Kenakalan = Kecerdasan

Kiki adalah anak laki-laki 3,5 tahun. Ia anak semata wayang dari keluarga Bapak Edy. Orang tuanya sangat menyayangi Kiki. Suatu hari ia diberi hadiah oleh papanya sebuah mainan pesawat helikopter yang bagus.

Hadiah mahal ini cukup layak bagi Kiki karena sikap-sikapnya selama ini yang baik dan lucu. Ia telah membuat kedua orangtuanya sangat berbahagia.

Kiki dengan antusias menerima hadiah tersebut. Dengan mata yang berbinar-binar ia mulai membuka kardus pembungkus mainan pesawat helikopternya.

Hari pertama, Kiki sangat takjub dengan lampu-lampu dan gerakan maju mundur pesawat tersebut. Ia bermain sepanjang hari dengan pesawatnya tanpa seorang pun mampu membujuknya untuk berhenti sejenak guna makan atau mandi.

Hari kedua, ia mencoba sesuatu yang lain terhadap pesawatnya. Gerakan maju dan mundur pesawat serta variasi lampu yang menyala memang membuatnya takjub untuk hari pertama, tetapi gerakan dan lampu tersebut tidak cukup bagi otaknya yang cerdas untuk hari kedua.

Ia mulai melakukan percobaan-percobaan sederhana dengan memiringkan ke kiri pesawatnya lalu menyalakan mesinnya. Ia mendapatkan variasi gerakan yang berbeda dari percobaannya kali ini.

Tetapi tiba-tiba ia mendengar sebuah teguran halus dari ibunya, “Kiki, pesawatmu bisa rusak jika kamu miringkan ke kiri.” Dengan segera ia mengembalikan pesawat tersebut kepada posisi semula.

Rasa ingin tahu yang besar mendorong Kiki untuk melakukan uji coba untuk memiringkan ke kanan, toh ibunya hanya memberi peringatan untuk miring ke kiri.

Ia lakukan percobaan kedua ini, ia mendapati gerakannya hampir serupa dengan miring ke sebelah kiri. Tetapi hasil ini sudah sangat cukup untuk menjawab rasa ingin tahunya.

Tiba-tiba sekali lagi ia mendengar teguran yang lebih keras, “Kiki, kamu ini memang anak nakal ya… cepat kembalikan pesawatmu seperti sedia kala.”

Hari yang ketiga, Kiki menginginkan sebuah atraksi yang lebih seru terhadap mainan pesawat helikopternya. Ia membalik pesawatnya dengan posisi baling-baling di bawah dan roda di atas. Lalu ia menghidupkan mesin pesawat tersebut.

Ia sangat terpukau dengan gerakan baru dari pesawat ini, ia tertawa dan berjingkrak-jingkrak di samping pesawatnya. Tiba-tiba terdengar suara agak keras, “krak”, dan baling-baling pesawat itu kini patah menjadi dua.

Suara keras tadi telah mendorong ibu Kiki segera datang untuk mengetahui sumber dari suara tersebut. Melihat sebuah kenyataan bahwa pesawat mahal itu rusak baling-balingnya dan hanya berumur tiga hari, secara spontan meluncurlah bentakan yang keras dari ibu Kiki, “Dasar anak nakal, kamu telah merusak pesawat dari papamu, kamu anak yang tidak menghargai pemberian orangtua.”

Dengan sikap yang takut akan suara ibunya yang keras, ia merasa bingung mengapa ia dikatakan anak nakal, yang suka merusak dan tidak menghargai pemberian orang tua? Saat hatinya tertekan dan dirinya merasa tidak nyaman, tiba-tiba menangislah Kiki dengan histeris.

Apakah kiki anak nakal, suka merusak, dan tidak menghargai orang tuanya? Apakah beberapa uji coba yang dilakukan oleh Kiki terhadap mainan pesawat helikopternya berangkat dari sebuah niat bahwa ia ingin merusak pesawat tersebut dan tidak menghargai pemberian orang tuanya?

Gerakan dan lampu yang ditimbulkan oleh mainan pesawat helikopter memang sempat membuat Kiki terpana, namun dengan kecerdasannya yang tinggi ia menganggap gerakan dan lampu tersebut masih terlalu sederhana.

Ia menginginkan variasi yang tidak terbatas dengan memiringkan ke kiri, ke kanan, dan bahkan membaliknya, walaupun pada akhirnya ia mematahkan baling-balingnya. Jika saja baling-baling tersebut tidak patah dan tidak ada bentakan dari ibunya, maka kemungkinan uji coba tersebut akan berlanjut dengan variasi yang orangtuanya sendiri tidak mampu memprediksinya.

Suatu hari saya diberitahu istri tentang isi buku penghubung anak kedua saya yang berbeda dari biasanya. Dalam kolom komentar guru tertulis, “Mohon ananda Faruk diberi nasehat untuk mengurangi ngobrolnya di kelas.”

Saya tidak terlalu terkejut dengan pesan tersebut, karena saya harus mengakui bahwa anak kedua kami ini mempunyai kelebihan dalam berbicara. Setiap saat ada saja ide untuk membuka pembicaraan yang membuat orang lain tertarik untuk nimbrung (ikut) berbicara. Sangatlah wajar jika kebiasaan tersebut juga terjadi di kelasnya.

Mendapatkan pesan tersebut, kami bersepakat untuk memberi pengarahan agar ia mampu memilih waktu, kapan ia dapat ngobrol dengan temannya, dan kapan ia tidak diperbolehkan melakukannya.

Sebenarnya kami kurang yakin akan keberhasilan kesepakatan ini, dilihat dari kemampuan putra kami selama ini mengelola syahwat berbicaranya. Pada sisi lain kami sedikit berbangga terhadap kemampuannya dalam berbicara dengan orang lain.

Pada akhir tahun kami menjumpai kembali pada buku prestasi anak sebuah pernyataan bahwa ananda Faruk masih suka berbicara dengan temannya saat guru menjelaskan pelajaran.

Pernyataan ini ditulis dalam kolom hal yang perlu diperbaiki. Berarti ngobrol di kelas dengan teman adalah poin kelemahan anak kami. Itu sangat sesuai dengan keyakinan kami selama ini bahwa pengarahan itu kemungkinan besar akan gagal.

Apakah ananda Faruk termasuk anak nakal? Bagaimana sikap kita sebagai orangtua menghadapi situasi seperti ini? Memutus perkembangan kemampuannya berbicara, sehingga ia dapat mendengarkan kata-kata guru atau membiarkan kejadian tersebut berlanjut dan guru merasa terganggu untuk akhirnya ia dapat memberikan nilai kurang pada buku prestasinya?.

Sebuah pilihan yang memang tidak mudah bagi orangtua, tetapi adalah sikap bijak dari orangtua untuk dapat mengontrol waktu berbicara anak dan sikap terbuka dari guru untuk memulai pembelajaran-pembelajaran yang mampu melibatkan siswa, sehingga tidak ada siswa yang sempat ngobrol, adalah jalan yang terbaik untuk kasus ini.

Saya mengenal anak ini bernama Fahri. Seorang anak yang terkesan pendiam dan tidak banyak berbicara. Namun dibalik sikap tersebut, ia mempunyai keahlian yang luar biasa dibandingkan teman sebayanya. Ia sangat lihai mengutak-atik mesin-mesin. Tampaknya ia sangat mewarisi bakat bapak dan kakeknya dalam hal engineering.

Setamat dari SD ia menerima keputusan yang sangat besar dalam hidupnya, ia harus melanjutkan studi di sebuah pondok pesantren. Sebagai anak yang berbakti kepada kedua orangtuanya, ia mengikuti keputusan tersebut. Akhirnya ia menjadi santri dengan beberapa aktifitas yang beragam di pondok, seperti mengaji, belajar di kelas dan berolah raga.

Beberapa bulan ia mampu menjalani seluruh kegiatan pondok, tetapi ia mulai merasakan ada yang hilang dari dirinya, yaitu kesenangannya mengutak-atik mesin. Ia berusaha untuk bertahan dengan kondisi ini, tetapi akhirnya keinginan untuk kembali mendapatkan kesenangannya tersebut semakin besar.

Tiba-tiba ia mulai bolos dari pondok dan akhirnya ia harus memutuskan bahwa ia sudah tidak mampu lagi untuk bertahan di pondok.

Singkat cerita ia keluar dari pondok, kemudian ia masuk sekolah yang tidak banyak menuntut dalam bidang akademis, dengan harapan ia masih dapat melakukan kesenangannya mengutak-atik mesin.

Fahri memang telah membuat orangtuanya sangat kecewa dan marah dengan keluarnya dari pondok. Akan tetapi layakkah kekecewakan dan kemarahan tersebut sepenuhnya dialamatkan kepada Fahri?, jika saja di pondok tersebut juga menyediakan sarana-sarana yang memungkinkan ia dapat mengaktualisasikan keahlian dalam engineering.

Seandainya orangtuanya peka dalam memilih lembaga pendidikan yang mampu memfasilitasi Fahri dengan kesenangan dan keahliannya.

Kiki, Faruk dan Fahri adalah beberapa gelintir anak dari jutaan anak di bumi ini yang sebenarnya mempunyai kemampuan yang luar biasa. Namun lingkungan sekitarnya tidak mampu mengakomodasi, sehingga sikap terhadap kecerdasan mereka adalah dengan menganggapnya sebagai sebuah kenakalan.

Kiki adalah anak yang mempunyai kecerdasan melakukan rekayasa, tetapi lingkungan menganggapnya anak yang suka merusak dan tidak menghargai orangtuanya.

Faruk adalah anak yang mempunyai kecerdasan linguistic, tetapi kecerdasannya harus ditahan sejenak karena dapat mengganggu proses belajar mengajar di kelas.

Fahri adalah anak yang mempunyai kecerdasan kinestetik yang tinggi, tetapi kecerdasan tersebut tidak diapresiasi dengan baik oleh orangtuanya, sehingga ia harus memilih sebuah lembaga pendidikan yang sama sekali tidak mampu mengakomodasi kecerdasannya.

Alangkah dahsyat pengaruh bagi dunia ini jika setiap potensi dan kecerdasan anak mampu diakomodasi dan dikembangkan oleh orang-orang dekat mereka dan lingkungan sekitar. Setiap gerakan dan aktifitas yang agak berbeda tidak dijustifikasi sebagai sebuah kenakalan dan kebandelan.

Jika muncul tingkah laku yang berbeda, maka harus diidentifikasi terlebih dahulu apakah itu bersumber dari kecerdasan anak atau dari perilaku yang menyimpang.

Jika perilaku tersebut bersumber dari kecerdasan, maka perilaku itu harus diapresiasi dengan baik. Tetapi jika perilaku tersebut bersumber dari perilaku yang menyimpang, maka orangtua harus lebih santun dan bijak dalam memperbaikinya.

Kita patut berterima kasih kepada Bapak Howard Gardner yang telah melakukan penelitian yang sangat mendalam dan akhirnya dapat memformulasikan sebuah definisi baru dari kecerdasan.

Bahwa kecerdasan tidak selalu kemampuan untuk melakukan operasi bilangan atau keahlian di dalam mengolah kata. Baginya kecerdasan adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia atau kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau memberikan penghargaan dalam budaya seseorang.

Kemampuan-kemampuan tersebut dapat berupa kemampuan linguistik, kemampuan interpersonal, kemampuan kinestetik, kemampuan musik, kemampuan intrapersonal, kemampuan spasial visual, kemampuan logis matematis, dan kemampuan natural.

Tinggal bagaimana kita meningkatkan keahlian kita di dalam mengidentifikasi perilaku anak kita yang ‘aneh’ dengan kecerdasan-kecerdasan di atas.

Semakin kita mampu untuk mengidentifikasi ini maka semakin kita lebih santun di dalam menyikapi perilaku-perilaku tersebut.

Tidak selalu pada kenakalan anak terdapat kecerdasannya, tetapi juga tidak selalu pada kecerdasan anak terdapat kenakalannya.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.