Anak Nakal antara Fitnah dan Barokah

Saya sering mendengarkan curhat dari ibu-ibu dan beberapa bapak lewat media email, facebook atau langsung pasca training tentang keluhan atas perilaku nakal putra-putri mereka. Saya sangat memahami jika mereka menyempatkan untuk curhat, karena mereka sangat bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Padahal mereka sangatlah menyayangi anak-anak tersebut.

Bagi saya sikap di atas jauh lebih baik daripada berdiam diri dengan tidak membingungkan sikap anak-anak mereka yang sudah jelas-jelas merepotkan. Hingga suatu ketika mereka tergopoh-gopoh mengadukan kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan dalam kondisi semua telah terlambat karena sangat nakalnya.

“Pak Jinan, saya betul-betul sedang diuji oleh anak saya yang nomor dua ini. Ia sangat aktif, tidak dapat diatur dan cenderung bersikap kasar terhadap orang lain. Bagaimana saya harus bersikap terhadap anak ini?.” Inilah contoh salah satu contoh curhatan mereka kepada saya.

Sebelum menjawab saya teringat sebuah firman Allah dalam surat Al Anfal 28: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu adalah fitnah dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”

Dari firman di atas, seharusnya kita memahami, jika saat ini anak kita nakal, bandel, dan suka bohong, maka konteksnya adalah kita sedang diuji oleh Allah dengan sesuatu yang menyusahkan kita.

Dengan ujian tersebut kita dituntut untuk lebih bersabar, dan bahkan untuk kembali belajar bagaimana cara menghadapi yang seperti ini. Dengan sikap seperti ini maka Allah sudah berjanji untuk memberikan pahala yang besar.

Sebaliknya jika saat ini anak kita baik, pandai dan santun, maka konteksnya kita juga sedang diuji oleh Allah dengan sesuatu yang membahagiakan kita. Dengan ujian tersebut kita dituntut lebih banyak bersyukur meningkatkan usaha kita kepada Allah.

Filosofi ujian/cobaan kesusahan dan kebahagiaan masih tetap sama, yaitu ada yang berhasil maka Allah meningkatkan derajat orang tersebut dalam bentuk barokah dan sebaliknya ada yang gagal di dalam menjalani ujian maka Allah memberikan padanya fitnah yang lebih besar lagi.

Keberhasilan menghadapi ujian kenakalan anak dapat berupa santunnya sikap kita terhadap anak tersebut atau berhasilnya kita menjadikan anak tersebut yang tadinya sangat nakal menjadi agak nakal, bahkan tidak nakal.

Sebaliknya kegagalan menghadapi ujian anak dapat berupa kita melepaskan tanggung jawab terhadapnya, berteriak-teriak penuh emosi, dan melakukan tindakan-tindakan yang menjadikan anak tidak semakin baik tetapi semakin bertambah kenakalannya.

Drs. H. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Alhamdulillah Anakku Nakal”

________________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.