Pagi itu saya mendapatkan sapaan akrab dari seorang ibu yang mengikuti Training Parenting saya. Lalu Ia bertanya,
“Anak saya dua hari yang lalu mengembalikan separuh dari uang sakunya yang empat ribu, Ia merasa cukup dengan dua ribu tersebut. Namun sore harinya saya menemukan bungkus kue dengan sisa sedikit yang harganya lebih dari sepuluh ribu di dalam tasnya. Saya bertanya dari mana kue yang ada dalam tas tersebut. Iapun menjawab telah mengambil uang dari simpanannya untuk ia belikan kue di sekolah”.
“Saya merasa dibohongi Ustadz, Ia memang mengembalikan sebagian uang jajannya, tetapi dibalik pengembaliannya Ia telah membawa uang jauh lebih banyak secara diam-diam”. lanjutnya.

Saya sangat memahami respon ibu ini yang kecewa mendapati kenyataan bahwa putranya telah melakukan “kebohongan” dibalik inisiatifnya mengembalikan sebagian uang jajannya.
Jika kita sedikit merenung terhadap fenomena di atas, sebenarnya masih banyak yang harus disyukuri oleh ibu pada anaknya bahkan lebih besar dari kesedihannya mendapati “kebohongan”nya.
Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil sebagai orang jika menjumpai putra-putri kita berperilaku seperti di atas, di antaranya adalah:
1. Anak Merasa Tidak Nyaman Menghabiskan Uang Saku dari Orangtuanya.
Masih ada perasaan kurang nyaman dari anak untuk menghabiskan seluruh uang jajan ibunya di saat Ia menggunakan uangnya sendiri yang agak banyak. Tentu sikap ini adalah yang sangat baik dan mulia. Jika anak ini adalah anak yang kurang baik, maka Ia tidak pernah mengembalikan sisa uang jajannya.
2. Belum Ada Kesepakatan antara Anak dan Orangtua
Mungkin belum ada kesepakatan antara orangtua dan anak tentang mekanisme penggunaan uang simpanan anak, sehingga Ia merasa tidak perlu meminta izin kepada ibunya saat menggunakannya.

Di sinilah muncul PR bagi orangtua untuk mengajari anak bagaimana menggunakan uang simpanannya sendiri dengan tetap mempertimbangkan aspek kemandirian anak untuk membuat keputusan dan aspek pendidikan anak bagaimana memenuhi kebutuhan secukupnya.
Namun membangun respon yang positif terhadap perilaku anak bukanlah perkara yang mudah. Minimal ada dua cara untuk membantu kita para orangtua dapat memberikan respon positif dan menghindari respon-respon negatif atas perilaku dan sikap anak, yaitu :
1. Membangun Pemahaman yang Benar bagi Anak
Membangun pamahaman yang benar dan kuat bahwa apa yang dilakukan oleh anak sebagai proses belajar dan belum menjadi sikap yang permanen. Seperti saat melihat dua anak yang sedang rebutan mainan maka harus dipahami sebagai hal yang sangat wajar di mana yang lebih penting dari pertikaian itu adalah bagaimana orangtua menyikapinya dengan tenang.
2. Memberi Waktu Jeda
Mengambil jeda saat merespon untuk memberi waktu bagi pikiran dan hati kita di dalam memikirkan dan melihat masalahnya dari berbagai aspek serta merasakan dampak dari respon kita.
Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
______
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


