Seseorang pemuda bercerita panjang lebar tentang dirinya yang langganan olimpiade. Tanpa sadar di sekitarnya tak satu yang pernah ikut, sampai mengira dia anak yang sombong.
Seorang ibu membanggakan anaknya yang sangat penurut. Ternyata, di kemudian hari, anak yang penurut ini jadi korban pelecehan seksual karena dia tidak terbiasa berkata ‘tidak’ pada siapapun.
Seorang suami membanggakan istrinya yang ibu rumah tangga, fokus di rumah, salehah dan penurut pada suami. Di kemudian hari akhirnya, mereka berpisah karena istrinya yang selingkuh.
Bangga adalah emosi positif, tapi dibalik itu ada banyak fenomena kelam yang mengintai. Mari kita pelajari.
☕☕☕☕☕☕☕
Emosi bangga adalah perasaan senang dan penghargaan terhadap diri sendiri atau orang lain ketika seseorang merasa telah melakukan sesuatu dengan baik atau mencapai sesuatu yang bernilai.
Emosi ini muncul ketika usaha, kemampuan, atau nilai yang dimiliki diakui, baik oleh diri sendiri maupun oleh orang lain.
Ekspresi bangga biasanya terlihat dari postur tubuh yang lebih tegak, senyum puas, dan wajah yang tampak percaya diri.
Secara psikologis, emosi bangga dapat memberi energi positif karena membuat seseorang merasa mampu, dihargai, dan termotivasi untuk terus melakukan hal yang baik atau berprestasi.
☕☕☕☕☕☕☕
Bangga atas diri sendiri adalah perasaan puas terhadap usaha, kemampuan, atau pencapaian yang kita lakukan sendiri. Emosi ini berkaitan dengan rasa percaya diri dan penghargaan terhadap kerja keras pribadi.
Bangga pada diri sendiri bisa sehat maupun tidak sehat. Bangga yang sehat muncul ketika seseorang menghargai usaha dan pencapaiannya secara wajar sehingga menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi untuk terus berkembang.
Sebaliknya, bangga yang tidak sehat terjadi ketika kebanggaan berubah menjadi kesombongan, merasa diri lebih hebat, sulit menerima kritik, atau merendahkan orang lain.
☕☕☕☕☕☕☕
Bangga atas orang lain adalah perasaan senang dan bahagia melihat keberhasilan atau kebaikan orang lain, seperti anak, pasangan, atau teman.
Emosi ini lebih bersifat relasional karena muncul dari kedekatan, kasih sayang, dan dukungan terhadap orang tersebut.
Bangga pada orang lain juga memiliki dua sisi. Bangga yang sehat terlihat ketika seseorang tulus menghargai keberhasilan orang lain, memberi dukungan, dan ikut bersyukur atas kebaikan yang terjadi.
Namun bangga yang tidak sehat muncul ketika kebanggaan itu berubah menjadi kebanggaan yang berlebihan atau bersifat “memiliki”, misalnya menjadikan prestasi orang lain sebagai alat meninggikan diri, atau menaruh harapan terlalu tinggi sehingga mudah kecewa ketika orang tersebut melakukan kesalahan.
☕☕☕☕☕☕☕
Kisah Iblis memberi pelajaran tentang bahaya kebanggaan yang tidak sehat. Iblis dahulu tekun beribadah, tetapi menolak perintah Allah untuk sujud kepada Adam karena merasa lebih mulia, diciptakan dari api, sedangkan Adam dari tanah.
Kebanggaan itu berubah menjadi kesombongan yang membuatnya terusir. Sejak itu, Iblis merasa bangga ketika berhasil menipu manusia dan menumbuhkan ujub dalam hati mereka.
Kisah ini mengingatkan bahwa kebanggaan yang tidak terkendali dapat menutup hati dari kebenaran, sehingga Islam mengajarkan agar kebanggaan selalu disertai kerendahan hati dan kesadaran bahwa semua kebaikan berasal dari Allah.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


