Literasi Emosi Part 3: Lega

Marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, di waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik. Bagaimana itu praktiknya?

Beberapa pekan lalu, peserta magang di tempat kami bangun kesiangan. Sudah saya bangunkan beberapa kali, tak juga buka pintu kamar. Akhirnya kami terlambat belajar 30 menit.

Supaya tidak reaktif, saya baca Alfatihah berkali-kali, baca doa lisan Nabi Musa, mengatur nafas dan baru bicara.

Bu Ani sudah menyiapkan banyak hal untuk kalian belajar di sini, dan saya kecewa kalian tidak menghargai usaha kami, dengan tidak tertib dan bangun siang ini.

Mereka diam tak komentar, saya yang sudah berusaha mengatur diri agar tidak bernada tinggi, akhirnya sedikit menaikkan nada. Mereka mungkin belum dapat ide mau bicara apa. Saya ambil analogi kegemaran mereka.

Kalau ini adegan drama korea seperti kesukaan kalian, saya akan berhak dapat permintaan maaf. Saya ucapkan itu sambil menatap mata satu per satu mereka, dan akhirnya mereka buka suara, minta maaf, dan kemudian saya lega.

Setelah itu? Saya mengajar dengan ceria seperti biasa, bahkan berlanjut sesi konseling, mereka curhat satu per satu menangis dalam dekapan jiwa saya, tentang konflik terdalam mereka.

Tak tersinggung, tak berlanjut panjang. Marah yang disampaikan dengan tepat, sungguh melegakan hati.

☕☕☕☕☕☕☕

Ketika marah diluapkan secara positif dan terarah, misalnya dengan menyampaikan keberatan secara tegas, menjelaskan batas yang dilanggar, atau mengungkapkan rasa kecewa tanpa merendahkan, sebenarnya kita sedang menyelesaikan satu siklus emosi.

Alarm di dalam diri yang tadi aktif mendapat respons yang jelas dan terstruktur karena bagian pengatur logika ikut bekerja. Emosi tidak ditekan, tapi juga tidak dibiarkan liar.

Saat pesan sudah tersampaikan, batas sudah ditegaskan, dan diri merasa didengar atau setidaknya sudah jujur pada perasaan sendiri, sistem saraf mulai turun dari mode siaga.

Ketegangan di tubuh mengendur. Napas lebih dalam. Di situlah muncul emosi lega. Lega bukan karena marahnya menyenangkan, tetapi karena beban yang tadi menggantung sudah punya jalan keluar.

Jadi, marah yang sehat itu seperti membuka katup tekanan secara terkontrol. Bukan meledakkan, bukan juga memendam. Ketika tekanan dilepas dengan cara yang tepat, ruang di dalam hati terasa lebih lapang. Dan di ruang itulah lega tumbuh.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam psikologi, lega sering disebut relief, yaitu emosi positif yang muncul setelah tekanan, ancaman, atau kecemasan berkurang atau hilang.

Secara fisiologis, saat kita merasa lega, sistem saraf yang tadinya aktif (tegang, waspada) mulai menurun. Napas melambat, otot mengendur, tubuh terasa lebih ringan. Makanya banyak orang spontan menghela napas panjang saat merasa lega.

Sedikit berbeda dengan bahagia, lega itu biasanya reaktif terhadap berakhirnya tekanan, bukan kebahagiaan yang murni karena pencapaian

☕☕☕☕☕☕☕

Ulama Imam Al-Ghazali menggambarkan marah seperti nyala api yang membara di dalam hati, dan kembali kepada sifat dasar manusia (nafsu ‘ammarah) yang cenderung mendorong kepada perbuatan buruk kecuali yang diberi rahmat oleh Allah.

Islam mengingatkan akan bahaya marah yang tidak terkendali, seperti sabda Nabi Muhammad yang melarang marah, karena bisa menarik manusia kepada perbuatan yang diinginkan setan.

Namun, tidak semua marah dinilai tercela dalam Islam. Marah boleh dan bahkan diperlukan dalam konteks tertentu, seperti ketika menegakkan kebenaran atau menghadapi perbuatan mungkar, asalkan dilakukan dengan proporsi yang benar dan tidak berlebihan.

Para ulama seperti Imam Syafi‘i menekankan bahwa marah yang terkendali dan sesuai syariat dapat mencerminkan kekuatan semangat dan ketegasan dalam menegakkan nilai, sedangkan marah yang berlebihan yang menguasai akal dan agama tidak dibolehkan.

Marah ketika agama dihina, harga diri dilecehkan, atau adanya penindasan adalah marah pertahanan. Jika tidak marah, menyesal. Jika marah diikuti aksi, baru akan merasa lega karena merasa sudsh berjuang untuk yang benar. Jadi, marah lah pada situasi itu, dan kemudian berlega lah.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan menjadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak Griya Parenting Indonesia

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.