Model atau Supermodel

Anak kedua kami mempunyai satu kelebihan, ia peniru jenius. Seringkali kami dikejutkan dengan lagu-lagu barunya yang kami belum pernah dengar. Pada saat yang lain ia menyebutkan kata-kata yang kami anggap lebih sesuai jika yang mengucapkannya orang dewasa.

Tidak ketinggalan ia sering meniru bentuk wajah uminya ketika jengkel dengan tingkah polanya tanpa merasa bersalah, atau meniru cara berjalan abinya. Ia bagaikan gado-gado yang tingkah lakunya adalah campuran dari perilaku orang-orang disekelilingnya.

Anak adalah pribadi unik, ia mempunyai moralitas berbeda yang tidak dimiliki oleh anak yang lain. Namun dalam keunikan tersebut selalu ada garis yang menghubungkan dengan titik-titik disekelilingnya.

Titik-titik tersebut dapat berupa perilaku orangtua, kondisi lingkungan sekitarnya, teman-teman sebayanya, dan lain-lain. Gabungan dari titik-titik itulah yang membangun keunikan mereka. Karena titik-titik mereka dan titik-titik kita berbeda maka mereka bukanlah diri kita.

Bagi seorang anak usia 0-5 tahun mungkin hanya orangtua yang ditirunya. Ia menjadikan segala perilaku orangtua sebagai model bagi dirinya. Semakin besar lingkungan interaksinya , maka modelnya juga bertambah, sehingga pada usianya yang kelima belas, ia telah mempunyai bermacam-macam model.

Saat ia memotong rambutnya, ia akan mencoba menyerupai potongan rambut sosok yang ia jadikan model, saat memilih baju ia pun akan memilih baju yang mirip dengan idolanya, saat ia berucap ia cenderung menggunakan kata-kata yang digunakan oleh tokohnya, bahkan saat ia harus memutuskan suatu permasalahan, ia akan berimajinasi bagaimana idolanya memutuskan jika dihadapkan pada permasalahan serupa.

Orangtua memang tidak mungkin melarang mereka melakukan itu semua, apalagi memilihkan model yang sesuai dengan keinginan orangtua. Tetapi pastikan diantara model-model tersebut orangtua tidak hanya menjadi model seperti model-model tersebut. Akan tetapi harus mampu menjadi supermodel.

Seorang supermodel mempunyai wilayah pengaruh yang lebih luas daripada seorang model. Mungkin model lain hanya ditiru dari satu aspek, seperti saat anak kita memilih model sepatu Michael Jordan.

Orangtua sebagai supermodel anak harus mempunyai wilayah pengaruh yang lebih beragam dan mendalam terhadap anaknya. Model lain cenderung berpengaruh pada aspek fisik anak, tapi orangtua sebagai supermodel harus berpengaruh pada wilayah fisik dan psikis.

Model  yang  lain  hanya  berpengaruh  sesuai  dengan  rentang trend, sementara rentang pengaruh supermodel harus lebih lama dan tidak hanya ditentukan oleh masa trend. Model yang lain hanya berpengaruh pada pembangunan aspek ragawi, yaitu aspek yang tampak dari anak seperti cara berbicara dan bertingkah laku. Namun supermodel menjadi penentu value dari apa yang tampak.

Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan oleh orangtua, agar dapat menjadi supermodel bagi putra-putrinya, diantaranya:

1. Membangun Kklim Dialogis antara Orangtua dan Anak.

Pemodelan adalah proses natural yang tidak dapat dipaksakan kepada seseorang.

2. Orangtua sebagai Model dan Supermodel bagi Anak

Jadikan diri kita sebagai model dan supermodel yang memang layak ditiru oleh anak, dalam segala konteks dan kondisi yang sesuai moral dan umur anak. Banyak orangtua yang tidak mengubah teknik memperlakukan anak, sementara anak telah mengalami perkembangan yang luar biasa

3. Hindarkan Perilaku Reaktif terhadap Anak.

Diantara anak-anak akan ada yang memilih beberapa model yang mungkin di luar value yang dianut oleh orangtua. Orangtua tidak dapat terlalu reaktif dengan sikap anak. Bertanya dengan bijak mengapa mereka memilih model tersebut dan apa manfaatnya bagi dirinya, mungkin lebih bisa diterima oleh anak.

4. Meningkatkan Sikap Empati

Langkah ke empat ini merupakan sikap untuk melatih anak berpikir sesuai dengan cara berpikir orang lain atau melatih sikap bertindak sesuai cara bertindak orang lain

Sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat model.

Drs. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

________________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.