Literasi Emosi Part 27: Cinta

Pernah suatu kali saya konseling pasutri berusia 50 tahunan, sudah menikah lebih dari 30 tahun. Saya yakin mereka pernah saling cinta, tapi kenapa sampai isu cerai mencuat. Maka salah satu pertanyaan pemicu diskusi di ruang terpisah : apakah masih cinta pada pasangan? Istri menjawab tegas, sudah tidak ada sepertinya, toh dia juga tidak cinta saya lagi. Suami menjawab, memangnya relevan bicara cinta buat orang setua kami, ini kan soal harga diri. Wah, ini bakal menantang sesi konseling bakal panjang batin saya.

Seorang ibu terindikasi terlalu cinta pada anaknya, sampai protektif, sampai anaknya merasa terkekang dan melakukan ulah emosi tak terkendali. Dalam sesi konsultasi, saya sampaikan, ibu, cinta itu boleh, tapi mari lihat perasaan anak juga. Sang ibu menangis tersedu sambil menceritakan bagaimana 10 tahun ini, hidupnya keluar masuk RS karena sakit anaknya. Menjaga anaknya dengan protektif adalah upaya agar anaknya tak sering masuk IGD.

Saya juga pernah konseling, dua pemuda yang saling mencintai. Dalam ruang terpisah, sama-sama susah tidur malam karena terbayang, dan tersiksa karena tak bisa melupakan dan terus gelisah karena tahu ini salah.

Oh ternyata benar kata Si Patkay, cinta deritanya tiada akhir. Mari kita bedah emosi cinta ini.

☕☕☕☕☕☕☕

Cinta adalah perasaan suka yang mendalam, disertai keterikatan, kepedulian, dan keinginan untuk menjaga serta memberi kebaikan pada yang dicintai.

Emosi cinta adalah salah satu emosi paling kuat dalam diri manusia. Cinta mampu menghadirkan kebahagiaan yang sangat dalam, karena cinta membuat seseorang merasa terhubung, dihargai, dan berarti bagi orang lain.

Ketika cinta berjalan baik, hati bisa dipenuhi rasa hangat, harapan, dan ketenangan.

Namun kekuatan yang sama juga membuat cinta dapat melukai dengan sangat dalam. Ketika terjadi pengkhianatan, kehilangan, atau perpisahan, bagian hati yang pernah terbuka untuk cinta itu terasa seperti terluka.

Karena cinta melibatkan kedekatan emosional yang sangat kuat, maka rasa kehilangan atau kekecewaan pun bisa terasa sangat mendalam.

Itulah sebabnya cinta sering disebut emosi yang paling dahsyat, memiliki kekuatan untuk mengangkat hati manusia ke puncak kebahagiaan, sekaligus membuatnya merasakan luka yang paling dalam ketika hubungan itu retak atau hilang. Ingat kisah kekuatan Ali mengangkat gerbang besi dengan perkasa tapi lemah tak berdaya mengangkat jenazah istrinya?

☕☕☕☕☕☕☕

Emosi cinta sering berawal dari rasa kagum. Ketika seseorang melihat kebaikan, keindahan, atau nilai yang tinggi pada sesuatu, kekaguman itu dapat berkembang menjadi rasa ingin dekat, menjaga, dan memiliki hubungan yang lebih dalam, itulah yang disebut cinta.

Dalam kehidupan manusia, cinta bisa muncul dalam beberapa bentuk. Ada cinta kepada sesama manusia, seperti kepada pasangan, keluarga, dan sahabat. Ada juga cinta kepada dunia, seperti harta, kekuasaan, atau kedudukan. Selain itu, ada cinta kepada nilai kebaikan, seperti kejujuran, ilmu, dan amal saleh.

Dalam Islam, bentuk cinta yang paling tinggi adalah cinta spiritual, yaitu cinta kepada Allah dan kepada Muhammad sebagai Rasul-Nya.

Cinta juga memiliki dua sisi. Cinta yang sehat membuat seseorang menjadi lebih baik, lebih peduli, bertanggung jawab, dan mendekat pada kebaikan. Sebaliknya, cinta yang tidak sehat terjadi ketika cinta berubah menjadi keterikatan berlebihan, obsesi, atau membuat seseorang kehilangan keseimbangan hingga melupakan nilai, akal sehat, dan tanggung jawab.

☕☕☕☕☕☕☕

Dalam perspektif neurologi, emosi cinta adalah hasil kerja beberapa sistem di otak yang berkaitan dengan reward, keterikatan, dan regulasi emosi.

Ketika seseorang jatuh cinta, area otak seperti ventral tegmental area (VTA) dan nucleus accumbens menjadi aktif. Area ini melepaskan dopamin, zat kimia yang menimbulkan rasa senang, energi, dan fokus pada orang yang dicintai.

Cinta juga melibatkan hormon seperti oksitosin dan vasopresin, yang berperan dalam membangun rasa kedekatan, kepercayaan, dan ikatan emosional. Karena itu, hubungan yang penuh kasih dapat membuat seseorang merasa aman dan terhubung.

Penelitian juga menunjukkan bahwa saat seseorang jatuh cinta, beberapa bagian otak yang terkait dengan penilaian kritis dan kewaspadaan sosial menjadi kurang aktif. Inilah salah satu alasan mengapa orang yang sedang jatuh cinta sering melihat orang yang dicintainya secara lebih positif.

Secara singkat, dari sudut neurologi, cinta adalah kombinasi aktivitas sistem reward, hormon keterikatan, dan regulasi emosi yang membuat manusia merasa bahagia, terhubung, dan ingin dekat dengan orang yang dicintainya.

☕☕☕☕☕☕☕

Bagaimana, sudah siapkah menanggung emosi cinta? Ini emosi yang sangat menyenangkan dan mendebarkan. Tapi ingat, jika cintamu semakin dalam, bersiap untuk kecewa dan terluka, kecuali cinta untuk Sang Maha Pengasih dan Penyayang, itu akan membawa kepada rasa damai dan tenang. Dua emosi pamungkas yang akan kita bahas selanjutnya, in syaa Allah.

Sekian, edisi kali ini. Silahkan dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.

Bunda Ani Ch

Master Trainer Griya Parenting Indonesia

Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak

Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga

___________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.