Di depan saya, seorang santri umur 13 atau 14 tahun, terduga pelaku pelecehan seksual dengan korban adik kelasnya usia 12 tahun. Mereka berdua tidak punya hubungan khusus, tidak saling kenal. Hanya bertemu di satu malam di ruang perawatan kesehatan sebuah pondok, dimana terjadinya kejadian buruk itu.
Selama membangun rapport saya hanya melihat wajah yang datar, tapi ada sudut mata penuh luka yang jujur terlihat. Bahkan ketika saya mulai membahas kenapa dia perlu bertemu saya, dia tidak menyangkal : Ya, saya sudah melakukan perbuatan buruk. Tidak saya tangkap rasa bersalah, takut, dan hanya satu jenis emosi yang bisa saya sematkan : hampa.
Kemudian saya ucapkan kalimat : Bu Ani di sini untuk mendengarkan kesedihan kamu dan rasa kesepian kamu. Pasti ada alasan kenapa kamu melakukan perbuatan buruk itu. Cerita saja, bu ani tahu kamu bukan orang jahat.
Singkat cerita, anak ini mengingat masa SD nya dengan rasa sepi yang mendalam. Ayah ibunya berjualan di pasar, sehari semalam, masuk rumah hanya untuk istirahat sebentar. Tiap pulang sekolah, dia ambil kunci di bawah keset, masuk rumah yang kosong tanpa penghuni. Sepi, sendiri, setiap hari. Hampa hidupnya semakin dalam.
Kemudian, anak ini mengenal nikmatnya main gawai. Mulai dari gaming sampai pada akses pornografi. Dia kenal pornografi dari kelas 2 SD, sekarang kelas VIII SMP sudah jadi pecandu. Malam di ruang kesehatan itu, dia hanya merasa sepi, dingin, dan ternyata ada seseorang dalam gelap yang dia dekati. Dia praktikkan adegan yang mungkin sudah sekian kali dia lihat di layar.
Pekerjaan berkeliling dari satu lembaga ke lembaga pendidikan sangat membuat saya semangat, tapi jadi konselor freelance untuk kasus seksual sangat menguras energi. Dan kasus emosi hampa berujung menjadi pelaku pelecehan ini, sungguh membuat kepala pening.
☕☕☕☕☕☕☕
Masih ingat BLAST? Kondisi deteksi dini masalah perilaku yang kalau kita amati bisa jadi pencegahnya. Emosi hampa sangat berkitan dengan L nya, loneliness atau kesepian.
Emosi hampa adalah perasaan kosong secara batin, seolah tidak ada makna, semangat, atau keterhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Seseorang bisa merasa menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi di dalam dirinya terasa datar dan tidak ada kepuasan emosional.
Perasaan ini sering berkaitan dengan kesepian, karena kurangnya hubungan yang hangat, dukungan emosional, atau rasa dimengerti oleh orang lain dapat membuat seseorang merasa terputus dari lingkungan sekitarnya.
Ketika kesepian berlangsung lama, ia dapat memperkuat perasaan hampa, sehingga seseorang merasa sendirian secara emosional meskipun berada di tengah banyak orang.
☕☕☕☕☕☕☕
Menurut penelitian, emosi hampa dapat dilihat dalam dinamika berikut:
▶️Rasa terputus dari diri dan orang lain.
Emosi hampa sering digambarkan sebagai perasaan kosong dan mati rasa. Individu merasa tidak terhubung dengan diri sendiri maupun orang lain. Kondisi ini juga disertai hilangnya makna dan tujuan hidup.
▶️Berbeda tetapi berkaitan dengan kesepian.
Emosi hampa berbeda dari kesepian, meskipun keduanya sering muncul bersama. Kesepian berkaitan dengan kurangnya hubungan sosial. Sementara itu, emosi hampa berkaitan dengan perasaan kosong di dalam diri.
▶️Hidup terasa otomatis.
Orang yang mengalami emosi hampa sering merasa menjalani hidup secara mekanis. Aktivitas dilakukan tanpa keterlibatan emosi. Hidup terasa datar dan tidak bermakna.
▶️Berkaitan dengan perilaku berisiko.
Emosi hampa yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesehatan mental. Penelitian menunjukkan kaitannya dengan impulsivitas dan penurunan fungsi sosial. Hal ini terjadi karena individu mencoba mengisi kekosongan emosionalnya.
Jelas sekali, bahwa emosi hampa ini berbahaya. Saya pernah bahas emosi dengan peserta usia 10-13 tahun. Kaget, karena mereka bilang sering merasakannya. Iya kan, gen alpha suka kesepian, kita gabut, kadang main hape juga uda bosen, teman-teman ga asyik, ortu gak ngertiin kita. Hampa deh.
☕☕☕☕☕☕☕
Pendekatan spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah dapat menjadi salah satu cara untuk mengatasi emosi hampa. Melalui ibadah, doa, dan refleksi spiritual, seseorang dapat menemukan kembali rasa makna, ketenangan, dan keterhubungan yang hilang.
Kedekatan dengan Allah juga membantu individu merasakan tujuan hidup yang lebih dalam dan memberikan ketenangan batin.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


