Literasi Emosi Part 5: Nyaman

Kenapa kamu bisa dekat dengannya?
Aku nyaman dengannya.

Dalam situasi normal, saya akan senyum dalam hati cie cieee. Tapi situasinya tidak normal, yang ditanya adalah santri putra, yang dekat dengannya juga santri putra.

Inilah petikan dialog konseling dengan tema orientasi sesama jenis. Latar belakangnya, kedua santri adalah korban bullying, yang awalnya hanya saling curhat. Merasa senasib, mereka terus intens berkomunikasi sampai berkembang jadi perasaan lebih dari teman.

Ini adalah jenis emosi nyaman psikis. Yang andai saja terjadi antara lelaki dan perempuan, saya akan lega menyatakan ini emosi positif.

Nyatanya, dibalik rasa nyaman mereka saat berinteraksi, masih ada gelisah karena rasa bersalah, apa yang mereka rasakan tidak benar.

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi nyaman juga bisa dalam tataran fisik. Misalnya, saya rasakan saat naik bus surabaya bandung, karena bisa tidur nyenyak selama perjalanan.

Padahal, dulu saat vestibular masih buruk, saya sering pusing dan mabuk saat naik bus. Hanya kereta yang saya bisa nyaman perjalanan jauh, walaupun belum bisa tidur nyenyak.

Sekarang, vestibular saya aman, tak ada sakit kepala dan rasa ingin muntah saat berkendara. Perjalanan jauh pun bisa nyaman, karena bisa istirahat.

☕☕☕☕☕☕☕

Nyaman adalah emosi positif dengan aktivasi rendah sampai sedang yang muncul ketika kebutuhan dasar (fisik maupun psikologis) terpenuhi dan tidak ada ancaman. Ia bukan ledakan bahagia, melainkan rasa “cukup” dan aman yang menyenangkan.

Nyaman sering hadir diam-diam. Tidak dramatis, tapi membuat kita betah. Secara psikologis, nyaman muncul saat:
▶️Kita merasa diterima
▶️Tidak sedang dinilai atau diserang
▶️Lingkungan terasa aman
▶️Kebutuhan dasar (makan, istirahat, koneksi sosial) terpenuhi

Ada unsur keamanan dan kesenangan ringan di dalamnya.

Ketika merasa nyaman, sistem stres menurun dan sistem saraf parasimpatis aktif. Aktivitas ancaman di Amygdala rendah, sementara regulasi dari Prefrontal cortex stabil.

Sistem reward (dopamin dan oksitosin) juga berperan, terutama jika kenyamanan melibatkan relasi hangat. Itu sebabnya nyaman bersama orang yang dipercaya terasa berbeda dari nyaman sendirian.

Nyaman tidak hanya satu bentuk:
▶️ Nyaman fisik → suhu pas, tubuh rileks, tempat duduk empuk
▶️ Nyaman emosional → diterima tanpa dihakimi
▶️ Nyaman sosial → bisa menjadi diri sendiri
▶️ Nyaman kognitif → situasi bisa diprediksi dan dipahami

Semakin banyak aspek terpenuhi, semakin dalam rasa nyamannya.

☕☕☕☕☕☕☕

Ada sisi menarik. Nyaman bisa sehat jika memberi rasa aman dan memulihkan energi. Tapi bisa juga membuat stagnan jika membuat kita enggan bertumbuh.

Karena pertumbuhan sering menuntut sedikit ketidaknyamanan. Pernah dengar istilah : kalau mau sukses, keluarlah dari zona nyaman. Biasanya ini dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa pertumbuhan, peningkatan atau kesuksesan akan melalui proses perjuangan yang rasanya ‘tidak nyaman’.

Jadi, nyaman itu seperti ruang yang tidak mengancam.
Di situ kita bisa bernapas tanpa siaga.

Namun manusia juga butuh keseimbangan antara nyaman dan tantangan. Terlalu lama dalam zona nyaman bisa membuat potensi tertidur. Terlalu lama dalam tekanan membuat jiwa lelah.

Kalau direnungkan, dalam relasi, termasuk relasi orang tua dan anak, kenyamanan emosional sering menjadi fondasi kelekatan yang sehat. Rasanya hampir semua orangtua sayang anaknya, tapi dari sebanyak itu yang sayang, sisi anak menyatakan tidak selalu merasa nyaman dengan orangtua sendiri.

Menurut kamu, nyaman lebih sering kamu rasakan di ruang fisik, atau justru dalam relasi tertentu?

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.