Literasi Emosi Part 9: Malu

Tatapan yang tadi lurus tiba-tiba turun, menghindari kontak mata. Kepala sedikit menunduk, seolah ada sesuatu yang ingin disembunyikan sekaligus dijaga. Di bibir muncul senyum kecil, bukan senyum lepas karena bahagia, tapi senyum canggung.

Yap, aku mengamati bahasa tubuh itu ketika berucap : Hmm, jadi kamu ambil uang-uang orangtua dan saudaramu dirumah tanpa ijin supaya kamu bisa traktir temanmu?

Ini adalah petikan konseling anak usia 10 tahun yang sedang kerap mencuri di rumahnya sendiri.

Saya juga mendapati ekspresi bahasa tubuh serupa ketika sedang konseling siswa putra kelas VIII SMP yang terindikasi suka menyentuh kemaluan teman-teman lelakinya. Persis ketika saya ucapkan : Oh, kamu sebenarnya cuma gemas aja, hanya pengen menggoda temanmu, ketika kamu melakukan itu?

Sebenarnya saya sungguh bersyukur ketika mendapati ekspresi itu. Artinya dia masih malu, atas perbuatannya yang tidak baik itu. Sungguh malu, sebagian dari iman.

☕☕☕☕☕☕☕

Secara psikologis, malu (shame) adalah emosi yang muncul ketika kita merasa diri kita dinilai negatif oleh orang lain atau oleh diri sendiri. Malu berbeda dengan takut. Takut berkaitan dengan ancaman. Malu berkaitan dengan penilaian sosial dan harga diri.

Malu muncul ketika:
▶️ Kita merasa melakukan kesalahan
▶️Kita merasa tidak pantas
▶️Kita merasa terlihat “kurang” di hadapan orang lain

Yang terasa bukan hanya “aku salah”, tapi sering kali menjadi “aku ini salah”.

Malu dan merasa bersalah beda.
▶️ Guilt (rasa bersalah) → fokus pada perilaku (“Saya melakukan hal yang salah.”)
▶️Shame (malu) → fokus pada identitas (“Saya ini orang yang kurang pantas.”)

Karena itu malu lebih dalam dan lebih menyentuh harga diri.

Malu sebenarnya punya fungsi sosial:
▶️ Menjaga norma
▶️ Membuat kita lebih berhati-hati
▶️ Membantu kita diterima dalam kelompok

Tanpa malu, manusia bisa kehilangan batas sosial. Tapi, jika berlebihan, malu bisa:
▶️ Membuat seseorang menarik diri
▶️ Menghindari relasi
▶️ Merasa tidak layak
▶️ Menghambat pertumbuhan

Dalam Islam, malu (haya’) adalah kemuliaan hati, rasa segan kepada Allah yang menjaga seseorang dari keburukan. Malu bukan bearti rendah diri, melainkan kesadaran akan pengawasan Ilahi. Malu yang benar menumbuhkan adab, bukan membuat putus asa.

Malu tidak selalu musuh. Ada malu yang hadir seperti bisikan lembut di hati, mengajak kita berhenti sejenak, menyadari bahwa ada sikap yang kurang tepat.

Dalam malu yang sehat, seseorang tidak merasa dirinya buruk, ia hanya merasa tindakannya perlu diperbaiki. Setelah meminta maaf atau melakukan koreksi, hatinya kembali ringan. Harga dirinya tetap utuh. Malu jenis ini menjaga adab, menjaga batas, dan justru membantu seseorang bertumbuh.

Namun ada juga malu yang terasa jauh lebih berat. Bukan lagi tentang “aku melakukan kesalahan”, melainkan berubah menjadi “aku ini memang salah.” Malu seperti ini membuat seseorang ingin menghindar, diam, atau bahkan menghilang.

Peristiwa lama terus teringat, seolah menjadi cap permanen pada diri. Alih-alih mendorong perbaikan, ia membekukan langkah dan perlahan menggerus rasa layak.

Perbedaannya sering kali bukan pada peristiwanya, tetapi pada cara hati memaknainya. Malu yang sehat mengoreksi perilaku. Malu yang melumpuhkan menyerang identitas. Yang satu menumbuhkan kedewasaan, yang lain bisa menumbuhkan keraguan pada diri sendiri.

Jadi, malu bisa menjadi penjaga martabat atau penjara batin. Kuncinya ada pada arah dan kadar.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.