Mengakui Kesalahan

Beberapa orangtua merasa jengkel dengan sikap anaknya yang tidak mau mengakui kesalahan. Padahal anak tersebut sudah jelas-jelas melakukan kesalahan. Akhirnya mereka memaksa anak untuk mengakui kesalahan dengan membentak atau memukul mereka.

Dalam konteks ini memang tidak ada yang benar. Anak tidak mau mengakui kesalahan tentu sikap yang salah, dan orangtua yang memaksa anak untuk mengakui kesalahannya apalagi dengan kekerasan juga sikap yang tidak benar.

Kalau kita berusaha mencermati, maka sebenarnya ada beberapa hal yang menghambat seseorang untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf, di antara hambatan tersebut adalah:

1. Mengakui Kesalahan adalah Sikap Merendahkan Diri Sendiri

Masih banyak orang berfikir termasuk para orangtua dan anak bahwa mengakui kesalahan adalah sikap merendahkan diri sendiri. Dengan pemahaman ini tentunya mereka akan sangat menghindari sikap mengakui kesalahan

2. Orangtua Kurang Mengapresiasi Anak saat Mengakui Kesalahannya.

Dengan memujinya dan memaafkan kesalahan-kesalahan tersebut. Bahkan ada diantara mereka yang justru menjadi sarana pembenaran diri untuk menghukum anak. Padahal mengakui kesalahan dan meminta maaf membutuhkan energi psikologis yang sangat besar.

3. Tidak Ada Contoh dari Orangtua di Dalam Mengakui Kesalahannya.

Bahkan seringkali orangtua menyangkal kesalahan dirinya dan bersikap tidak bertanggung jawab atas kesalahan yang telah dilakukannya di depan anak. Mereka justru bersikap apologis dengan mengatakan bahwa perilaku ini tidak boleh bagi anak tetapi boleh bagi orangtua.

Seperti saat anak mengingatkan orangtua untuk tidak melempar sampah sembarangan. Orang tua malah mengatakan, “Memang ini sengaja saya lakukan untuk memberi kesempatan kepadamu untuk beribadah”.

Alangkah indahnya jika kita mengakui kesalahan dan mengambil tanggung jawab dengan mengatakan, “Mohon maaf, bapak khilaf dan bapak akan mengambil sampah-sampah itu”.

4. Belum Ada Standar Tahapan Pengakuan Kesalahan yang diajarkan Orangtua kepada Anak.

Standar ini menjadi panduan bagi anak dan orangtua di dalam mengakui kesalahan dan meminta maaf. Jika mereka selama ini belum melakukannya barangkali karena mereka belum mengetahui caranya.

Berangkat dari hambatan-hambatan di atas, maka sebenarnya orangtua dapat memulai membangun komitmen untuk membiasakan dan mengajari anak mengakui kesalahan. Di antara komitmen tersebut adalah :

1. Memberi Contoh dalam Hal Mengakui Kesalahan

Memberi contoh kepada anak dengan mengakui kesalahan yang mungkin dilakukan oleh orang tua dan mengambil sikap bertanggung jawab. Sikap ini mungkin cukup berat untuk dilakukan oleh orang tua ditengah paradigma mereka bahwa orang tua selalu benar

2. Memberi Penghargaan kepada Anak

Memberi penghargaan kepada anak-anak bagi mereka yang mempunyai keberanian untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf. Penghargaan ini berupa pujian atas keberanian, sentuhan-sentuhan kasih sayang, maupun pengurangan tanggung jawab atas kesalahan mereka.

3. Mengajarkan kepada Anak Tahapan Mengakui Kesalahan dan Meminta Maaf.

Di antara tahapan tersebut adalah;

  • Memikul tanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan. Bisa dengan menggunakan pernyataan, “Saya mengakui, air ini tumpah karena tersenggol tangan saya”.
  • Meminta maaf atas kesalahan yang telah dilakukan, dengan menggunakan pernyataan, “saya minta maaf karena telah membuat lantai ini kotor”
  • Siap menerima konsekuensi, “Apa yang dapat saya lakukan untuk menebus kesalahan saya ini?”
  • Membangun janji untuk bertanggung jawab, “akan saya bersihkan seluruh air dan kotoran di lantai ini”.

Dengan memberi contoh dan mengajari tahapan mengakui kesalahan, maka sebenarnya kita telah memasukkan ke dalam fikiran dan hati mereka bahwa mengakui kesalahan bukanlah kesalahan dan bukan merendahkan diri.

Tetapi justru membantu mereka untuk belajar bertanggung jawab serta mempertahankan hubungan baik kita dengan orang lain. Ketika seseorang telah terbiasa untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf maka InsyaAllah ia akan tumbuh menjadi pribadi yang mudah memaafkan kesalahan orang lain.

Drs. H. Miftahul Jinan, M.Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Anakku Hanya Pintar Sekolah”
__________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.