoteles memberikan ilustrasi bermoral adalah ibarat otot, di mana otot-otot moral akan menjadi lembek apabila tidak pernah dilatih. Sebaliknya otot-otot tersebut akan kuat dan kokoh jika sering dipakai. Seperti binaragawan yang terus menerus berlatih untuk membentuk ototnya, otot-otot moral juga akan terbantu dengan praktik-praktik dan latihan yang pada akhirnya akan menjadi kebiasaan (habit).

Menurut Aristoteles, sebuah masyarakat yang budayanya tidak memperhatikan pentingnya pendidikan good habits, akan menjadi masyarakat yang terbiasa dengan kebiasaan buruk. Kebiasaan tersebut akhirnya bisa menjadi respon insting atau spontanitas yang buruk diantara mereka.

Dengan demikian pendidikan moral adalah mendidik seseorang untuk menjadi terbiasa berperilaku baik (bermoral), dan orang tersebut tidak akan merasa nyaman jika melakukan sebaliknya.

“Seseorang yang sudah terbiasa sikat gigi tiga kali sehari, akan merasa tidak nyaman jika mengurangi sikat giginya menjadi dua kali atau bahkan satu kali. Kebiasaan yang telah dilakukan dalam rentang waktu tertentu akan membangun habits dan instingnya.”

Dalam buku biografi Bob Sadino diceritakan tentang adanya seorang profesor yang mempunyai kedalaman ilmu dan keluasan pengetahuan yang luar biasa. Hampir semua ilmu pengetahuan telah beliau kuasai dengan baik, bahkan pada ranah-ranah yang sangat jauh dari spesialisasi beliau.

Setiap sesi seminar dan kajian yang diasuh beliau selalu dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan audience. Mayoritas mereka terpukau dengan kewaskitaan profesor ini, mereka mengakui inilah sosok manusia yang luar biasa. Semua pujian dan penghargaan itu tidak membuat beliau tinggi hati, bahkan memacunya untuk mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang lainnya.

Dalam salah satu sesi seminar, beliau diundang untuk menyampaikan seminar di sebuah daerah kepulauan. Di mana untuk mencapai pulau tersebut, beliau harus naik sebuah kapal kecil yang dikendalikan oleh kemudi diesel.

Setelah mengetahui bahwa yang menaiki kapalnya adalah seorang profesor yang sangat luas wawasan dan pengetahuannya, sang juru kapal kemudi hendak bertanya tentang beberapa hal tentang seputar kehidupannya.

Dialog dan pertanyaan sang juru kemudi berlangsung lancar karena dilakukan ditengah kesibukannya mengemudikan kapal, sampai pertanyaan itu berkembang tentang beberapa gaya renang yang diakui dunia internasional dan selalu ditandingkan pada setiap olimpiade. Tampaknya sang juru kemudi mempunyai anak yang bertalenta perenang, ia menginginkan anaknya dapat bertanding pada kejuaraan renang tingkat nasional bahkan internasional,

Subhanallah sang Profesor dapat menjelaskan semua gaya renang tersebut beserta sejarah munculnya gaya-gaya tersebut. Tiba-tiba ombak menerjang kapal kecil itu hingga membuatnya terbalik. Dengan sigap sang juru kemudi meloncat dari kapal dan berenang, tetapi profesor terlempar dari kapal kecil kemudian timbul tenggelam di antara ombak yang terus menggulung dengan berteriak minta tolong.

Sang juru kemudi yang mempunyai tanggung jawab terhadap keselamatan penumpangnya, terutama sang profesor, akhirnya berenang sekuat tenaga mendekati profesor dan meraih tangan beliau.

Kita mungkin sudah mengetahui tentang seluk beluk komputer dan menyadari pentingnya komputer dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi pastikan kita juga sudah terampil menggunakannya. Akankah kita menjadi orang yang mengetahui seluk beluk moral tetapi justru kita menjadi orang pertama yang tidak bermoral?.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd. I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari Buku “Aku Wariskan Moral Untuk Anakku”

______________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.