Haruskah Aku Selalu Mengalah?

Saya tidak menyangka perkataan di atas muncul begitu saja dari mulut anak pertama saya, Muhammad Fahmi Al Faqih. Hari itu memang ia tengah berselisih hebat dengan adiknya, karena dipicu oleh sikap adiknya yang memaksa untuk meminjam mainan miliknya. Padahal ia sedang asyik-asyiknya bermain dengan barang miliknya tersebut.

Reaksi kami sebagai orang tua adalah memintanya untuk meminjamkan mainannya, toh ia sudah sering memainkannya. Mendapatkan permintaan kami tersebut, tiba-tiba ia berkata, “Haruskah Aku Selalu Mengalah?”

Paradigma kita dalam konteks ini adalah selalu meminta orang atau anak yang lebih dewasa untuk mengalah. Memang pemahaman ini juga dipicu oleh fakta bahwa orang atau anak yang lebih dewasa biasanya lebih mudah diajak kompromi.

Atau dengan fakta yang lain jika sang adik lebih mudah diajak kompromi, maka sang adik pun akan sering dituntut untuk mengalah. Akhirnya parameter mengalah telah bergeser dari besar kecil menjadi siapa yang mudah ditawar untuk melakukan kompromi.

Akan tetapi apakah sebenarnya orang yang lebih mudah untuk diajak kompromi dapat dan baik untuk selalu mengalah ?. Padahal seringkali pertikaian dipicu oleh pihak-pihak yang sebenarnya tidak mempunyai hak untuk memilikinya. Ada beberapa pengaruh negatif saat seorang anak selalu diminta untuk mengalah atau anak yang selalu “dimenangkan” tanpa melihat fakta sesungguhnya:

  1. Kita sedang membangun pada diri anak yang dimenangkan sebuah sikap untuk selalu ingin menang, sehingga pada titik yang lain akan menghambat pertumbuhan sikap empati terhadap saudaranya.
  2. Konsep hak dan kepemilikan akan rancu terbangun dalam diri anak ini. Karena baginya ia bisa mendapatkan barang yang ia minati, toh ia mempunyai orang yang akan selalu membantunya untuk memiliki suatu barang.
  3. Kurang terbangunnya rasa hormat terhadap orang lain, karena ia begitu mudah memiliki barang yang dikehendakinya. Ia memandang orang lain harus menuruti kemauannya.
  4. Bagi anak yang sering dikalahkan maka akan tumbuh perasaan kurang percaya diri, karena wilayah otonomi dirinya dapat dimasuki orang lain tanpa mampu ia tolak.

Hilangnya rasa percaya terhadap orang lain, karena orangtuanya sendiri justru tidak mendukung dirinya untuk komitmen dan tanggung jawab terhadap barang miliknya. Kesiapan untuk mengalah sebenarnya adalah sikap yang baik untuk dibangun pada diri anak. Anak-anak yang mudah mengalah cenderung mampu berempati dan berinteraksi dengan baik terhadap teman-temannya.

Namun mengalah itu pun harus dengan alasan-alasan yang rasional. Sikap mengalah yang hanya berdasarkan pada adanya tekanan-tekanan fisik maupun mental hanya akan membuat anak kurang percaya diri, merasa dikucilkan bahkan terbangun rasa dendam terhadap orang-orang yang mengalahkannya.

Kita mungkin mempunyai anak yang terlalu suka mengalah. Ia akan dengan mudah memberikan barangnya pada orang yang menghendakinya. Pada anak seperti inilah justru kita harus bangun rasa kepemilikan dan hak yang kuat, sehingga akan muncul keseimbangan antara mengalah dan memiliki dengan kuat.

Sebaliknya mungkin kita juga memiliki anak yang tidak mau mengalah dengan orang lain. Setiap kesempatan selalu mengharuskan ia yang menang dan terdepan. Terhadap anak seperti kita perlu membiasakannya untuk mengalah kepada orang lain.

Anak dapat mengalah dan tidak mengalah atas apa yang dimiliki dan dihadapi, tetapi itu semua harus dengan alasan yang logis dan rasional.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari “Buku Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.