Literasi Emosi Part 24: Kasihan

Pada bulan Ramadhan ini, kita menyaksikan banyak sekali kegiatan berbagi. Misalnya, di jalanan menjelang maghrib ada acara bagi takjil gratis, bahkan gereja pun melakukannya. Kenapa? Kasihan pada orang puasa, lapar seharian, mari kita bantu berbuka.

Salah satu lembaga binaan saya memilih panti yang merawat bayi terlantar, sekali lagi karena kasihan pada bayi-bayi itu. Komunitas yang saya adalah anggotanya memilih berbagi di panti asuhan. Masjid dekat tempat tinggal saya memilih program santunan dhuafa. Ikatan alumni sekolah saya menyalurkan beasiswa untuk pelajar tidak mampu.

Semua berawal dari satu emosi, kasihan pada mereka. Mari kita bahas emosi yang indah ini.

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi kasihan adalah perasaan iba yang muncul ketika seseorang melihat atau mengetahui penderitaan, kesulitan, atau kelemahan orang lain.

Emosi ini membuat hati terasa tersentuh dan muncul dorongan untuk membantu, melindungi, atau meringankan beban orang tersebut.

Secara psikologis, kasihan adalah respons awal terhadap penderitaan orang lain. Ekspresinya bisa terlihat dari wajah yang melunak, suara yang lebih lembut, perhatian yang meningkat, atau keinginan spontan untuk menolong.

Emosi kasihan sering menjadi jembatan menuju empati dan sikap prososial. Kasihan adalah emosi, empati adalah sikap batin, dan menolong adalah perilaku.

Kasihan membuat seseorang menyadari bahwa orang lain sedang menderita, sementara empati membuat seseorang mencoba memahami dan merasakan keadaan orang tersebut dari sudut pandangnya. Karena itu, kasihan sering menjadi langkah awal yang mendorong munculnya kepedulian dan tindakan menolong.

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi kasihan dapat berkembang menjadi sehat maupun tidak sehat. Kasihan yang sehat terjadi ketika perasaan iba mendorong seseorang memahami penderitaan orang lain dan berkembang menjadi empati, yaitu keinginan untuk mendengarkan, menghargai, dan membantu tanpa merendahkan.

Dalam bentuk ini, kasihan menjadi pintu masuk bagi kepedulian dan tindakan menolong.

Sebaliknya, kasihan yang tidak sehat muncul ketika perasaan iba berubah menjadi cara memandang orang lain sebagai lebih lemah atau lebih rendah.

Dalam kondisi ini, kasihan tidak lagi melahirkan empati, tetapi menciptakan jarak dan sikap merendahkan, seolah-olah orang yang dikasihani tidak mampu atau tidak setara.

Kita mengenal istilah aku sangat tidak suka dikasihani. Kasihan yang matang seharusnya berkembang menjadi empati yang menghargai martabat orang lain, jangan sampai terkesan merendahkan.

☕☕☕☕☕☕☕

Ramadhan melatih manusia merasakan lapar, menahan diri, dan lebih peka terhadap penderitaan sesama, sehingga rasa kasihan berkembang menjadi kepedulian yang lebih dalam dan mendorong tindakan nyata untuk membantu.

Dengan merasakan emosi kasihan, kita sedang sejalan dengan satu sifat Allah, Ar Rahim. Kita dianjurkan memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama kepada yang lemah atau sedang kesulitan.

Islam juga menekankan bahwa kasihan tidak boleh berubah menjadi sikap merendahkan. Membantu orang lain harus tetap menjaga martabat mereka. Dengan demikian, kasihan seharusnya berkembang menjadi rahmah yang disertai empati dan penghormatan.

Jangan sampai kita jarang merasakan kasihan. Orang yang jarang atau tidak pernah merasa kasihan dapat mengalami kelemahan dalam empati.

Rasa kasihan merupakan dasar berkembangnya empati dan hati nurani. Jika kemampuan ini sangat lemah, seseorang bisa menjadi kurang peka terhadap penderitaan orang lain.

Dalam bentuk ekstrem, kondisi ini jadi bagian gejala psikopati, yaitu kepribadian yang minim empati dan rasa bersalah, malah cenderung menikmati penderitaan orang lain.

☕☕☕☕☕☕☕

Sekian, edisi kali ini. Silahkan beri masukan, bahas jenis emosi apa besok? Silahkan juga dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.