Minat Anak Berpuasa

Orangtua patut berbahagia jika nanti pada bula Ramadhan anak-anaknya berminat tinggi untuk melaksanakan seluruh rangkaian ibadah di bulan suci tersebut. Pasti kita berharap mereka akan terlihat sangat menikmati melaksanakan ibadah puasa tersebut tanpa paksaan, bahkan dorongan dari orangtuanya.

Sementara bagi orangtua yang mempunyai anak yang mungkin masih ogah-ogahan untuk melaksanakan rangkaian ibadah Ramadhan, bersabarlah karena perilaku tersebut masih sangat wajar baginya. Bagi seorang anak, masih sangat sulit untuk memahami makna-makna Ramadhan yang sifatnya abstrak sehingga kita sebagai orangtua akan sulit pula untuk membuat mereka merasakan nikmatnya berpuasa.

Pertanyaannya, “Apa yang membuat seorang anak berminat untuk berpuasa?” Mungkin kita akan kesulitan untuk menemukan jawabannya.

Saya masih ingat cerita tentang seorang ibu yang ingin menanamkan habit kebersihan kepada anaknya agar selalu membasuh tangan setiap kali memegang kue. Beberapa kali ia meminta anaknya untuk membasuh tangannya tapi si ibu merasa kesulitan untuk membiasakan anaknya.

Suatu hari sang ibu tersebut menemukan cara mengajak anaknya untuk bermain air sambil membasuh tangan setiap kali akan mengambil kue. Anak ini rela membasuh tangannya dengan minat awal untuk bermain air. Dengan minat tersebut, lama-lama ia mempunyai habit yang baik untuk selalu membersihkan tangannya setiap kali akan mengambil kue.

Hurlock menyebutkan dalam bukunya tentang perkembangan anak bahwa minat akan muncul melalui tiga cara. Pertama, ketika anak menemukan kesenangan dan daya tarik dari perilaku atau kegiatan yang ia lakukan. Kedua, anak belajar lewat identifikasi terhadap orang-orang yang dicintai dan dikaguminya. Ketiga, minat muncul lewat bimbingan dan pengarahan langsung dari seorang ahli.

Berangkat cerita dan teori Hurlock di atas, orangtua dapat memulai untuk membangun minat anak berpuasa dengan beberapa teknik berikut ini.

1. Ramadhan yang Bernuansa.

Menghadirkan nuansa yang berbeda selama bulan Ramadhan akan mendorong anak untuk mengikuti aktifitas-aktifitas di dalamnya. Acara menyambut Ramadhan dengan pawai anak-anak, pukul bedug di masjid menjelang berbuka puasa, dan membuat jadwal bersama selama Ramadhan jelas merupakan bentuk menghadirkan nuansa yang berbeda pada bulan suci Ramadhan.

2. Sahur dan Berbuka Bersama Seluruh Seluarga.

Melihat bapak, ibu, kakak, dan saudara lainnya melaksanakan sahur dan buka puasa bersama dengan menu khusus jelas merupakan pengalaman yang luar biasa dan mampu memotivasi anak untuk ikut bergabung bersama mereka.

3. Shalat Tarawih Berjamaah.

Pada hari-hari biasa, mungkin anak telah terbiasa untuk shalat berjamaah di masjid. Namun, shalat tarawih di masjid dengan rakaat yang lebih banyak dan jumlah jamaah yang membeludak adalah peristiwa yang sangat berkesan bagi mereka.

4. Pondok Ramadhan Ceria.

Saat ini telah berkembang kegiatan pondok Ramadhan yang tidak hanya berisi ceramah-ceramah agama tetapi melalui game pendidikan yang cukup membangun minat anak untuk mengikutinya.

5. Teman-teman Berpuasa.

Di sekeliling anak kita terdapat sahabat dan teman yang menceritakan peristiwa puasanya. Situasi ini merupakan motivasi yang sangat kuat baginya untuk melanjutkan puasanya atau memulai puasa. Orangtua sangat berperan dalam melanjutkan motivasi tersebut menjadi tindakan nyata.

6. Rekreasi Spiritual.

Bagi orangtua, i’tikaf di masjid pada sepuluh hari terakhir merupakan ibadah. Namun, bagi anak kegiatan tersebut merupakan rekreasi yang mendorong mereka untuk menghadapi suasana dan situasi yang baru. Orangtua harus mempertimbangkan paradigma anak terhadap i’tikaf ini.

Selamat untuk memulai membangun minat anak-anak kita untuk berpuasa. Semoga mereka tumbuh menjadi anak-anak yang bertakwa dan bahagia menyambut bulan Ramadhan.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Tips Instans Mendidik Anak”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.