Kita sering memahami bahwa penghargaan selalu merupakan respon dari perilaku baik yang dilakukan oleh anak. Seperti saat anak mendapatkan rangking di sekolahnya, lalu kita memberinya hadiah kepadanya. Atau saat anak telah membantu menyapu halaman sekolah/rumah, kemudian kita menghargainya.
Jika pemahaman kita demikian, maka betapa terbatasnya kita di dalam menghargai anak menunggu mereka melakukan kebaikan-kebaikan, baru kita bisa menghargainya. Lalu bagaimana dengan beberapa anak-anak yang kebetulan belum menunjukkan perilaku baiknya di depan kita? Tentu kita akan merasakan kesulitan untuk memberi penghargaan kepadanya. Dan akhirnya kita tidak pernah bisa menghargainya.

Sebenarnya penghargaan tidak harus menunggu anak melakukan kebaikan-kebaikan sesuai dengan harapan kita. Apalagi penghargaan tersebut berupa perhatian non verbal. Ia bisa kita lakukan kapanpun dan di manapun kita bertemu dengan anak. Seperti saat kita berbicara dengan anak lalu kita posisikan tubuh kita setinggi anak sambil kita condongkan tubuh ke arah anak dan fokus pada pembicaraan anak.
Ini tentu sebuah penghargaan yang bisa kita lakukan tanpa harus menunggu anak melakukan sebuah kebaikan di depan kita. Justru sikap kita yang selalu menghargai anak saat berbicara, akan mandorong munculnya sikap hormat mereka kepada kita.
Bahkan penghargaan non verbalpun bisa kita lakukan tanpa menunggu mereka telah melakukan kebaikan. Seperti saat kita menjumpai anak-anak kita telah belajar sungguh-sungguh dalam menghadapi ujiannya, maka kita biasanya berkata, “Anak-anak terima kasih untuk sungguh-sungguhnya di dalam menghadapi ujian”.

Pernyataan di atas memang sering kita sampaikan setelah anak-anak bersungguh-sungguh, tetapi tidak menutup kemungkinan kita sampaikan sebelum mereka melakukan untuk mendorong mereka bersungguh-sungguh. Daripada apa yang sering kita lakukan sebelum ujian, “Anak-anak kalian harus bersungguh-sungguh ya dalam ujian kali ini.” Ada nada perintah, dan itu kurang menghargai pada anak.
Bagi kita seharusnya menghargai anak tidak harus menunggu mereka melakukan kebaikan-kebaikan sesuai harapan kita, karena menghargai bukanlah selalu hukum timbal balik, atau aksi dan reaksi. Ia merupakan perbuatan yang baik yang seharusnya selalu kita lakukan. Kita melakukannya bukan karena respon yang kita dapat dari anak tetapi mengharap balasan terbaik dari Allah.
Bukankah setiap anak adalah ciptaan terbaik Allah yang layak kita hargai ?, Jika anak-anak itu menjadi lebih baik karena penghargaan kita kepada mereka, anggap saja itu adalah bonus dari Allah SWT.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

