Semua Ada Batasnya

Pagi ini saya mengunjungi sebuah PG dan TK di dekat Pondok Modern Gontor. Tiba-tiba seorang anak kecil yang masih duduk di kelompok A menyapa dan mengenalkan dirinya dengan ramah. Namanya Faruk, kebetulan sama dengan penggalan nama salah satu anak saya. Tiba-tiba anak ini mengomentari mobil saya dan sedikit memberi pujian.

Saya kagum dengan sosialnya yang sangat tinggi. Saya menawarkan diri untuk mengajaknya naik mobil berputar-putar sejenak keliling halaman sekolah. Dia amat girang mendapatkan bonus dari saya dan mengucapkan terima kasih.

Beberapa saat kemudian Ia telah mendekati seorang wali murid yang naik sepeda motor dan berhenti sejenak di depan sekolah. Subhanallah Faruk sudah naik sepeda motor wali murid tersebut dan kembali berputar-putar di halaman sekolah. Sungguh anak yang cerdas dan mohon maaf sedikit “nakal”.

Aksi Faruk tidak berhenti sampai di situ, Ia kembali mendekati seorang tamu yang lain dan mulai menjalankan aksinya dengan wajah lucunya. Tampaknya modusnya dicermati salah seorang ustadzah dan meminta tamu tersebut untuk tidak menuruti permintaan Faruk dengan menggendong lembut menjauh dari tamu tersebut. Faruk memang masih boleh untuk pertama dan kedua, tetapi tidak untuk ketiganya. Karena semua ada batasnya, kita orangtua harus belajar untuk membuat batasan-batasan untuk anak kita.

Suatu hari kita membawa pulang cukup banyak kue untuk anak-anak. Subhanallah kebetulan anak-anak juga sangat menyenanginya. Dalam sekejap satu, dua potong kue telah masuk pada perut. Apakah kita membiarkan mereka untuk menghabiskan semua kue tersebut dalam sekejap dengan perut yang terlalu kenyang. Tentu tidak, kita perlu membangun batasan-batasan bagi mereka dalam menikmati makanan dan melakukan aktifitas yang disenangi mereka.

Saat mereka besar mereka terbiasa secara mandiri untuk membuat keputusan ini saatnya untuk berhenti. Apa yang terjadi jika kita mempunyai anak-anak yang tidak memiliki mekanisme dalam diri mereka untuk membuat batasan dan akhirnya setiap yang mereka inginkan harus selalu dituruti dengan sepuasnya.

Masalahnya seringkali bukan dari anak kita yang tidak menghendaki untuk kita batasi, tetapi justru dari diri kita sebagai orangtua. Rasa cinta kita kepada anak seringkali membuat cara berfikir logis kita agak sedikit terganggu. Saat anak sudah menikmati satu, dua potong kue dan dia meminta yang ketiga atau keempat, maka di sinilah ujian cinta mulai berjalan.

Perasaan kita sering mengucapkan, toh saya kerja ini untuk anak, dan anakpun masih mau untuk memakannya. Akhirnya kita memberi kesempatan anak untuk menikmati kue tersebut sepuasnya. Maka tidak mengherankan saat ini kita sering menemukan anak-anak mengalami obesitas karena orangtuanya tidak tega menghentikan keinginan anak untuk menikmati makanan sepuasnya.

Kita lupa bahwa saat kita mulai memberi batasan sesuai dengan kebutuhan anak, tidak sesuai dengan keinginannya, maka sebenarnya kita telah melatih mereka untuk membangun batasan pada diri mereka secara mandiri. Kelak saat mereka dewasa dan memiliki suatu kesenangan atau keinginan, maka mereka mampu mengukur apakah kesenangan dan keinginannya telah masuk pada batasan logis atau sudah terlalu banyak.

KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.