Pilihan Bagi Anak

Saat teknik memberi informasi dan pertanyaan tidak dapat menggerakkan anak untuk segera meninggalkan televisi dan menjalankan shalat, maka kita bisa menggunakan teknik membuat pilihan bagi anak kita.

Seperti perkataan kita kepada anak berikut ini, “Mas, adzan sudah berkumandang, apa yang harus kamu lakukan? Ini teknik informasi dan bertanya. Dan anak pun masih terlihat enggan untuk meninggalkan televisinya maka kita bisa menggunakan teknik membuat pilihan. “Mas, kamu segera ambil air wudhu untuk shalat atau televisinya saya matikan”.

Membuat pilihan dalam konteks ini jauh lebih baik daripada kita menggunakan teknik ancaman. “Mas, televisinya saya matikan kalau kamu masih menonton”. Karena anak masih diberi kesempatan untuk menentukan pilihannya dengan konsekuensi pada masing-masing pilihan. Sementara ancaman hanya memberikan satu pilihan yaitu harus meninggalkan televisi.

Membuat pilihan kepada anak juga bisa kita gunakan untuk mendidik anak mempunyai kemandirian di dalam menentukan pilihan. Saat kita mengajak anak untuk berbelanja ke swalayan. Kemudian anak kita memilih satu merk susu kotak, kita dapat menghadirkan dua merk lain untuk membuat pilihan bagi anak.

Ini tentu pelajaran memilih yang baik sekali bagi anak apalagi jika kita tambah dengan tantangan menyampaikan alasan mengapa memilih merk yang satu ini. Ketika anak langsung mengambil satu merk maka kerja otaknya sangatlah sederhana yaitu mengambil sesuai yang disenanginya. Tetapi saat ada tiga pilihan merk di depannya maka otaknya akan bekerja lebih kompleks menentukan alasan dan untung ruginya ketika Ia harus menentukan satu pilihan.

Seorang anak yang terbiasa memilih dengan alasan akan lebih mampu untuk menerima atau menolak ajakan teman sesuai dengan alasan dan keyakinan pada dirinya. Sementara anak yang tidak kita biasakan untuk membuat pilihan akan mudah dipengaruhi oleh teman karena tidak punya alasan untuk menerima dan menolak. Ia terbiasan menuruti kemauan dan keputusan orangtuanya dan orang-orang sekelilingnya.

Selanjutnya membuat pilihan dapat kita gunakan juga untuk menolak permintaan anak. Seperti ketika anak meminta ice cream padahal Ia baru sakit radang tenggorokan. Kita dapat membuat pilihan pada materi selain ice cream. Seperti perkataan kita berikut ini, “Mas. Kamu memilih susu ini atau kue ini”.

Membuat pilihan dalam konteks ini memang terasa sulit untuk kita praktekkan, tetapi saya merasakan betapa manjurnya teknik ini. Karena saya masih menempatkan anak pada subyek dari permintaannya. Tantangannya adalah bagaimana kita membuat pilihan yang rasional bagi anak kita sebagai pengganti dari apa yang Ia minta.

Hidup adalah pilihan, memilih antara kebaikan dan keburukan. Memilih antara jalan ke kanan dan jalan ke kiri. Membuat pilihan bagi anak kita adalah satu cara kita untuk membantu mereka lebih siap menghadapi hidup ini.

H. Drs. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.