Gentong Moral Membangun “Wadah” Anak Kita

Di rumah, kita selalu menyediakan wadah air untuk memasak atau mencuci. Semakin tinggi tingkat kebutuhan kita terhadap air, maka semakin besar wadah yang harus kita sediakan. Bahkan kadangkala kita harus mengganti wadah lama yang kecil dengan wadah baru yang lebih besar karena semakin besarnya kebutuhan tersebut.

Fenomena wadah adalah fenomena tingkat kebutuhan. Semakin tinggi tingkat kebutuhan seseorang, maka semakin besar pula wadah yang harus disediakan. Jika tingkat kebutuhan hidup kita meningkat, namun belum tersedia wadah yang cukup, maka mungkin perkembangan tingkat hidup kita akan tersendat.

Seperti saat kita membutuhkan air 50 m kubik setiap pekan, akan tetapi kita hanya mempunyai wadah yang berisi 10 m kubik, maka air tersebut mungkin akan berhamburan di lantai jika kita memaksakan untuk memasukkannya dalam wadah tersebut. Jalan satu-satunya adalah meminta untuk mengirimnya sedikit-demi sedikit hingga 5 kali pengiriman, ini pun akan membutuhkan waktu dan biaya lebih besar.

Di rumah tidak hanya air yang kita sediakan wadahnya, beras pun membutuhkan wadah yang lain. Sehingga wadah beras jelas tidak sama dengan dengan wadah air, baik dari aspek karakteristiknya maupun kekokohannya.

Karakter wadah air harus rapat dan tidak ada kebocoran di dalamnya, sementara wadah beras justru membutuhkan sedikit lubang kecil untuk sirkulasi keluar masuk udara.

Saya pernah bertanya kepada seorang guru kelas satu sekolah dasar yang mengajar matematika. “Apa yang dipelajari anak kelas satu untuk pelajaran matematika?” Ia menjawab, “Kelas satu mempelajari materi penjumlahan, pengurangan, dan sedikit perkalian dasar.”

Kemudian saya kembali bertanya, “Hanya itu?” Ia menjawab kembali, “Dengan kompleknya materi-materi tersebut maka bagi kelas satu cukup berat untuk mempelajari itu semua.”

Saya berpikir, jika hanya keterampilan itu yang diajarkan oleh guru kepada anak, maka saya dapat membelikan anak saya kalkulator dan mengajari bagaimana cara menggunakannya. Sehingga saat ujian tiba ia dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari gurunya dengan benar.

Lalu muncul pertanyaan di benak saya dimanakah letak keterampilan ketelitian, tanggung jawab, atau kemampuan untuk mengestimasi hasil?

Penjumlahan, pengurangan dan perkalian hanyalah isi, sebenarnya dengan isi-isi tersebut seorang guru juga dapat menjadikannya sarana untuk membangun wadah (gentong) bagi siswanya. Wadah tersebut dapat berupa ketelitian, tanggung jawab, kemandirian, kemampuan untuk mengestimasi hasil dan lain sebagainya.

Suatu sore Andi bermain dengan temannya di halaman rumah. Secara tidak sengaja ia menumpahkan puzzle milik temannya dan membuat temannya menangis histeris.

Melihat peristiwa tersebut tiba-tiba ibunya memunguti kembali puzzle tersebut dan menatanya kembali untuk segera dikembalikan kepada yang punya. Andi melihat peristiwa tersebut dengan tatapan orang bingung, hendak membantu ibunya takut dimarahi, karena sebenarnya ia telah takut semenjak menumpahkan puzzle tersebut.

Peristiwa tumpahnya puzzle teman bagaikan materi-materi yang ada dalam pelajaran, itu semua hanyalah isi. Namun ibunya lupa membangun wadah moral (gentong) bagi putranya dengan peristiwa tersebut.

Dengan peristiwa tersebut sebenarnya ibu Andi dapat membangun wadah tanggung jawab, empati atau suka memohon maaf. Ia dapat mengajak putranya untuk memunguti puzzle tersebut bersama, memberikannya kepada putranya untuk diserahkan kepada temannya seraya meminta maaf.

Dengan demikian 2 tujuan terlaksana, yaitu membantu mengembalikan mainan dan membangun rasa tanggung jawab pada diri anaknya.

Saya masih ingat ketika baru saja menyelesaikan pendidikan setingkat menengah atas saya harus berurusan dengan polisi lalu lintas. Dalam sebuah pemeriksaan resmi di jalan raya saya ditilang dan sepeda motor tidak boleh dibawa pulang karena tidak membawa STNK.

Dengan perasaan takut dan khawatir saya menyampaikan masalah tersebut kepada bapak. Namun kekhawatiran saya tidak terbukti, karena bapak dengan bijaksana mengajak berdialog bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut, termasuk rencana uang yang digunakan sebagai denda seusai sidang.

Kemudian dengan segera saya mengambil STNK yang ketinggalan di rumah dan membawa uang pinjaman sementara dari orangtua untuk menghadapi sidang di tempat, membayar uang denda, dan mengambil sepeda motor.

Muncul perasaan lega sesaat. Seluruh proses di atas selesai, bahkan yang muncul kemudian rasa tanggung jawab dan hati-hati setiap hendak membawa sepeda motor.

Bapak saya sebenarnya dapat menyelesaikan masalah di atas secara cepat, praktis dan ekonomis dengan menelpon salah satu kenalannya di Polres, untuk menyelesaikan masalah tersebut sekaligus mengambil sepeda tanpa uang sepeser pun.

Namun jika sikap tersebut dilakukan oleh bapak, saya tidak pernah belajar arti tanggung jawab dan makna kehati-hatian. Yang beliau lakukan adalah membiarkan masalah tersebut tetap milik anaknya tanpa mengambil rasa tanggung jawab, kemudian membuka ruang diskusi untuk membantu menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh anaknya.

Orangtua sebenarnya dapat menjadikan setiap peristiwa yang dihadapi anaknya sebagai sarana untuk membangun wadah. Saat putranya mengalami kegagalan pada ujian atau lomba olah raga maka ia dapat membuat wadah bahwa kegagalan adalah awal dari kesuksesan, sehingga di masa yang akan datang anak akan mampu menghadapi kegagalan serupa atau kegagalan yang lebih tinggi dengan wadah yang telah dibangun bersama orangtuanya.

Dalam sirah sahabat diceritakan tentang kebiasan Khalifah Umar bin Khattab untuk mengunjungi para penduduk miskin dimalam hari. Malam itu ia melakukan sebagaimana biasanya, berkunjung dari rumah ke rumah, melihat secara langsung kondisi sebenarnya kehidupan para penduduk.

Ditengah kunjungan tersebut Khalifah Umar tertarik mendengarkan dialog antara seorang ibu dan putrinya. “Wahai putriku ambilkan setengah ember air dan bawa kemari.”

Putrinya dengan sigap mengambil air putih dan membawakan ke hadapan ibunya. Ia kemudian bertanya kepada ibunya, “Apa yang engkau lakukan dengan air itu wahai ibunda?” Ibunya menjawab, “Akan aku campur dengan susu ini, hasil susu hari ini sangat sedikit dan kebutuhan kita semakin banyak.”

Putri itu berkata, “Bukankah Khalifah Umar telah melarang kita untuk melakukan ini?” Ibunya menjawab, “Wahai putriku bukankah Khalifah Umar saat ini tidak melihat kita?” Dengan penuh kelembutan putrinya mengatakan, “Memang khalifah Umar tidak melihat apa yang kita lakukan sekarang, namun bukankah Allah SWT selalu melihat kita?”

Cerita di atas menggambarkan kokohnya wadah kejujuran di dalam jiwa seorang anak. Dengan wadah yang begitu kokoh dapat dipastikan ia tidak dapat tergoyahkan dalam berbagai godaan dan cobaan kejujuran.

Wadah yang kokoh tersebut jelas tidak dibangun dalam sekejap, ia memerlukan banyak peristiwa untuk membangunnya, disamping perhatian dan kelembutan orangtua untuk membangunnya sedikit demi sedikit.

Saya pernah menjumpai orangtua yang mempunyai komitmen tinggi untuk membangun “wadah” kejujuran terhadap anak-anaknya. Suatu hari ia menemukan putranya menraktir teman-temannya dengan uang yang belum pernah ia berikan.

Dengan komitmen yang tinggi terhadap kejujuran putranya ia bertanya kepadanya tentang asal uang untuk mentraktir temannya. Ia mendapatkan jawaban yang sangat mengejutkan bahwa uang tersebut didapat dari mengambil uang milik temannya. Kemudian dengan tiba-tiba ia telah membentak dan menghukum putranya dengan memasukkan ke kamar mandi.

Orangtua ini tidak sedang membangun “wadah” kejujuran kepada putranya, tetapi sebaliknya ia telah menghancurkannya. Kejujuran yang ditunjukkan sang putra kepada orangtuanya justru berakibat pada hukuman.

Suatu saat ia tidak akan pernah jujur ketika ditanya orangtua, toh akibatnya sama dengan yang lalu, yaitu sebuah hukuman. Wadah anak tidak selalu berorientasi pada moral, seperti pada pelajaran matematika dan IPS.

Mungkin beberapa wadah yang dibangun bukan merupakan moral seperti pola berfikir, keterampilan problem solving, dan teknik analisa suatu masalah. Namun mayoritas wadah anak terdapat dalam moral yang hendak dikembangkan dalam diri anak.

Lalu moral apa saja yang perlu dijadikan wadah anak sehingga ia mampu menjalani hidupnya dengan bertumpu pada wadah tersebut? Ust. Anis Matta dalam bukunya Membentuk Karakter Cara Islam menyebutkan beberapa induk karakter yang perlu ditanamkan pada jiwa anak, yaitu cinta kebenaran, kekuatan kehendak, himmah, kesabaran, rasa kasih, naluri sosial, cinta manusia, kedermawanan, dan kemurahan hati. Dari beberapa induk karakter ini beliau mengidentifikasi beberapa turunannya.

Dr. Ratna Megawangi dalam proyek pendidikannya, yaitu Indonesia Heritage Foundation, memilih 9 pilar karakter, yaitu cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran/amanah/diplomatis, hormat dan santun, dermawan/suka menolong /gotong royong, percaya diri/kreatif/pekerja keras, kepemimpinan/keadilan, baik/rendah hati, dan toleransi/kedamaian/ keamanan.

“Character education is not one more thing on your plate, it is the plate”

Kita mempunyai kebebasan untuk memilih jenis wadah apa saja bagi anak kita, sesuai dengan visi dan misi keluarga kita. Akan tetapi pastikan wadah yang kita pilih adalah wadah yang positif dan pembangunannya tidak terlambat sampai anak-anak kita telah dewasa. Saya yakin kita selalu menyediakan wadah air sebelum datangnya kiriman air dari PDAM.

Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

_________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.