Senin Pagi yang Sibuk

Setiap orangtua yang masih memiliki anak-anak yang duduk di PG hingga SMA tentu akan merasakan suasana ini. Senin pagi yang sibuk dan mendebarkan bagi semua anggota keluarga di rumah. Kedua orangtua yang kebetulan kerja di luar rumah harus berangkat lebih pagi dari hari-hari biasanya, dan anak pun harus menyesuaikan suasana yang lebih formal setelah hari Sabtu dan Ahad mereka libur.

Yang jelas dengan suasana tersebut maka biasanya akan muncul fenomena sebagai berikut :

1. Tingkat Emosi Lebih Tinggi

Tingkat emosi kedua orangtua lebih tinggi dari biasanya karena mereka dituntut untuk menyelesaiakan lebih banyak aktifitas dengan waktu yang terbatas. Tugas akhir pekan lebih banyak dan dituntut untuk berangkat lebih pagi supaya tidak terjebak kemacetan lalu lintas.

2. Anak Terasa Lebih Sulit diatur daripada Biasanya.

Kondisi ini tidak terlepas dari situasi hati dan emosi orang tua yang lebih tinggi di hari senin, serta mereka harus menyesuaikan lagi dengan kondisi hari masuk sekolah setelah dua hari mereka menikmati hari libur sekolah

3. Mendapat Tugas Lebih Banyak

Biasanya pada awal pekan jumlah tugas dan aktifitas yang menuntut orangtua dan anak seperti tugas mandiri akhir pekan lebih banyak. Maka semuanya sibuk dengan dirinya sendiri dan harus selesai pada waktu itu pula.

4. Orangtua Membantu Tanggungjawab Anak

Beberapa orangtua melakukan kompromi dengan membantu tanggungjawab anak supaya dapat dengan cepat menyelesaikan tanggung jawabnya. Seperti kembali menyuapi anak setelah mereka terbiasa makan sendiri atau membantu anak memakai pakaian mereka.

Akibat dari kondisi di atas adalah seringkali orangtua marah-marah, anak cenderung lebih sulit dikendalikan, dan lingkungan kebiasaan baik anak yang mulai tertanam hilang kembali.

Lebih parah lagi situasi yang sebenarnya berulang setiap awal pekan dan dapat diantisipasi oleh orangtua, akhirnya menjadi kondisi rutin terjadi dan ada yang berlanjut hingga beberapa hari selanjutnya.

Ada beberapa beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orangtua sehingga dapat menghindari situasi di atas, di antaranya adalah :

1. Membuat Kesepakatan Bersama

Membicarakan bersama seluruh anggota keluarga tentang kegiatan-kegiatan yang harus mereka lakukan pada pagi hari khususnya hari Senin dan tanggung jawab masing anggota keluarga.

2. Membantu Anak Mengurangi Kegiatan Pagi

Membantu anak untuk mengurangi kegiatan pagi yang sebenarnya mereka dapat lakukan di waktu malam. Seperti kegiatan merapikan tas dan peralatan sekolah lainnya.

3. Bersikap Tenang

Tetap bersikap tenang walaupun menghadapi pemogokan anak untuk segera melakukan aktifitasnya. Seperti sulitnya anak untuk segera bangun tidur dibandingkan hari-hari yang lain. Hilangnya perasaan tenang dan tidak mampu mengontrol diri justru membuat anak lebih sulit untuk dikendalikan.

4. Sesekali Membiarkan Anak Merasakan Akibat dari Prilakunya

Dalam kondisi tertentu kita kadang-kadang harus membiarkan anak untuk datang terlambat ke sekolah. Supaya mereka dapat merasakan akibat dari perilaku mereka yang tidak segera melaksanakan tugas paginya.

Jangan sampai anak-anak kita tidak pernah terlambat untuk datang ke sekolah karena kebaikan kita untuk selalu cerewet dipagi hari atau mengambil tugas yang sebenarnya telah menjadi tanggung jawab mereka.

Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”

__________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.