Attachment (Usia 0-2 Tahun)

Seusai sebuah training parenting, seorang ibu muda dengan bayi laki-laki di gendongannya bertanya, “Ustadz apa yang dapat saya lakukan saat ini terhadap anak saya untuk membangun moralnya? Saya tidak mau terlambat untuk membina moralnya. Apakah saya dapat mulai menjelaskan kepada anak saya yang baru berumur 11 bulan ini untuk tidak melempar-lemparkan mainannya karena itu tidak bertanggung jawab, atau memegang kepala orangtuanya karena tidak sopan? Saya tidak dapat membayangkan untuk melakukan itu semua terhadap putra saya yang masih kecil ini.”

Ada paradigma yang berkembang di masyarakat saat ini bahwa pendidikan moral identik dengan pendidikan atas seperangkat aturan dan pedoman etis yang harus ditaati oleh anak. Orangtua yang perhatian terhadap moral putranya adalah orangtua yang mencegah anaknya untuk memukul-mukulkan mainan temannya, atau orangtua yang memperingatkan putranya untuk naik meja atau untuk memegang kepada orangtuanya karena keduanya tidak sopan.

Dengan paradigma seperti di atas maka orangtua seringkali terjebak dalam anggapan bahwa pendidikan moral adalah pendidikan kedisiplinan, yaitu pendidikan untuk mengikuti peraturan baik tertulis maupun tidak tertulis. Sehingga mindset kita adalah reward bagi yang melaksanakan dan konsekuensi bagi yang melanggar.

Saya pernah menemukan seorang ibu yang memukul tangan putranya yang baru berusia 18 bulan karena putranya mengeluarkan pakaian dari almari. Bagi ibu tersebut, pukulan itu adalah bentuk perhatian untuk membangun rasa tanggung jawab putranya. Padahal anak tersebut mengeluarkan pakaian-pakaian tersebut hanya merupakan dorongan dari dirinya untuk mengeluarkan dan memasukkan barang.

Memang sangat menjengkelkan bagi kita orangtua melihat barang-barang yang dengan susah payah kita rapikan, serta merta begitu saja dikeluarkan anak dengan berantakan. Tetapi para ahli psikologi anak menjelaskan bahwa ada masa bagi anak untuk senang membuka dan menutup serta memasukkan dan mengeluarkan barang.

Bayi belum mengerti tentang karakter atau moral. Kita tidak mungkin mengajari kepada mereka tentang arti empati, tanggung jawab, tolong-menolong dan lain-lain. Namun seorang ibu telah dapat mulai membangun pondasi bagi moral putranya, bahkan sejak ia masih dalam gendongannya.

Dalam buku Pendidikan Moral, Ratna Megawangi menjelaskan beberapa pondasi moral yang dapat dibangun oleh para orangtua sejak anak masih bayi:

1. Kelekatan Psikologis antara Orangtua dan Anak.

Kelekatan ini akan membentuk kepercayaan anak kepada orang lain (trust), merasa diri diperhatikan, dan menumbuhkan rasa aman. Hubungan yang erat dengan ibunya dalam tahun-tahun pertama kehidupan akan menanamkan kapasitas besar untuk dapat mengadakan hubungan yang baik dengan orang lain kelak ketika dewasa.

Bagi para ibu yang ditakdirkan dapat mendampingi bayinya setiap saat, tantangannya adalah bagaimana membuat setiap pertemuan tersebut menambah kelekatan dengan bayinya. Tidak justru sebaliknya karena seringnya pertemuan ibu merasa bosan untuk dekat dengan bayinya. Sehingga walaupun secara fisik dekat dengan ibunya namun secara psikis bayi tidak merasakan kehadiran ibunya.

Sebaliknya bagi para ibu yang ditakdirkan tidak dapat mendampingi bayinya sepanjang waktu, maka tantangannya lebih berat yaitu menjadikan waktu-waktu yang sempit tersebut berkualitas dan memilih pengasuh yang dapat menggantikan ketidakhadiran-nya dengan baik.

2. Kebutuhan Rasa Aman.

Seorang anak membutuhkan lingkungan yang menjamin perasaan amannya. Lingkungan yang selalu berubah dan tidak stabil akan sangat berbahaya bagi perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang sering berganti-ganti dan kurang memahami kebutuhan anak tentang rasa aman justru akan menjadi kendala bagi kestabilan emosi anak. Seorang anak yang tumbuh dengan emosi yang tidak stabil dan meledak-ledak merupakan bibit bagi munculnya moral yang kurang baik.

3. Kebutuhan Stimulasi Fisik dan Mental.

Sikap orangtua yang menerima anaknya (kata-kata cinta dan kasih sayang, dorongan, pujian, ciuman, elusan di kepala, pelukan, dan kontak mata) membuat anak merasa disayang, dilindungi, dianggap berharga membentuk kepribadian pro-sosial, percaya diri, dan mandiri namun sangat perduli dengan lingkungannya.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral untuk Anakku”

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.