Anakku Bangga dengan Menyontek

Ada sebuah pertanyaan dari seorang ibu guru SMA di Banyuwangi yang sangat mengusik hati saya, “Pak Jinan, saya menjumpai sekelompok anak di SMA kami sedang asyik menulis rangkuman pelajaran fisika dalam sebuah kertas kecil panjang. Saya tahu benar bahwa rangkuman tersebut untuk mereka bawa ke dalam ruang ujian. Hati nurani saya terusik kemudian saya bertanya, “Mengapa kalian semua sudah berniat untuk menyontek sebelum ujian tiba?.”

Mereka menjawab dengan jawaban yang tidak saya bayangkan sebelumnya, “Kami melakukan ini semua demi membantu orangtua, kami ingin memastikan kelulusan kami, dan kelulusan ini adalah bantuan yang terbaik yang akan kami berikan kepada orangtua.”

Saya dapat memaklumi jika ibu guru SMA tersebut terperanjat dengan jawaban siswa-siswinya, karena saya sendiri ketika mendengar jawaban tersebut kaget sekaligus kagum, bagaimana anak-anak tersebut mampu membangun pola pemikiran yang sangat berpengaruh walaupun dengan logika yang sama sekali salah.

Saya pernah membaca buku logika yang memuat beberapa logika yang salah, salah satu logika yang salah tersebut sangat mirip dengan logika yang dikembangkan oleh siswa-siswi di atas: Di rumah sakit banyak orang sakit. Saya tidak mau sakit. Jika saya mau tetap sehat, maka saya tidak boleh ke rumah sakit.

Tetapi sebenarnya yang lebih menarik saya dalam fenomena di atas adalah bagaimana berkembangnya paradigma mencontek pada siswa-siswa dari sebuah tindakan bohong dan mencuri yang harus dihindari menjadi sebuah tindakan “ibadah” menolong orangtua yang harus dilakukan.

Di dalam ilmu Fiqh kita mengenal beberapa jenjang hukum: haram, makruh, mubah, sunnah, dan wajib. Maka bagaimana ini terjadi pada kasus mencontek yang tadinya merupakan sebuah tindakan yang dipahami sebagai hal yang haram, sekarang dapat berkembang menjadi tindakan yang sunnah. Ini berarti perkembangan paradigma perilaku mencontek telah melompat dari haram, makruh, mubah dan akhirnya sunnah.

Berdasarkan alasan anak-anak tersebut untuk mencontek, kita dapat mengidentifikasi beberapa hal yang mendorong terjadinya perkembangan paradigma, di antaranya:

1. Teman Dekat

Mencontek dapat dilakukan dengan sendirian dan dapat dilakukan bersama-sama. Tetapi akhir-akhir ini berkembang sebuah kebiasaan untuk mencontek bersama-sama. Dengan kebiasaan mencontek berjamaah ini maka tekanan terhadap seorang anak untuk melakukannya akan terasa lebih kuat.

Seorang anak yang berusaha untuk tetap komitmen tidak menyontek, merasa sesuatu yang tidak adil terjadi pada kehidupannya, dirinya yang telah belajar dengan sungguh-sungguh justru mendapatkan nilai yang kalah dengan mereka yang tidak belajar secara serius dengan nilai yang lebih tinggi. Bahkan akhir-akhir ini anak-anak yang tetap komitmen untuk tidak mencontek mendapat label sinis dari teman-temannya sebagai anak alim yang tidak mempunyai loyalitas terhadap teman-teman.

2. Tekanan Tinggi

Anak mengalami tekanan yang tinggi untuk dapat lulus dalam ujian akhir. Pertama, kesuksesan seluruh proses belajar anak dalam satu tahun hanya ditentukan beberapa hari ujian. Kondisi ini mengharuskan anak untuk belajar sungguh-sungguh, sehat, dan fokus saat ujian tiba. Bagi anak yang kebetulan agak sakit pada hari-hari tersebut, sudah dapat dipastikan ia akan kurang sukses.

Dengan pola penentuan kesuksesan yang sangat sedikit variabelnya maka ujian memberikan tekanan yang sangat tinggi pada anak. Kondisi ini akan mendorong anak untuk melakukan segala cara agar dapat berhasil pada saat ujian.

Kedua, budaya yang berkembang di masyarakat kita yang tidak menerima kegagalan saat ujian. Kegagalan adalah sebuah aib yang besar yang tidak dapat dihapuskan selama hidup anak. Satu kata kunci yang memberikan tekanan sangat tinggi pada anak, yaitu mereka harus berhasil dalam ujian akhir dan tidak boleh gagal, walaupun dengan berbagai cara.

3. Orangtua.

Banyak sekali orangtua yang hanya berorientasi pada hasil akhir. Apapun cara yang ditempuh asal anak mereka dapat lulus dalam ujian. Dengan pemahaman orangtua seperti ini maka amatlah wajar jika mereka tidak gundah gulana jika ada laporan sekolah bahwa anak mereka telah mencontek. Kondisi ini mendorong siswa untuk mencontek karena mereka tidak merasakan kontrol yang ketat dari orangtua terhadap perilaku mencontek mereka.

4. Pengajar.

Banyak guru yang tidak mengadakan kontrol yang ketat terhadap perilaku siswa selama menjalani ujian. Bahkan beberapa guru sengaja memberikan kebebasan bagi anak untuk melakukan apa saja selama ujian, asal mereka dapat mengerjakannya dengan baik.

Akhir-akhir ini kita mendengar praktek-praktek yang sangat mendorong anak untuk menyontek, yaitu pengajar justru memberikan jawaban untuk memastikan seluruh siswa dapat lulus ujian.

Mereka melakukan tindakan tercela ini karena beberapa sebab, di antaranya: tekanan lingkungan bahwa ia harus meluluskan semua siswanya, supaya tahun depan banyak yang masuk ke sekolahnya, kelulusan anak akan menunjukkan kredibilitas seorang guru dalam mengajar, dan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru memang tidak mungkin menjadikan anak akan mampu mengerjakan soal ujian.

5. Sistem Ujian.

Ujian yang menentukan kelulusan seorang anak hanya terfokus pada ujian kognitif saja, yaitu menghafalkan dan menyebutkan. Pada ranah afektif dan psikomotorik sangat jarang bahkan tidak pernah dilakukan terhadap anak didik. Dengan pola ujian seperti ini, maka mereka yang mendapatkan nilai yang tinggi belum tentu mereka yang mempunyai sikap yang baik dan keterampilan yang tinggi dalam materi tersebut.

6. Sanksi.

Apa sanksi bagi anak-anak yang mencontek dalam ruang ujian? Mungkin kita belum mempunyai jawaban yang baku tentang bentuk sanksinya. Tetapi mengapa perilaku mencontek sudah sangat membudaya pada siswa-siswa? Ada dua hal yang dapat menjawab pertanyaan ini ;

Pertama, sanksi yang terlalu lemah bagi pelaku mencontek. Sanksi yang selama ini diterapkan terlalu halus dan tidak memunculkan efek jera. Kedua, sanksi yang tidak konsisten, kadangkala sanksi diterapkan secara sungguh-sungguh apalagi jika terjadi pengawasan dari atas, tetapi sangat lemah bahkan nyaris tidak ada sanksi jika tidak ada pengawasan.

Mencontek dan Budaya Korupsi

Negeri ini identik dengan berkembangnya tindak korupsi hampir di seluruh lapisan masyarakat. Dari tingkatan yang paling rendah, pemerintahan desa, hingga tingkatan para menteri dengan mudah kita menemukan tindak korupsi ini.

Apa ini semua karena berkembangnya perilaku mencontek pada lembaga-lembaga pendidikannya? Belum ada satu penelitianpun yang meneliti tentang hubungan menyontek dan tindak korupsi, tetapi kita menyakini bahwa apa yang menjadi kebiasaan anak selama di sekolah, maka kebiasaan tersebut akan berdampak 15 hingga 20 tahun yang akan datang pada kehidupan bermasyarakat.

Yang lebih menarik dari kesimpulan di atas, sebenarnya ada beberapa persamaan antara perilaku mencontek dengan tindak korupsi, di antaranya:

1. Jalan Pintas.

Perilaku menyontek dan tindak korupsi sangat identik dengan melewati jalan pintas yang akan merugikan system dan orang lain. Bagi para pencontek, mereka menginginkan nilai yang besar tanpa harus bekerja keras dalam menguasai pelajaran. Begitu pula tindak korupsi menginginkan tidak melalui prosedur yang semestinya sehingga mendapatkan prioritas atau pengurangan kewajiban pembayaran dengan membayar kepada beberapa oknum.

2. Berbohong terhadap Publik dan Diri Sendiri.

Keduanya adalah bentuk berbohong kepada masyarakat umum. Untuk mendapatkan nilai yang baik atau sebuah tender proyek maka para pencontek dan koruptor terpaksa melakukan kebohongan seakan-akan mereka telah melewati prosedur yang semestinya. Pada saat mendapatkan nilai yang baik, mungkin mereka dapat menunjukkan hasil tersebut kepada masyarakat.

Tetapi sebenarnya hati mereka berbicara bahwa nilai tinggi ini bukanlah dari hasil kerja kerasnya. Mereka yang telah berhasil mendapatkan tender mungkin dapat berbangga bahwa perusahaan mereka memang layak untuk mendapatkan proyek tersebut, tetapi hati nurani mereka mengatakan bahwa perusahaan tersebut bukanlah perusahaan yang profesional.

3. Merugikan Diri Sendiri dan Orang Lain.

Dengan mencontek maka pihak yang paling dirugikan adalah diri sendiri. Karena ia tidak dapat mengukur berapa tingkat kemampuannya pada sebuah materi. Begitu pula mereka yang melakukan tindak korupsi.

4. Dilakukan di Bawah Tangan.

Apakah ada perilaku mencontek dan tindak korupsi dilakukan terus terang? Kedua-duanya dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi.

Renungan Tentang Mencontek

Kadang kita sebagai orang tua perlu memberikan beberapa pertanyaan dan pernyataan yang memaksa anak-anak kita untuk merenung tentang tindakan mencontek mereka, “Nak.. apakah kamu merasa tenteram saat mencontek? Apakah kamu tidak merasa adanya Dzat yang sedang mengawasimu saat kamu menyontek?” Atau beberapa pernyataan di bawah ini ketika anak menyontek:

  • Nak, kamu tidak bisa mengukur seberapa jauh kemampuanmu jika mencontek.
  • Kamu tidak dapat merasakan betapa nikmatnya berlaku jujur. Kamu tidak akan tahu seberapa hebat kamu bisa menaklukkan soal-soal.
  • Kamu tidak akan bisa merasakan kepuasan yang menyeluruh ketika mendapatkan nilai yang bagus.
  • Kamu akan memiliki otak yang dimanjakan atau kurang digunakan sebagaimana mestinya, sehingga kebiasaan ini akan menjadikan otakmu tumpul secara permanen.
  • Mencontek tidak dapat memastikan kamu mendapat nilai baik, karena teman yang kamu conteki ternyata tidak belajar dengan baik. Kamu mendapatkan dua kerugian, pertama rugi berdosa karena mencontek dan kedua rugi karena mendapatkan nilai yang kurang baik.
  • Mencontek akan menghilangkan harga dirimu di depan teman-teman, karena mereka mengetahui bahwa kamu tidak mempunyai kemampuan.

Dengan pertanyaan dan pernyataan ini maka anak dipaksa berpikir lebih jauh dan merasakan lebih dalam tentang apa yang sedang mereka lakukan saat ujian

Saat Anak Mencontek

Bukanlah tindakan yang bijaksana jika kita terlalu menyalahkan anak saat mereka mencontek. Tekanan yang tinggi, pengaruh teman yang kuat, sistem ujian yang belum baik, dan pengajar yang kurang mendukung sikap integritas adalah beberapa hal yang mendorong anak untuk mencontek. Mayoritas dorongan tersebut berasal dari luar diri anak.

Tetapi jauh tidak bijaksana jika kita membiarkan anak mencontek tanpa teguran dan pengarahan sama sekali. Sikap ini dapat membangun paradigma yang keliru pada diri anak tentang mencontek, seperti mencontek itu wajar dilakukan oleh pelajar, mencontek itu budaya, mencontek dibenarkan karena semua anak pernah melakukannya, bahkan mencontek itu “ibadah” membantu orangtua.

Beberapa cara yang bijak yang dapat dilakukan oleh orangtua saat menghadapi anak mencontek, di antaranya:

1. Membangun Keyakinan Anak

Membangun keyakinan pada diri anak bahwa mereka adalah pribadi yang mempunyai kemampuan. Dari keyakinan diri ini akan muncul sikap percaya diri dan mandiri untuk tidak terlalu bergantung pada bantuan orang lain. Seorang anak yang mempunyai keyakinan diri dapat menerima dan menolak setiap tindakan yang bermanfaat bagi dirinya dan berbahaya.

2. Membimbing Mendapat Teman yang Baik

Orang tua membimbing siswa untuk mendapatkan teman-teman yang baik, tanpa menghilangkan kebebasan untuk memilihnya secara mandiri.

3. Melaksanakan Proses Pembelajaran yang Berkualitas

Mendorong sekolah dan para pengajar untuk melaksanakan proses pembelajaran yang berkualitas dan bermutu. Pembelajaran yang berkualitas ini akan memperkecil kemungkinan bagi siswa untuk mencontek, karena toh mereka dapat menguasai soal-soal yang diujikan.

4. Menghargai Pencapaian Nilai Anak

Orangtua menghargai nilai berapapun yang diperoleh anak, asal nilai tersebut diperolehnya dengan penuh kejujuran. Orangtua ini menganggap bahwa kegagalan pada sebuah ujian merupakan hal yang biasa.

5. Memberikan Sanksi

Memberlakukan sanksi yang membuat efek jera dengan implementasi yang sungguh-sungguh dan konsisten.

6. Melakukan Pengawasan yang Ketat

Mendorong sekolah dan guru untuk melakukan pengawasan yang ketat saat ujian, sebagai tindakan preventif dari terjadinya perilaku mencontek.

Mencontek di sekolah bukanlah satu-satunya pintu yang mendorong seseorang untuk melakukan tindak korupsi di kemudian hari, tetapi jika kita dapat memastikan tidak terjadinya tindak mencontek, maka sebenarnya kita telah menutup satu pintu terjadi tindak korupsi dikemudian hari.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.