Homo homini socio adalah sebuah istilah yang mempunyai arti bahwa manusia membutuhkan manusia lain, atau sebagai manusia kita harus bisa bersosialisasi dengan masyarakat. Di dalam kehidupannya, manusi tidak dapat hidup dalam kesendirian. Manusia memiliki keinginan untuk bersosialisasi dengan sesamanya. Ini merupakan salah satu kodrat manusia yang ingin selalu berhubungan dengan manusia lain.
Setiap kelompok sosial memiliki topik bahasan komunikasi tertentu yang membuat anggotanya bisa bertahan lama bersama. Saya pernah melihat ibu-ibu bisa bertahan lama berkumpul untuk ngerumpi tentang baju model terbaru, resep masakan lezat, atau masalah anak-anak yang tidak ada habisnya.
Saya juga pernah melihat bapak-bapak bisa bertahan lama berkumpul untuk berolahraga bersama, berdiskusi tentang sepakbola, atau juga masalah politik. Nah, kalau saya lihat cewek-cewek, mereka bisa berjam-jam di dalam kamar jika sedang membahas cowok-cowok keren.
Ternyata anak-anak juga memiliki topik bahasan komunikasi khusus yang membuat mereka tahan berkumpul, yang jelas bukan tentang pelajaran sekolah mereka. Anak-anak akan lebih tertarik untuk ngobrol tentang permainan dan tampaknya games online menjadi salah satu topik seru untuk saat ini.
Topik bahasan komunikasi khusus ini telah menjadi ukuran bagi seorang anak apakah ia akan diterima dengan baik oleh teman-temannya atau tidak. Saya melihat beberapa alasan mengapa games online yang menjadi topik bahasan komunikasi khusus di kalangan anak-anak saat ini, diantaranya:
1. Tidak Keren jika Tidak Bisa Bermaian Games Online
Ada anggapan bahwa jika seorang anak tidak tahu atau tidak bisa bermain games online berarti dia tidak keren, jika tidak keren itu artinya kurang diterima teman-temannya. Sebagaimana jika sedang musim bola, jika tahu bola maka dianggap keren, jika tidak tahu bola maka dianggap tidak keren.
2. Mendapat Banyak Pujian jika Menguasai Games Online
Jika seorang anak menguasai topik-topik tentang games online, dia akan mendapat banyak pujian atau sanjungan. Sebaliknya, jika dia gagap teknologi (GAPTEK) games online maka dia akan dipandang sebelah mata.
3. Dianggap Pintar
Seorang anak yang mahir atau ahli dalam bermain games online dianggap pintar. Menjadi anak pintar pastinya menjadi dambaan setiap anak.
4. Terkenal dikalangan Temannya
Seorang anak yang pandai bermain games pastinya akan terkenal di kalangan teman-temannya, itu artinya menjadi sumbangan untuk nama baiknya.
Para peneliti, Jonas Linderoth and Camilla Olsson di University of Gothenburg dalam sebuah terbitan Swedish Media Council menunjukkan bahwa games online memiliki fungsi sebagai social meeting places.
“Where players from all over the world come into contact and play together. The social aspect of the games is often the key element for the players, something that has been overlooked by many people.”
Memang dalam komunitas pemain games online juga terdapat ikatan psikologis yang membuat mereka merasa dekat, bahkan ada rasa kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan diantara mereka. Berikut beberapa hal yang membuat mereka merasa terikat satu sama lain ketika bermain games online:
- Setiap anak memiliki kesempatan untuk menunjukkan eksistensi diri mereka, who am i and what i can do. Dalam komunitas games, melalui tampilan nama-nama dan skor yang ditampilkan setiap anak bisa menunjukkan dirinya dan kepiawaiannya.
- Setiap anak bisa merasakan bahwa komunikasi antar mereka bisa nyambung dan gayeng. Bahkan mereka bisa saling curhat yang dimulai dari materi games.
- Setiap anak bisa saling membantu masalah yang diungkapkan temannya, karena mereka mempunyai satu kegemaran yang sama.
Games online telah menjawab kebutuhan anak akan penerimaan sosial. Dalam interaksi sosial di dunia semacam ini, memang terdapat kesempatan untuk mengembangkan keterampilan sosial anak seperti bagaimana mengungkapkan diri, bagaimana berkomunikasi, bagaimana memahami orang lain, bagaimana berempati terhadap kondisi orang lain, dan bagaimana menumbuhkan perasaan ingin membantu orang lain. Hubungan sosial serupa terjadi dengan mediasi sarana dunia maya yang lain, misalnya jejaring sosial Facebook atau Twitter.
Interaksi sosial di dunia maya memang dipandang sebagai alternatif cara berkomunikasi yang menarik. Namun sejatinya, komunikasi dalam dunia maya dan komunikasi pada dunia nyata tetaplah dua kegiatan yang sangat berbeda.
Dalam komunikasi dunia maya, terdapat kurangnya komunikasi face to face (tatap muka) dan secara tidak langsung telah mengikis keterampilan sosial seperti kemampuan membaca bahasa tubuh dan kemampuan menangkap respon emosional.
Setiap orang memerlukan kontak tatap muka untuk dapat mempertahankan social skill yang dimilikinya. Dengan social skill manusia akan tetap mampu memenuhi kodratnya sebagai makhluk sosial.
Saya yakin kita sebagai orangtua juga tetap menginginkan putra-putri kita tumbuh menjadi pribadi yang mampu membaca bahasa tubuh dan merespon emosi kita. Dengan tetap menempatkan kegemaran games online anak sebagai selingan bukan sebagai hal yang pokok.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Awas Anak Kecanduan Games”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


