Anak Suka Jajan

Saya pernah diminta untuk mengisi sebuah ceramah menjelang berbuka puasa untuk karyawan/karyawati sebuah industri makanan/minuman anak-anak. Saya menyatakan “makanan anak-anak”, karena mayoritas yang menjadi konsumen makanan/minuman tersebut adalah anak-anak.

Kedatangan yang lebih awal pada lokasi ceramah memungkinkan saya melihat dan mengamati berbagai jenis makanan/minuman yang tertata rapi di dalam sebuah gudang penyimpanan super besar. Jika selama ini saya melihat gudang Bulog adalah gudang yang terbesar, maka gudang makanan/minuman tersebut 2 kali lipat besarnya dibandingkan dengan gudang standar Bulog.

Saya menyadari betapa besarnya tingkat konsumsi anak-anak pada makanan/minuman yang siap saji tersebut. Saya akhirnya bergumam, “Inikah sumber makanan/minuman yang sering membuat istriku selalu uring-uringan kepada anakku dengan aneka jajanan yang dibeli di depan sekolahnya?”

Mengapa banyak orangtua yang tidak menghendaki anaknya suka jajan? Apakah suka jajan adalah perilaku yang kurang baik, sehingga banyak orangtua tidak menghendakinya? Dalam situasi apakah anak dapat jajan dengan nyaman?

Ada beberapa alasan mengapa banyak orangtua tidak senang jika anaknya suka jajan, diantaranya:

1. Banyak Jajanan yang Kurang Sehat untuk dikonsumsi.

Zat pewarna yang digunakan dalam jajanan seringkali berupa zat pewarna yang sangat berbahaya untuk tubuh. Bahan untuk membuat jajanan sering tidak layak konsumsi, seperti bahan makanan/minuman yang kadaluarsa tetapi dikemas kembali. Sedangkan makanan yang dibuat oleh industry besar seringkali menggunakan penyedap masakan yang terlalu banyak, sehingga sangat mengurangi nafsu makan anak terhadap makanan/minuman yang alami.

2. Suka Jajan Mendorong Munculnya Perilaku Boros.

Banyak anak yang membeli makanan/minuman bukan karena kebutuhan dirinya akan makanan/minuman tersebut tetapi lebih tertarik kepada kemasan atau warnanya. Anak dengan perilaku boros cenderung tidak mempertimbangkan berapa jumlah uang yang telah ia keluarkan dan yang akan ia keluarkan untuk membeli makanan/minuman.

3. Kondisi Keuangan Keluarga Tidak Stabil

Banyak orangtua yang tidak menyukai anaknya suka jajan karena memang tidak mempunyai dana untuk jajan yang lebih. Mereka menghendaki anaknya memahami kondisi keuangan keluarga, sehingga jika anak suka jajan maka perilaku ini banyak menyusahkan orangtua.

Dengan beberapa alasan di atas, anehnya pada beberapa kasus menunjukkan bahwa justru orangtua yang lebih sering membuat anaknya terbiasa untuk jajan. Mari kita cermati beberapa kasus dimana orangtua yang justru menyebabkan banyak anak yang suka jajan:

1. Orangtua Kurang Tegas dalam Merespon Keinginan Anak untuk Jajan.

Seorang penjual pentol berlalu di depan rumah dengan suaranya yang khas. Anakpun meminta untuk dibelikan pentol, “Ma, belikan adik pentol.” Permintaan dengan sopan ini tidak ditanggapi oleh mamanya dengan sungguh-sungguh. Kemudian permintaan kedua diikuti dengan rengekan, orangtua pun bergeming untuk membelikannya.

Namun pada permintaan ketiga yang diikuti dengan rengekan dan tangisan yang menyayat hati, maka segera orangtua membelikannya. Dikemudian hari anak tersebut sudah mempunyai cara yang jitu, merengek dan menangis. Maka seluruh permintaan jajan akhirnya dapat terpenuhi.

2. Tidak disediakan Variasi Makanan yang Menarik Minat Anak

Orangtua kurang menyediakan makanan di rumah yang cukup dengan variasi yang menarik minat anak. Akibatnya anak sering bosan dengan makanan di rumah dan tergiur dengan jajanan di luar. Anak pada usia tertentu memang membutuhkan kalori yang cukup besar, sehingga mereka suka jajan karena memang membutuhkannya.

3. Anak Meniru Orangtua yang Juga Senang Jajan.

Proses inilah sebenarnya yang menjadi sumber dari penyebab di atas. Orangtua yang tidak suka jajan biasanya mereka cukup tegas di dalam merespon permintaan jajan anaknya. Begitu pula orangtua yang tidak sering jajan memang telah mempunyai persediaan makanan yang cukup dan bervariasi di rumah.

4. Orangtua Memberi Jajanan Yang Berlebihan untuk Bekal Sekolah.

Akan lebih baik, bila konsep hemat itu tertanam pada diri anak. Ketika dia memilih snack untuk bekal sekolahnya, sebaiknya diberi batas jumlah uang.

Berikut ini beberapa kiat untuk menyembuhkan anak yang suka jajan:

1. Memberikan Contoh Perilaku Hemat.

Ketika orangtua berperilaku boros dan tidak bisa mengatur keuangannya, biasanya anak akan meniru perilaku orangtuanya. Tampaknya akan sulit terjadi jika ibunya suka jajan dan membeli bakso, kemudian meminta anak untuk berhemat dan tidak jajan di luar.

2. Membiasakan Anak Sarapan Sebelum ke Sekolah.

Biasakanlah anak sarapan sebelum berangkat ke sekolah. Dengan keadaan perut yang kenyang, anak akan lebih konsentrasi dalam belajar sehingga tidak memikirkan jajan.

3. Menjelaskan Kepada Anak Bahwa Tidak Semua Jajanan itu Sehat.

Seringkali makanan/minuman yang dijual di sekolah atau warung dekat rumah kurang terjamin kebersihannya. Karena itu orangtua hendaknya memberi pengertian agar si anak menjaga kesehatan dan kebersihan makanan. Dengan pengertian seperti itu, anak diharapkan dapat memperhatikan makanannya dan tidak mengikuti keinginan untuk jajan sembarangan.

4. Menyediakan Makanan Ringan di Rumah.

Sediakan di rumah kita makanan ringan yang sehat dan bergizi. Tentu tidak harus mahal, misalnya keripik kentang buatan sendiri.

5. Melatih Anak Gemar Menabung.

Latihlah anak agar gemar menabung dan hemat dalam berbelanja. Misalnya dengan menyisihkan seribu rupiah dari uang jajan untuk dimasukkan ke dalam celengan. Anak akan mendapatkan manfaat yang besar dari menabung.

6. Mengajarkan Nilai Kerja Keras dan Empati kepada Orang Lain.

Berilah pengertian kepada anak bahwa untuk mendapatkan uang diperlukan kerja keras dan gigih sehingga pemanfaatnya harus sehemat mungkin.

7. Menyayangi Barangnya Sendiri.

Mengajarkan bagaimana merawat barang milik sendiri, jika anak membeli barang-barang keperluannya seperti mainan, pakaian dan sebagainya.

Membantu Anak Menghargai Uang

Selain beberapa kiat di atas, agar tidak boros anak juga perlu dibantu untuk menghargai uang, misalnya dengan cara:

1. Mengenalkan Anak pada Kegunaan Uang.

Cara yang menarik untuk memperkenalkan anak pada kegunaan uang adalah dengan bermain pasar-pasaran. Buatlah toko mainan menggunakan mainan milik anak. Pada setiap mainan ditempeli kertas atau sticker yang memuat harganya

2. Mengajak Anak Berbelanja.

Pada saat berbelanja, jelaskan kepada anak bahwa barang-barang yang sudah diambil atau akan dibeli harus dibayar dengan uang. Kalau tidak, barang-barang itu tidak bisa dibawa pulang. Jelaskan pula bahwa setiap barang harganya berbeda. Beri pula pengertian bahwa agar uangnya cukup, hendaknya berhemat dengan tidak membeli sesuatu yang tidak perlu.

3. Mengatakan Kepada Anak bahwa Uang Harus dicari.

Anak usia 2-3 tahun dapat diberi pengertian bahwa untuk memperoleh uang, orang harus bekerja. Kepergian bapak ke kantor atau berdagang setiap hari adalah untuk mencari uang.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.