Literasi Emosi Part 12: Bosan

Bu Ani, sudah sekian hari bahas emosi, gak bosan kah? Hahaha..pembaca boleh bosan, itu emosi juga.

Saya belum bosan, semakin membedah jiwa manusia, makin menarik buat saya. Begitu banyak kuasa Allah terpampang dalam keunikan manusia ini. Semakin terpana dengan ciptaaan-Nya.

Bahkan kalimat : janganlah bosan ada di dalam Quran, ketika membahas perintah mencatat administrasi utang piutang. Seru kan. Yuk, kita bahas emosi bosan ini.

☕☕☕☕☕☕☕

Bosan, emosi yang sering diremehkan, padahal diam-diam kuat sekali pengaruhnya

Bosan adalah keadaan emosional ketika kita merasa kurang tertarik, kurang terstimulasi, atau tidak menemukan makna dalam aktivitas yang sedang dijalani. Bosan muncul saat pikiran butuh keterlibatan, tapi yang tersedia terasa monoton, tidak menantang, atau tidak relevan.

Secara psikologis, bosan bisa muncul karena:
▶️Kurang variasi atau rangsangan
▶️Tugas terlalu mudah atau terlalu sulit
▶️Tidak ada rasa tujuan
▶️Kehilangan koneksi dengan makna aktivitas

Secara biologis, otak mencari dopamin, zat yang berkaitan dengan minat dan motivasi. Saat rangsangan rendah, sistem motivasi seperti “turun daya”, lalu muncul rasa hampa atau lesu.

Menariknya, bosan itu punya dua sisi:
▶️Bosan ringan bisa jadi sinyal sehat bahwa kita butuh variasi atau tantangan baru.
▶️Bosan kronis bisa terkait dengan kehilangan arah, bahkan gejala depresi jika disertai hilangnya minat hampir pada banyak hal.

Bosan bukan sekadar “tidak ada kerjaan”. Kadang justru muncul di tengah kesibukan, ketika hati tidak terlibat.

Kalau dipikir-pikir, bosan itu seperti alarm lembut yang berkata: “Ada sesuatu yang perlu dihidupkan kembali.”

☕☕☕☕☕☕☕

Bu Elly Risman terkenal sebagai psikolog yang menekankan emosi bosan sebagai deteksi dini masalah, bergandeng dalam istilah BLAST. B untuk boring, LAST, nanti saja kita bahas.

Bosan bukan sekadar “tidak ada kerjaan”, tapi bisa menjadi sinyal dini masalah perilaku yang lebih serius.

Jika berlangsung lama dan tidak dikelola dengan sehat, otak akan mencari stimulasi pengganti, yang kadang muncul dalam bentuk perilaku berisiko seperti penyalahgunaan zat, makan berlebihan, cyberbullying, atau pelanggaran ringan.

Ada fenomena bernama boredom proneness. Orang dengan toleransi rendah terhadap kebosanan dan kontrol diri yang lemah lebih rentan pada perilaku berisiko, mulai dari pelanggaran kecil sampai tindakan agresif.

Jadi bukan “bosan biasa”, melainkan kombinasi bosan kronis + impulsivitas + kurang empati + kebutuhan sensasi tinggi.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam psikologi kriminal, dikenal motif “thrill-seeking” atau mencari sensasi, yang kadang beririsan dengan kebosanan kronis dan kebutuhan tantangan ekstrem. Tapi penting dicatat: bosan bukan penyebab tunggal kriminalitas, biasanya ada faktor kepribadian, empati rendah, dan lingkungan juga.

Contoh nyata yang sering dibahas di literatur psikologi adalah kasus Nathan Leopold dan Richard Loeb (1924). Mereka berasal dari keluarga berada dan mengaku melakukan pembunuhan sebagian karena ingin merasakan sensasi intelektual dan “tantangan sempurna”.

Dalam analisis psikologis, motif mereka sering dikaitkan dengan pencarian sensasi dan kekosongan makna, bukan kebutuhan ekonomi.

Dalam skala kecil, saya juga pernah konseling anak mencuri. Ketika ditanya motifnya, ya pengen nyoba aja, sensasi melakukan pelanggaran aturan. Bosan jadi anak baik, cari sensari kriminal. Menarik ya, emosi yang terlihat sepele, ternyata, kalau dibiarkan dan bertemu faktor yang salah, bisa berkembang ke arah yang gelap.

Jangan bosan ya, in syaa Allah masih ada 18 seri emosi lagi. Hahaha.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.