Ketika menulis judul ini pikiran saya langsung melayang pada masa kecil yang sering memperlakukan beberapa binatang bersama dengan kawan-kawan dengan tidak semestinya. Kami sering mencari capung untuk kami ikat ekornya dengan benang kecil, atau jangkrik yang kami gantung dengan benang pada kakinya, konon untuk lebih membuat nyaring bunyinya. Bahkan kelelawar yang sering kami bidik dengan jepretan karet supaya jatuh dari pelepah pohon pisang. Astaghfirullah, sudah terlalu banyak binatang yang tanpa sengaja kami siksa.
Masa kanak-kanak adalah masa eksplorasi. Pada masa ini seorang anak selalu terdorong untuk mengetahui dan mencoba segala sesuatu yang ada di lingkungannya. Termasuk ketertarikan mereka terhadap tingkah laku beberapa binatang serta reaksi binatang-binatang itu jika mendapatkan perlakuan tertentu.
Mereka akan selalu bersemangat jika mendapati tingkah laku lucu dari binatang tersebut. Tentunya mereka belum dapat mempertimbangkan apakah perlakuan tersebut dapat membuat binatang itu merasa kesakitan atau tidak.
Apa yang telah dilakukan oleh anak-anak itu sebenarnya sesuatu yang wajar. Tetapi dengan tidak adanya perhatian orangtua terhadap aktifitas yang mereka lakukan terhadap binatang dengan melarang mereka dan membimbingnya, dapat mendorong mereka untuk memperlebar wilayah eksplorasinya dengan intensitas yang semakin tinggi.
Jika perilaku tersebut dibiarkan terus menerus maka anak akan terbiasa melakukannya dan bahkan mendapatkan kesenangan dari apa yang mereka lakukan. Ada beberapa peristiwa yang dapat menjadi pendorong bagi anak untuk menyakiti binatang, diantaranya adalah :
1. Dorongan Eksplorasi Lingkungan pada Anak.
Beberapa perilaku eksplorasinya sering menabrak aturan dan nilai yang diyakini oleh masyarakat, termasuk eksplorasi terhadap binatang yang mereka anggap mempunyai perilaku yang lucu.
2. Meniru dari Lingkungan.
Kadangkala perilaku pengasuh atau orang tua yang kasar terhadap beberapa binatang tertentu akibat pengalaman buruk mereka akan mudah ditiru oleh anak. Seperti setiap kali pengasuh menemui kucing, ia memukul atau melemparnya kemudian anak melihatnya maka akan muncul pemahaman pada diri anak, “Oh, ternyata begitu cara memperlakukan kucing.”
3. Pengaruh Tontonan Televisi
Tayangan televisi dan film tentang tindakan penganiayaan terhadap binatang. Tayangan ini akan direkam oleh anak dengan baik, sehingga pada saatnya rekaman tersebut akan diputar kembali oleh anak dalam bentuk perilaku agresif terhadap binatang.
4. Penasaran Terhadap Reaksi Orang Lain
Ingin mengetahui reaksi orang lain jika ia melakukan aktifitas ini. Beberapa anak melakukan aktifitas tertentu termasuk menyiksa binatang untuk mengetahui apa reaksi orang tua atau orang-orang di lingkungannya terhadap tingkah lakunya.
5. Mencari Perhatian.
Pada anak-anak yang haus akan perhatian dari orangtua atau pengasuhnya, ia dapat melakukan perilaku-perilaku agresif termasuk menyiksa binatang. Jika ia mendapatkan perhatian setelah perilaku agresif dilakukannya maka akan terjadi penguatan pada aktifitas tersebut.
Anak mendapatkan pengalaman disakiti atau dianiaya pada masa kecilnya. Beberapa kasus anak yang suka menyiksa binatang membuktikan bahwa dahulu dirinya pernah mendapatkan penganiayaan dan kekerasan dari orang dewasa.
Menyiksa Dan Penghargaan Intrinsik
Fahmi suatu hari menemukan seekor capung di kamarnya. Ia tertarik pada binatang tersebut dan berusaha untuk menangkapnya. Beberapa kali ia gagal dalam percobaan penangkapannya karena binatang tersebut masih dapat terbang tinggi.
Hingga akhirnya ia dapat menangkapnya hidup-hidup dan segera mengikat ekornya dengan benang kecil. Betapa senangnya ia karena dapat mengendalikan binatang tersebut dengan menerbangkannya kemudian menariknya kembali.
Mendapat kesenangan pada pengalaman pertama, esok harinya Fahmi terdorong untuk berburu capung yang banyak berterbangan di pematang sawah. Seekor capung dengan mudah dapat ia tangkap, dan kembali ia mengikat capungnya dengan seutas benang pada ekornya. Ia menikmati permainan capungnya dengan menerbangkannya dan menariknya kembali. Hingga pada akhirnya capung tersebut lemas dan mati karena kehabisan tenaga.
Pada mulanya Fahmi melakukan aktifitas terhadap capung sebagai bentuk rasa ingin tahu dan uji coba. Ia mendapatkan kesenangan-kesenangan kecil dari aktifitas tersebut dengan melihat tingkah pola capung yang sebentar terbang, sebentar kemudian hinggap.
Kesenangan-kesenangan kecil yang diterima dalam aktifitas itu disebut sebagai penghargaan intrinsik. Fahmi tidak perlu mendapat dorongan atau pujian dari luar dirinya untuk mengulangi aktifitas bermain capung karena telah mendapatkan penghargaan intrinsik.
Jika aktifitas bermain capung sering dilakukan oleh anak kita, kemudian ia mendapatkan kesenangan-kesenangan kecil tanpa seorangpun yang peduli untuk mencegah dan membimbingnya, maka lambat laun anak dapat menikmati perilaku binatang yang tersiksa. Pada akhirnya anakpun dapat terdorong untuk mengulangi perbuatannya sekaligus merasakan kenikmatan pada setiap erangan binatang yang sedang kesakitan.
Fenomena kepuasan setelah menyiksa binatang ini berangkat dari kesenangan-kesenangan kecil yang ia dapatkan dari memperlakukan binatang dengan tidak semestinya, tetapi tidak ada seorangpun yang melarang atau membimbingnya.
Kesenangan-kesenangan kecil tersebut dapat berupa suaranya yang tinggi, gerakannya yang ‘lucu’, atau melotot matanya, dan lain-lain. Kesenangan kecil tersebut sudah menjadi penghargaan intrinsic yang mendorong anak untuk mengulangi kembali.
Pandangan Neurologi dan Menyiksa Binatang
Banyak ahli berpendapat bahwa menyiksa binatang muncul karena faktor psikologis anak. Dr. Bruce Perry peneliti dari Baylor College of Medicine menemukan bukti baru bahwa perilaku agresif pada anak termasuk menyiksa binatang juga disebabkan oleh perubahan struktur dan kerja pada otak anak.
Pada otak manusia terdapat satu bagian yang disebut amigdala. Bagian otak ini berfungsi sebagai pusat perasaan. Bagian samping amigdala memuat perasaan agresif, sedangkan bagian tengahnya memuat perasaan jinak. Bila seseorang mengalami tekanan psikologis terus menerus, maka bagian otak yang sering mendapat rangsangan adalah amigdala bagian samping. Bagian ini akhirnya menjadi dominan, sehingga seseorang yang dominan bagian ini akan mudah untuk bertindak agresif.
Kurangnya perhatian orangtua menyebabkan anak berperilaku agresif termasuk menyiksa binatang. Sikap acuh orangtua akan dapat merusak perkembangan kulit otak yang berfungsi mengontrol perasaan memiliki dan kasih sayang.
Anak-anak yang merasa dikucilkan oleh orang tua dan tidak mempuyai pegangan yang kuat cenderung tidak mempunyai emosi untuk menyayangi dan mengasihi sesama. Karena bagian kulit otak yang berfungsi memiliki dan menyayangi tidak tumbuh secara optimal.
Dengan fenomena baru ini maka kita dapat membayangkan bahwa kesenangan menyiksa binatang pada anak tidaklah tumbuh dalam waktu pendek, tapi membutuhkan proses yang panjang hingga dapat mengubah struktur dan cara kerja otak.
Dengan demikian maka penyembuhannya juga membutuhkan waktu yang panjang pula. Tindakan pencegahan terhadap munculnya kesenangan tersebut adalah jalan yang paling ideal sebelum munculnya kesenangan-kesenangan yang bersifat merusak.
Tindakan Yang Dapat Dilakukan
Tindakan pencegahan terhadap munculnya kesenangan anak untuk menyiksa binatang dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik bagaimana berperilaku lembut terhadap binatang, tidak menayangkan televisi dan film yang memuat adegan penyiksaan binatang, memberi perhatian yang cukup, dan bersikap lembut terhadap anak-anak sehingga mereka merasakan perhatian dan kasih sayang yang cukup.
Jika muncul dorongan eksplorasi anak terhadap kucing dengan menarik-narik ekor dan mengikat kakinya kita dapat mengarahkan anak dengan memberitahu anak tentang rasa sakit yang dialami kucing jika diikat kakinya, atau mengajak anak untuk menghitung kaki kucing bukan mengikatnya. Menjelaskan pada anak untuk bersikap lembut terhadap lingkungan termasuk terhadap binatang peliharaan dan tanaman akan dapat meminimalisir anak untuk berperilaku agresif.
Jika anak sudah mulai menikmati aktifitas agresifnya, maka orangtua dapat menghalangi anak dengan menyingkirkan binatang tersebut dari hadapan anak. Dengan tindakan ini maka anak mempunyai jeda waktu lama untuk tidak menikmati aktifitas yang kurang baik tersebut. Akhirnya diharapkan anak sudah mulai melupakan kesenangan-kesenangan kecil terhadap binatang tersebut.
Jika kepuasan anak setelah melakukan penyiksaan terhadap binatang sudah menjadi kebiasaan rutin, maka saatnya orangtua berkonsultasi kepada ahli agar anak mendapatkan terapi untuk mengatasinya.
Memelihara Binatang
Dengan seluruh pembahasan tentang perilaku menyiksa binatang yang dilakukan oleh anak di atas, tidak berarti lebih baik dan lebih selamat kita menjauhkan anak-anak dari binatang. Justru kita jadikan binatang-binatang tersebut sebagai sarana untuk mendidik perilaku mulia pada diri anak.
Bukankah banyak nabi yang tumbuh menjadi dewasa sebagai penggembala binatang ternak. Bukti ini menunjukkan bahwa pada aktifitas memelihara binatang ternak yang dilakukan oleh manusia terdapat nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Minimal terdapat empat manfaat yang di dapat seorang anak ketika ia memelihara hewan kesayangannya, yaitu:
1. Menumbuhkan Empati dan Kasih Sayang.
Anak yang dibiasakan dekat dan punya binatang peliharaan di rumah umumnya lebih mudah menumbuhkan rasa empati dan kasih sayang dalam dirinya. Dengan mengekspresikan kasih sayang secara intensif ia juga akan dengan mudah belajar menyayangi sesama manusia. Kelak diharapkan emosinya berkembang lebih bagus dibanding anak-anak yang sama sekali tidak dekat dengan binatang.
2. Menumbuhkan Tanggung Jawab dan Percaya Diri.
Memelihara binatang berarti mengondisikan anak untuk belajar bagaimana caranya bertanggung jawab atas kelangsungan hidup hewan peliharaannya. Orangtua dapat menjelaskan soal pentingnya merawat hewan.
Dengan demikian, anak akan terpanggil untuk merawatnya sebaik mungkin, seperti memberi makan, membersihkan kandangnya, dan merawat kebersihan tubuh hewan peliharannya. Kemampuan untuk melaksanakan segala tugas di atas akan menumbuhkan rasa percaya dirinya.
3. Menumbuhkan Sikap Lembut dan Perasaan Halus.
Dengan mengelus-elus hewan peliharaan, dalam diri anak akan tumbuh sikap lembut dan perasaan halus. Apalagi, aktifitas ini memang disukai oleh anak karena hewan menunjukkan respon yang menyenangkan.
4. Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu.
Mengamati tingkah laku hewan merupakan pertanda kesediaannya untuk mempelajari kehidupan. Ia bisa mengetahui bahwa hewan mempunyai kebiasaan, karakter atau tabiat tertentu.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


