Saat itu kami masih mempunyai dua anak, laki-laki semua. Anak pertama duduk di bangku TK (Taman Kanak-Kanak), sedangkan anak kedua masih berumur 2 tahun 6 bulan. Anak pertama sifatnya pendiam, cool, dan mudah untuk diarahkan. Anak kedua lebih aktif dengan kecerdasan linguistik yang tinggi.
Kami tidak mempunyai jadwal khusus untuk menonton televisi. Siapa dan kapan saja anggota keluarga boleh menonton televisi jika ingin menontonnya. Ibarat belanja di toko swalayan yang buka 24 jam, siapa pun dan kapan pun bebas berbelanja ke dalamnya tanpa ada batasan.
Bangun tidur mereka bisa langsung menyalakan televisi. Sambil makan mereka pun dapat menyalakan televisi. Bahkan, anak-anak mulai terbiasa tidur di depan televisi, kemudian kami menggendongnya ke dalam kamar mereka. Kami merasa hidup kami telah dikendalikan oleh alat elektronik ini. Namun, kami masih bisa menikmatinya. Seperti lagu saja, “Mau makan ingat kamu (televisi), mau tidur ingat kamu, mau belajar ingat kamu”.

Kami sebenarnya menyadari tentang bahaya televisi bagi anak. Namun, rasa “cinta” (untuk tetap membuat mereka selalu senang) kami terhadap mereka mengalahkan semuanya. Toh, kami telah membuat aturan bahwa setiap terdengar adzan televisi harus dimatikan.
Atas nama “cinta” kami tutup rapat-rapat telinga kami dari bahaya televisi, sinetron-sinetron sampah, kekerasan adegan, dan perkataan-perkataan yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak.
Hingga pada suatu hari putra kami mendapatkan PR dari sekolah. Kami mengetahui PR tersebut harus dikumpulkan esok hari. Kami berusaha mengingatkan putra kami yang sedang asyik menonton televisi, “Mas, tolong PR-nya dikerjakan!”.
Pernyataan pertama tersebut sama sekali tidak direspon oleh putra kami. Kemudian kami berkata lagi, “Mas, ambil buku PR-nya dan kerjakan dengan segera!” Sambil bersikap malas putra kami mengambil buku di dalam tasnya dengan mata yang masih tertuju ke tayangan televisi.
Kemudian ia mulai membalik-balik halaman PR dan mulai mengerjakannya tanpa sekalipun ia melepaskan pandangannya dari arah televisi. Setelah beberapa lama ia mengerjakan PR-nya, kami mengecek hasil pekerjaannya dan menemukan hanya 2 nomor yang telah dikerjakan, sisanya masih ada 8 nomor yang belum disentuh. Kami hanya bisa mengomel dan memintanya untuk mengerjakan nomor selanjutnya.
Peristiwa PR di atas juga terjadi saat acara mandi pagi. Untuk membuat anak agar masuk ke kamar mandi, kami terpaksa berbicara beberapa kali. Bahkan, seringkali kami harus mengangkatnya ke kamar mandi. Sungguh tugas-tugas yang sebenarnya sangat mudah dilakukan oleh anak menjadi sangat memberatkan bagi kami.
Jika lomba lari ada garis finish-nya, maka saat inilah menjadi garis finish bagi kesabaran kami. Televisi telah merenggut otoritas kami sebagai orangtua atas anak-anak. Televisi pula yang telah menceraikan hati kami dengan hati mereka.
Lebih parah lagi alat elektronik ini telah menjadikan kami seperti penjual jamu pinggir jalan yang sering berbicara tetapi kurang direspon oleh orang-orang yang lalu lalang di sekitar kami. Akhirnya, malam harinya kami berdiskusi dan membuat keputusan bahwa televisi hanya dapat disaksikan pada hari Sabtu dan Ahad karena hari-hari itu adalah hari libur bagi mereka.
Keesokan harinya saya mendekati dua buah hati kami yang sedang menikmati acara televisi. Saya menyampaikan peraturan tersebut sambil menjelaskan alasannya bahwa setiap kali orangtua meminta mereka mengerjakan sesuatu mereka selalu enggan untuk melakukannya karena sedang asyik menonton televisi. Akhirnya kami mematikan televisi.
Ranjau-ranjau Peraturan

Respon anak-anak terhadap peraturan baru ini adalah melakukan protes dengan cara menangis sekeras-kerasnya. Keputusan kami telah bulat dan tangisan tersebut sama sekali tidak menggoyahkan hati kami untuk mengubah peraturan tersebut. Melihat sikap kami yang konsisten dan tidak dapat ditawar, akhirnya keduanya menghentikan tangisan mereka dan kami mendekati mereka dengan pelukan kasih sayang.
Pada hari berikutnya kami tidak menemui hambatan lagi ketika melaksanaan peraturan karena anak-anak sudah mulai terbiasa tidak menonton televisi. Mereka pun sudah mulai punya aktivitas-aktivitas baru, seperti bermain bola, membaca buku, dan berkelahi satu dengan yang lainnya. Aktivitas ini semua lebih baik daripada menonton televisi sebab otak mereka sangat pasif ketika menonton televisi.
Pada suatu pagi, anak pertama kami agak rewel karena ia bangun agak terlambat dari biasanya. Dengan emosi yang kurang stabil tersebut, ia mulai memprovokasi adiknya untuk menonton televisi. Kami agak sedih dengan sikapnya tersebut, walaupun dalam hati kecil kami muncul rasa bangga atas inisiatifnya untuk melakukan provokasi.
Saat salah satu anak ingin menyalakan televisi, kami hanya meresponnya melalui pertanyaan, “Hari apa sekarang?” Dengan sikap bersatu mereka kembali memrotes sikap kami sambil berteriak, menangis, dan berguling di lantai. Kami kembali diuji untuk konsisten terhadap keputusan kami.
Saya masih ingat sebuah teori bahwa saat emosi anak memuncak, tidak ada hasilnya jika kita membujuk mereka. Kami lakukan teori tersebut walaupun harus menikmati tangisan anak-anak lebih lama. Saat nada tangisan tersebut mulai menurun, inilah saatnya kami bersikap fleksibel. Kami menawari mereka memainkan HP. Mereka akhirnya menerimanya dengan baik. Provokasi hari itu dapat kami selesaikan dengan happy ending.
Beberapa bulan berikutnya, nenek datang dari Ponorogo. Kami sekeluarga menyambutnya dengan antusias, terutama anak kami yang kedua. Kami kurang memahami mengapa ia bersikap berbeda dari biasanya saat neneknya datang. Sesaat setelah bangun tidur dan melaksanakan shalat shubuh, anak kedua kami tiba-tiba telah membawa neneknya ke depan televisi dan meminta beliau untuk menyalakannya.
Kami berdua agak bingung bersikap atas fenomena tersebut. Kondisi ini diluar garis skenario, kami tidak tahui cara menyelesaikannya.
Rapat kilat akhirnya kami laksanakan dan kami memutuskan untuk komitmen terhadap aturan yang telah kami buat. Sesaat kemudian suami mendekati nenek dan anak kedua kami untuk menjelaskan peraturan yang telah kami buat tentang televisi. Alhamdulillah, nenek menerima dengan baik walaupun harus melihat cucunya sangat kecewa dan menangis dengan keputusan tersebut.
Peraturan telah kami buat dan kami konsisten untuk melaksanakannya. Ini semua demi rasa “cinta” kami kepada anak-anak. Cinta yang tidak hanya dibangun dari rasa senang dan tidak senang. Namun, cinta yang berangkat dari maslahah dan ridlo Allah SWT.
Manfaat Tele “peraturan” Visi

Hari ini peraturan seputar televisi telah berjalan tanpa hambatan dalam keluarga kami. Anak-anak telah menikmati aktivitasnya tanpa kehadiran televisi. Satu hal yang sering mereka pikirkan tentang televisi adalah kapan hari Sabtu dan hari Ahad tiba ?. Toh, mereka tetap sebagai anak-anak normal yang masih sering mendengar anak tetangga bercerita tentang acara sepak bola atau Avatar yang baru saja mereka lihat di televisi keluarganya.
Dengan adanya peraturan di atas, ada beberapa manfaat yang saat ini telah kami rasakan:
- Kami lebih mudah mengarahkan anak-anak dan mereka lebih mudah mendengarkan perkataan orangtua mereka.
- Anak-anak lebih menghormati waktu, seperti sering bertanya, “Pukul berapa sekarang?” kemudian melakukan kegiatan-kegiatan yang lainnya.
- Anak-anak terhindar dari perkataan yang kurang baik dari televisi.
- Waktu anak lebih banyak digunakan untuk aktivitas yang berhubungan dengan fisik mereka, seperti sepakbola, lari-lari, dan lain-lain.
- Muncul habit membaca yang kuat dari anak-anak. Hal ini karena objek yang menarik bagi anak bukan lagi televisi tetapi gambar buku-buku cerita yang berwarna-warni.
Tele ”peraturan”visi adalah memberikan peraturan tentang kapan dan bagaimana menonton televisi yang baik.
KH. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Tips Instan Mendidik Anak”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


