Seorang teman berkata, karena bu Ani mendalami psikologi, coba baca buku karya Al-Ghazali, judulnya The Alchemy of Happiness, Kimia Kebahagiaan.
Menarik sekali judulnya. Ilmu kimia biasanya bicara tentang unsur, apakah buku ini akan membahas unsur-unsur kebahagiaan?
Ternyata, setelah dibaca, ada definisi kimia yang lain. Kata alkimia bermakna seni mengubah sesuatu yang bernilai rendah menjadi bernilai tinggi.
Bukunya tipis, tapi sejak bagian awal, buku ini seperti membuka ruang sunyi di dalam diri, seperti diajak bercermin.
Pelan-pelan, kita akan sadar mungkin sudah terlalu sibuk mencari kebahagiaan di luar. Mengejar hal-hal yang terlihat, berharap dari pengakuan, dari pencapaian, padahal hati sendiri belum benar-benar tenang.
Buku ini bercerita tentang diri manusia, tentang hati yang sering kali lelah, tapi tidak kita dengarkan. Tentang jiwa yang sebenarnya rindu, tapi kita sibukkan dengan dunia.
Tanpa terasa, saya seperti diingatkan : berapa banyak hal yang selama ini saya kejar, tapi ternyata tidak benar-benar mengisi.
Yang paling terasa adalah ketika Al-Ghazali menekankan tentang hati. Bahwa di sanalah semuanya bermula. Jika hati kita penuh, hidup terasa cukup, meski sederhana. Tapi jika hati kosong, bahkan hal-hal besar pun terasa tidak berarti.
Jika hati bersih → hidup tenang
Jika hati rusak → hidup gelisah
Saya pernah konseling orang kaya raya, kekayaannya tersebar tidak hanya di Indonesia tapi di berbagai negara. Dengan kegelisahan hatinya, sampai datang segitu jauhnya dari luar kota hanya berharap mendapat rasa ‘lebih tenang’. Kekayaan sebanyak itu tak menjamin hadirnya rasa tenang dalam hidup.
Saya pernah mendampingi pasien kanker stadium terminal. Seluruh tubuhnya lemah, rasa nyeri tersebar di seluruh bagian tubuh, pernyataan dokter jelas : kita hanya bisa menunggu kematian datang. Pendekatan medisnya masuk tahap paliatif : Fokusnya bukan menyembuhkan penyakit, melainkan meringankan gejala fisik (nyeri), serta memberi dukungan psikologis, sosial, dan spiritual. Yang menarik bahwa hatinya tidak gelisah, bertemu orang masih senyum, rasa tenang terpancar bahkan dalam kondisi ini.
Tenang, emosi yang diharapkan semua manusia, mari uraikan emosi ini.
☕☕☕☕☕☕☕
Buku Kimia Kebahagiaan ini memberikan pengalaman pemaknaan menuju ‘rasa tenang’. Terdiri dari 4 bagian, mengenal diri, mengenal Allah, mengenal dunia, dan mengenal akhirat.
Secara detil silahkan baca sendiri. Secara ringkas, kebahagiaan itu bukan tentang memiliki lebih banyak, tapi tentang kembali. Kembali mengenal diri, kembali menata hati, dan kembali mendekat kepada Allah.
Menurut Al-Ghazali, kebahagiaan sejati tidaklah lahir dari harta yang kita miliki, bukan pula dari status yang kita sandang, ataupun dari kesenangan fisik yang hanya sesaat terasa. Bahagia tumbuh dari kedekatan seorang hamba kepada Allah, dari hati yang jernih, yang tidak lagi dipenuhi kegelisahan, iri, dan keterikatan berlebihan pada dunia.
☕☕☕☕☕☕☕
Bagaimana cara kita menggapai rasa tenang, menuju kebahagiaan ini?
“Proses Kimia Jiwa” dalam karya Al-Ghazali ini menjelaskan bahwa intinya adalah perubahan diri, bukan sekadar tahu yang baik, tapi berproses menjadi baik. Ada 3 proses spiritual yang perlu kita jalani:
1️⃣Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)
Proses membersihkan “kotoran hati” seperti iri, sombong, mudah marah, dan merasa kurang terus.
Contoh: Seorang ibu merasa kesal melihat anak orang lain lebih berprestasi. Dengan tazkiyatun nafs, hatinya akan berkata “Ini iri ya…”
Lalu ibu ini belajar menggantinya dengan doa dan syukur. Di sini, bukan emosinya yang langsung hilang, tapi kesadarannya mulai hidup.
2️⃣ Mujahadah (Melawan Hawa Nafsu)
Kalau tazkiyah itu “membersihkan”, maka mujahadah adalah perjuangannya. Menjadi baik itu seringkali tidak nyaman.
Contoh: ketika ada hal yang mengganggu diri kita, rasanta ingin marah, tapi memilih diam. Saat ada yang menyakiti, rasanya ingin membalas, tapi memilih memaafkan. Saat badan terasa remuk, ingin rasanya malas, tapi tetap bangun untuk shalat.
Perjuangan bukan soal mudah atau tidak, tapi soal mau atau tidak melawan diri sendiri.
3️⃣ Zuhud (Tidak Diperbudak Dunia)
Zuhud sering disalahpahami sebagai “meninggalkan dunia”.
Padahal maksudnya dunia tetap di tangan, tapi tidak menguasai hati
Contoh, punya harta, tapi tidak sombong, punya jabatan, tapi tidak bergantung pada pujian, kehilangan sesuatu, tapi tidak hancur.
Jadi ukurannya bukan “punya atau tidak”,
tapi terikat atau tidak.
Tujuan akhir semua proses ini bermuara pada satu hal, yaitu mengganti sifat buruk menjadi sifat mulia
Contohnya :
iri → syukur
marah → sabar
sombong → rendah hati
gelisah → tenang
Jiwa kita seperti logam mentah, butuh proses “panas” (ujian & perjuangan) menuju hasil akhir “emas” (akhlak mulia). Tanpa proses, tidak ada perubahan. Tanpa perjuangan, tidak ada kemurnian.
Kadang kita ingin langsung jadi sabar, langsung ikhlas, langsung tenang. Padahal menurut Al-Ghazali, yang penting bukan langsung berubah, tapi mau menjalani prosesnya.
☕☕☕☕☕☕☕
Sekian, edisi kali ini. Semoga kita bisa menggapai rasa tenang, sebagai bekal untuk kembali.
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr 89: 27–30)
Silahkan dengan senang hati berbagi tulisan ini ke WAG manapun, itu akan jadi kebahagiaan saya juga.
Bunda Ani Ch
Master Trainer Griya Parenting Indonesia
Master Trainer Tuntas Tumbuh Kembang Anak
Praktisi Pendidikan Anak dan Keluarga
___________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


