Kemarin kita membahas emosi takut, sekarang kita bahas pasangannya : harap.
Saat lulusan SMA mengerjakan tes masuk kuliah, ada takut tentang kemungkinan gagal dan mengecewakan. Ada harap tentang pintu masa depan yang mungkin terbuka.
Dalam setiap peristiwa yang tak pasti, hampir selalu ada dua ruang di hati: satu yang bergetar karena kemungkinan buruk, satu yang bertahan karena kemungkinan baik.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekilas, takut dan harap terasa seperti emosi yang saling berlawanan. Namun jika dilihat lebih dalam, keduanya bukan hitam dan putih yang saling meniadakan, melainkan dua arah pandang terhadap masa depan yang sama.
Takut hadir ketika kita menangkap kemungkinan buruk. Takut jadi adalah alarm alami dalam diri, membuat jantung berdetak lebih cepat, tubuh menegang, pikiran menyempit pada ancaman. Dalam banyak situasi, takut justru melindungi. Ia menjaga, memperingatkan, dan mempersiapkan kita agar tidak ceroboh menghadapi risiko.
Sebaliknya, harap muncul saat kita melihat kemungkinan baik, meski hasilnya belum pasti. Harap memberi tenaga untuk melangkah, memberi makna untuk bertahan, dan membuka ruang solusi di tengah keterbatasan. Jika takut membuat fokus kita mengerucut pada bahaya, harap memperluas pandangan pada peluang.
Keduanya sebenarnya berada dalam satu situasi ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi. Bedanya hanya pada ke mana perhatian diarahkan, pada kemungkinan buruk atau kemungkinan baik.
Seorang orang tua bisa takut anaknya gagal, sekaligus berharap ia berhasil. Seorang pembicara bisa gemetar menghadapi persiapan pidato, namun tetap merasa yakin acara akan lancar.
Maka hidup mungkin bukan tentang menghapus takut, melainkan tentang menyeimbangkannya dengan harap. Bukan meniadakan kecemasan, tetapi memastikan bahwa harap tetap lebih besar, lebih kuat, dan lebih menuntun langkah kita ke depan.
☕☕☕☕☕☕☕
Al Quran membahas kedua emosi ini. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِيْ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنْشِئُ السَّحَا بَ الثِّقَا لَ
“Dialah yang memperlihatkan kilat kepadamu, yang menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia menjadikan mendung.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 12)
Para ulama sejak dahulu membahas keseimbangan takut dan harap. Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya harmoni antara takut dan harap dalam perjalanan ruhani. Demikian pula dalam Al-Irsyad Ila Shahihil I’tiqad dan Tsalatsatul Ushul, khauf dan roja’ dijelaskan sebagai ibadah hati, bukan sekadar perasaan, tetapi sikap batin yang mengarahkan manusia kepada tauhid yang benar.
Khauf (takut) menjaga agar langkah tidak tergelincir dalam kemaksiatan. Roja’ (harap) menguatkan jiwa untuk terus taat dan berharap pada ampunan.
Seperti kilat dalam hujan, keduanya adalah tanda: bahwa di balik peringatan ada rahmat, dan di balik rasa gentar selalu ada pintu harapan.

Takut kepada Allah bukanlah rasa panik yang membuat jiwa menjauh, tetapi kesadaran yang membuat hati tunduk. Takut akan menjadi rem yang menjaga langkah agar tidak tergelincir dalam kemaksiatan. Dalam khauf, seseorang menyadari kebesaran-Nya, keadilan-Nya, dan konsekuensi dari setiap pilihan hidup.
Namun iman tidak berdiri hanya di atas takut. Ada roja’, harap kepada Allah. Harap pada rahmat-Nya yang luas, pada ampunan-Nya yang mendahului murka-Nya, pada kasih sayang-Nya yang tak pernah habis. Roja’ membuat jiwa tetap bangkit setelah jatuh, tetap berdoa setelah merasa lalai, tetap mengetuk meski pintu terasa jauh.
Seperti kilat di tengah hujan, khauf adalah peringatan yang mengguncang, sedangkan roja’ adalah air yang menenangkan dan menghidupkan. Keduanya bukan untuk saling mengalahkan, tetapi untuk menyeimbangkan hati, agar manusia tidak terlalu berani melampaui batas, dan tidak pula tenggelam dalam putus asa.
Emosi takut pada Allah mencegah kemaksiatan, emosi harap mendorong ketaatan. Di antara takut dan harap itulah iman bernafas.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


