Saya sering mengantarkan anak-anak ke sekolah dan melihat lalu lalang para orangtua mengantarkan putra-putri mereka. Sehingga saya seringkali menemukan banyak fakta yang menjadi gambaran yang menarik bagaimana cara orangtua di dalam mengasuh anak-anak mereka. Baik gambaran tersebut lebih bersifat positif seperti perhatian orangtua pada anak maupun bersifat negatif seperti rasa kekhawatiran orang yang terlalu saat meninggalkan anak-anak mereka.
Ada seorang anak yang selalu diantarkan bapaknya dengan membawa dua tas, tas besar dan kecil. Kedua tas tersebut dibawa oleh sang ayah dengan sedikit repot sementara anaknya yang cukup besar badannya dengan santainya tidak membawa barang sama sekali.
Pada moment yang lain saya juga menemukan anak-anak yang sedang dipakaikan pada mereka kaos kaki di dalam mobil, padahal mereka sudah kelas dua atau kelas tiga sekolah dasar.
Jika kita mempunyai pemahaman yang sama bahwa masa taman kanak-kanak dan sekolah dasar sebagai waktu yang paling efektif di dalam membangun dasar-dasar karakter anak, maka kita dapat membayangkan seberapa tangguh dan mandiri anak-anak dalam dua fakta yang tersebut di atas saat mereka dewasa.
Mengapa kita perlu memberi perhatian yang besar terhadap dua karakter ini terutama dalam era MEA ini? Ada beberapa alasan yang perlu kita sampaikan, diantaranya :

1. Menghadapi Kegagalan dan Ketidak Nyamanan
Anak-anak yang tangguh adalah anak-anak siap menghadapi kegagalan dan ketidak nyamanan. Sikap ini akan sangat dibutuhkan pada era MEA di mana anak untuk bertarung dalam percaturan hubungan dan ekonomi di ASEAN harus siap menghadapi beberapa kegagalan dan kepahitan
2. Harus Memiliki Sikap Mandiri
Sikap mandiri adalah sikap yang tidak tergantung pada orang lain. Dengan sikap ini seorang anak lebih siap menghadapi tekanan-tekanan dari luar tanpa harus kehilangan identitas diri mereka. Karena dia sangat percaya bahwa yang Ia miliki tidak kalah dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.
Untuk membangun seorang anak yang tangguh dan mandiri ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh orangtua, diantaranya:

1. Tega Melihat Anak Menghadapi Masalah dan Kesulitan
Orangtua kadang harus tega melihat anaknya menghadapi masalah dan kesulitan dengan sendiri. Orangtua harus siap hanya melihat anaknya sedang bertikai dengan temannya, tanpa terlibat terlalu jauh dalam friksi mereka. Sebagaimana orang tua juga hanya boleh mendampingi saat anak mengerjakan tugas-tugasnya.
Dalam konteks ini orangtua tidak boleh berfikir bahwa anak harus steril dari masalah. Justru saat mereka sering menghadapi masalah akan membuat mereka lebih kuat dan tangguh. Bantuan kita berikan pada titik yang memang anak sudah tidak mampu lagi untuk mengatasinya.
2. Memberikan Tanggung Jawab kepada Anak
Memberikan tanggung jawab anak terutama pada aktifitas yang memang bersentuhan dengan diri anak sendiri. Seperti mengembalikan barang pada tempatnya setelah digunakan, membiarkan anak untuk mengenakan seragam atau sepatu sekolah sendiri, menata peralatan sekolah dalam tas dan lain-lain. Sikap ini akan membuat anak terbiasa mandiri dan mampu menyelesaikan masalah mereka dengan baik.
3. Tidak Menuruti Semua Keinginan Anak
Tidak selalu menuruti keinginan anak dan kadang menangguhkan untuk beberapa saat ketika menerima permintaan anak. Anak-anak yang terdidik tidak mudah mendapatkan apa yang mereka inginkan akan tumbuh menjadi anak-anak yang siap selalu bekerja keras dan pantang menyerah. Dan sikap kita untuk tidak menuruti keinginan kecuali ditangguhkan untuk beberapa saat akan mendidik anak untuk tidak berfikir instant dan dapat menikmati setiap proses menuju kesuksesannya.
Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari Buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.

