Setiap kali saya datang ke dokter anak untuk mengobati anak yang sakit, saya selalu ditanya tentang berat badan anak. Saya yang sangat awam tentang kesehatan hanya dapat menebak bahwa informasi berat badan tersebut berhubungan dengan takaran obat yang akan diberikan kepada anak saya, sehingga sebelum masuk ruangan periksa, saya telah menimbang berat badan anak saya.
Begitupula orangtua yang berkonsultasi tentang permasalahan anak, maka sang konselor akan selalu menanyakan tentang usia anak. Pengetahuan tentang umur anak ini sangat penting dalam proses identifikasi masalah anak, karena kadangkala suatu perilaku pada umur tertentu menjadi sebuah masalah, tetapi pada umur sebelumnya justru menjadi hikmah.
Seperti kebiasaan seorang anak yang suka merebut dan selalu ingin menang sendiri pada usia 2-4 tahun. Analisa terhadap perilaku semacam ini seringkali menganggap anak kita sebagai pribadi yang egois. Tetapi sikap egois pada umur 2-4 tahun adalah sebuah perkembangan yang baik dan wajar.
Thomas Lickona mengatakan anak-anak pada usia ini senang melanggar aturan, memamerkan diri, agak sulit diatur dan memaksakan keinginannya. Seluruh perilaku ini muncul karena mereka masih menganggap diri mereka sebagai pusat dari alam semesta.
Bagi sekolah yang siswanya ada pada rentang usia 2-4 tahun, maka sekolah itu harus menyediakan mainan lebih dari satu yang jenisnya sama agar tidak ada konflik antar siswa dengan kawannya. Orangtua yang sering menjumpai anaknya merebut dan tidak mau berbagi dengan saudaranya yang lebih besar harus juga memaklumi bahwa ini adalah kondisi yang wajar dan bukanlah sebuah kenakalan.
Tetapi bukan berarti orangtua lantas membiarkan anak ketika ia selalu ingin menang sendiri, merebut mainan milik saudaranya, dan tidak mau menunggu gilirannya. Orangtua perlu memberikan arahan yang jelas, lengkap dengan sanksi dan penghargaan jika anaknya berlaku egois atau tidak egois.
Pujian yang tepat saat anak bersikap kooperatif juga dapat mengurangi perilaku egois anak. Segala upaya orangtua ini sebenarnya untuk mempersiapkan anak agar dapat meninggalkan sikap egois saat masa egosentris ini berlalu.
Bagi anak yang telah berusia 8 tahun tetapi ia masih sering bersikap seperti anak usia 2-4 tahun, suka merebut mainan kawannya, tidak mau berbagi ketika bermain, dan tidak mau antri maka analisa sederhana menyatakan bahwa anak tersebut adalah egois. Tetapi sikap egois pada umur 8 tahun ini jelas sangat berbeda dengan sikap egois dengan anak usia 2-4 tahun.
Pada anak usia 2-4 tahun sikap egois merupakan petunjuk adanya unsur masa perkembangan yang egosentris, sebaliknya pada anak yang telah berusia 8 tahun tetapi masih bersikap egois seperti anak usia 2-4 tahun menunjukkan adanya proses pendidikan yang salah terhadap anak tersebut. Cara kita menyikapinya akan sangat berbeda jika dibandingkan dengan anak usia 2-4 tahun.
Ada beberapa ciri seorang anak dikatakan sebagai anak egois, pertama, dalam beraktifitas ia selalu ingin menang sendiri, bahkan pada permainan yang sebenarnya ia telah kalah. Anak egois akan sulit mengakui kemenangan orang lain.
Kedua, ia tidak mau mendengar omongan orang lain. Anak egois berpendapat bahwa dirinya adalah yang paling benar. Ketiga, ia harus selalu dituruti keinginannya. Setiap permintaan yang disampaikan harus segera dipenuhi. Keempat, ada kecenderungan anak egois tidak senang untuk mengikuti aturan bergiliran.
Ciri-ciri di atas muncul karena beberapa penyebab, di antaranya adalah:
1. Perhatian yang Berlebihan atau Kurang Perhatian dari Orangtua.
Seorang anak yang mendapatkan perhatian berlebihan dari orangtuanya akan mengembangkan pemahaman bahwa dirinya adalah pusat dari alam semesta. Ia merasa bahwa orang yang ada disekelilingnya hadir untuk menurutinya. Ia akan sangat kecewa jika ada sosok lain yang lebih diperhatikan daripada dirinya.
Sebaliknya anak yang kurang mendapatkan perhatian dari orangtua akan tumbuh menjadi anak yang sangat egois. Ibarat saat kita kehausan, waktu mendapatkan sedikit air, kita cenderung memenuhi kebutuhan air kita tanpa mempedulikan kebutuhan orang lain.
Anak-anak yang kurang mendapatkan perhatian, begitu tumbuh mulai besar justru berpotensi mengembangkan egoisnya. Ia akan menuntut orang lain untuk memperhatikannya terus menerus, sebagai pemenuhan dahaga perhatian. Jika orang lain mulai tidak memperhatikannya, ia tidak bisa menerima sikap orang tersebut.
2. Sikap Orangtua yang Serlalu Permisif dan Selalu Menuruti Kehendaknya.
Pola pengasuhan yang terlalu permisif dengan membiarkan anak melakukan apapun, menuruti kehendaknya terus menerus, dan selalu dibela walaupun melakukan kesalahan dapat menyebabkan munculnya sikap-sikap egois pada diri anak.
3. Pengkondisian Orangtua.
Banyak orangtua yang justru mengkondisikan munculnya perilaku egois. Seperti meminta anak untuk melawan anak lain ketika mainannya hendak direbut oleh anak tersebut. Anak yang sering dikondisikan seperti ini akan berkembang menjadi pribadi yang tidak mau mengalah dan tidak siap untuk diganggu oleh orang lain.
4. Anak Tunggal, Terlalu Lama Tidak Punya Adik dan Tidak Sosialisasi.
Anak tunggal dan anak yang terlalu lama tidak punya adik cenderung menjadi pusat perhatian orangtuanya dalam waktu yang lama. Ia tidak senang jika ada orang lain yang mengurangi perhatian orang tua kepadanya.
Sementara anak yang kurang sosialisasi adalah anak yang kurang mendapatkan pengalaman yang mengajarkan bahwa di dalam interaksi yang baik ia perlu mengalah, menang, memberikan perhatian kepada orang lain, sekaligus berbagi perhatian dengan orang lain.
5. Usia Anak 2-4 Tahun.
Pada masa ini anak berpikir sangat egois, yaitu ia selalu berorientasi pada dirinya sendiri. Cara berpikir ini akan berpengaruh pada sikapnya yang menganggap segala sesuatu adalah miliknya dan tidak ada orang lain yang berhak atas segala mainan di dekatnya.
Membina Anak Egois
Mungkin di antara kita, para orangtua, ada yang mempunyai anak dengan ciri-ciri sebagai anak egois. Tetaplah bersikap tenang dan berpikir bijak, anak-anak kita masih dalam tahap perkembangan. Setiap kesalahan masih sangat mungkin untuk diperbaiki dan setiap kebaikan masih bisa untuk ditingkatkan lagi.
Berikut ini ada beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua untuk menghilangkan sikap yang terlalu egois pada anak-anak :
1. Membimbing Anak untuk Berbagi
Secara bertahap kita memperkenalkan pada anak untuk berbagi. Kita dapat melakukan sebuah permainan yang menjadi moment memberikan barang yang disukainya kepada teman bermainnya. Kemudian kita dapat memujinya jika ia telah berhasil melakukannya dengan baik.
2. Mengajar Anak untuk Berempati.
Role playing atau bermain peran adalah salah satu metode yang dapat digunakan oleh orangtua untuk mengajar anak berempati. Sebagai contoh, pada mulanya orangtua berakting sebagai anak egois kemudian bertukar peran dengan anak. Ketika anak berperan sebagai anak egois, orangtua berperan sebagai anak yang tidak egois dan ia dapat memberi contoh tentang kepedulian.
Dengan pengalaman ini, anak akan merasakan bagaimana tingkah laku egois itu dengan melihat acting orangtuanya, seperti tidak mau mendengar omongan orang lain, selalu memotong pembicaraan, mau menang sendiri, tidak sabar, tidak peduli terhadap cara pandang orang lain, dan seterusnya.
3. Mendorong Anak untuk Memberi.
Orang tua dapat mendorong anak untuk menyenangi perilaku memberi dengan membiasakan anak menyumbangkan mainan yang lama setiap kali mainan baru datang. Sumbangan mainan-mainan tersebut dapat diberikan pada acara amal anak dengan memastikan anak mengetahui siapa, di mana dan mengapa.
Acara ulang tahun anak dapat juga dijadikan sarana untuk mendorong anak memberi, dengan melakukan shadaqah terhadap sebagian hadiah ulang tahun kepada anak-anak di panti asuhan. Dengan ini muncul kesadaran dalam diri anak bahwa memberi itu menyenangkan dan mudah.
4. Membimbing Anak untuk Bertanggung Jawab.
Tanggung jawab membantu anak mengetahui bahwa mereka bukanlah pusat dari dunia ini. Tugas-tugas rumah tangga memperkuat gagasan tentang pekerjaan individual yang menguntungkan seluruh isi rumah. Menata serbet menjelang makan, merawat binatang, dan menata rak sepatu adalah cara yang tepat untuk mengajarkan perilaku yang tidak egois.
5. Memberi Contoh.
Satu contoh lebih berpengaruh daripada seribu kata-kata. Orangtua harus menunjukkan kepada anak bahwa mereka adalah pribadi yang peduli, mau mendengar orang lain dan memberi kasih sayang kepada sesama. Lebih mudah bagi anak untuk meniru orangtuanya yang senang memberi shadaqah kepada sesamanya, dari pada sebuah ceramah tentang kepedulian kepada sesama.
Tidak sulit mengajar anak kita untuk tidak bersikap egois. Melakukan hal-hal yang baik kepada mereka dan orang lain maka anak kita akan mencontoh kebiasaan kita. Tuntunlah, doronglah, dan pujilah setiap usaha, besar maupun kecil dari kepedulian mereka. Insya Allah kita akan mendapatkan hadiah anak-anak yang manis dan keluarga yang lebih indah dari Allah.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”
_________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


