Saya penulis buku Tuntas Emosi, mengajak anak belajar literasi emosi, apakah saya sudah luar biasa pengelolaan emosinya. Oh, tentu tidak. Perjuangan mengelola emosi ini akan berlangsung sepanjang hayat.
Saya pun, kadang terpeleset dalam perjuangan itu. Misalnya, beberapa hari lalu, saya terjebak dalam sebuah rapat panjang, lelah, penat berpikir di tengah orang-orang yang tak henti memperjuangkan penyampaian idenya, tapi tidak berdaya untuk menengahi. Saya sungguh tidak ingin terlibat persahutan panjang karena merasa otak saya sudah ingin berhenti terlibat, dan secara reaktif melempar sebuah botol minum kosong pada orang terdekat yang terjangkau. Bukan karena yang bersangkutan menyebalkan, tapi reaksi itu yang mungkin dilakukan untuk menghentikan situasi, lemparan botol terdekat, yang diputuskan dalam kurang dari 1 detik.
Emosi yang saya rasakan marah, ekspresi marahnya adalah melempar botol. Pemicunya lelah, penyebabnya regulasi emosi saya sedang kurang terkontrol. Tidak ada marah tanpa pemicu. Tidak ada orang marah tanpa sebab. Marah adalah mekanisme pertahanan diri, mari kita bahas jenis emosi ini secara lebih mendalam.
☕☕☕☕☕☕☕
Marah muncul ketika kita merasa ada yang tidak adil, batas kita dilanggar, atau sesuatu yang penting bagi kita terancam. Otak kita bahkan bereaksi sangat cepat. Bagian kecil bernama Amygdala langsung membaca situasi sebagai ancaman dan menyalakan mode alarm siaga.
Jantung berdetak lebih cepat, napas memburu, otot menegang. Tubuh bersiap “melawan”. Itulah mengapa marah terasa panas dan meledak-ledak.
Tapi kita tidak hanya punya alarm. Kita juga punya pengatur. Di bagian otak logis juga bereaksi setelah pemicu muncul. Kita berpikir, menilai ulang, dan memilih respons. Saat bagian ini bekerja dengan baik, marah bisa berubah menjadi ketegasan. Saat kita lelah, stres, atau terlalu terluka, alarm lebih dominan daripada pengatur, dan marah jadi impulsif.
Menariknya, marah sering bukan emosi pertama. Di bawahnya bisa tersembunyi rasa takut, malu, kecewa, atau merasa tidak dihargai. Marah kadang hanyalah “baju zirah” untuk melindungi bagian diri yang lebih rapuh.
Secara alami, marah itu punya fungsi. Ia menjaga batas, memberi energi untuk memperbaiki ketidakadilan, dan mengingatkan bahwa ada nilai yang penting bagi kita.
☕☕☕☕☕☕☕
Marah adalah emosinya, ekspresinya bisa bermacam.
Marah bisa terekspresikan dalam bentuk sikap agresif. Marah adalah emosi, sementara agresif adalah perilaku yang bisa muncul sebagai cara mengekspresikan marah, misalnya lewat kata-kata kasar, bentakan, atau tindakan menyakiti.
Seseorang bisa saja marah tanpa menjadi agresif jika mampu meregulasi emosinya, karena bagian otak logis masih dapat mengendalikan dorongan.
Ketika regulasi melemah karena stres, kelelahan, atau pola belajar yang salah, marah lebih mudah berubah menjadi agresi.
Marah bisa jadi tak nampak secara ekspresif. “Aku tidak meluapkan marahku” itu bisa berarti dua hal yang sangat berbeda.
Kalau marah disadari, dipahami, lalu diolah, itu namanya regulasi emosi. Kita tetap merasakan marahnya, tapi tidak langsung bereaksi. Kita beri jeda. Bagian otak seperti logis membantu menenangkan alarm dari Amygdala. Tubuh perlahan stabil, pikiran jadi lebih jernih, dan respons yang muncul lebih matang. Hasilnya biasanya ketenangan, ketegasan yang elegan, atau keputusan yang lebih bijak. Marah tidak hilang, tapi diarahkan.
Sebaliknya, kalau marah ditekan tanpa diproses, itu bukan regulasi, itu penahanan. Secara luar terlihat tenang, tapi di dalam emosi tetap aktif. Tubuh mungkin masih tegang, pikiran menyimpan cerita yang belum selesai. Lama-lama, marah yang terpendam bisa muncul sebagai sinis, pasif-agresif, ledakan kecil yang tidak proporsional, bahkan keluhan fisik seperti sakit kepala atau kelelahan emosional. Ibarat api kecil yang ditutup rapat tanpa dipadamkan, ia tidak terlihat, tapi tetap membara.
Jadi kuncinya bukan “meluapkan atau tidak”, melainkan apakah marah itu diakui dan diolah, atau diabaikan dan disimpan.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Belum selesai bahasan marah ini. Pada bagian berikutnya, saya ingin mengulas bagaimana cara marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, di waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik.
Sungguh emosi marah ini, Allah ciptakan pastilah tidak sia-sia.
Silakan berbagi pengalaman Anda tentang emosi ini. Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu tidak akan membuat saya marah, malah bahagia.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak Griya Parenting Indonesia
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


