Saya agak heran ketika istri saya bertanya kepada siswa-siswi ngajinya tentang kebaikan yang dilakukan oleh mereka pada hari itu. Bagi saya pertanyaan tersebut tidak sesuai dengan konteks materi, walaupun ia melakukannya diakhir waktu mengaji.
Beberapa anak dengan mudah menjawab pertanyaan tersebut, karena kebetulan mereka melakukannya. Namun beberapa anak yang lain terlihat kebingungan saat mengingat kebaikan yang mereka lakukan pada hari itu.

Ada dua hal yang menghambat mereka untuk menjawabnya:
Pertama, perbedaan definisi tentang kebaikan antara anak dan gurunya. Mungkin bagi anak perbuatan baik selalu dalam bentuk menolong orang lain atau mengerjakan kewajiban kepada Allah. Kebetulan hari itu mereka tidak melakukannya.
Sementara maksud guru mereka perbuatan baik tersebut adalah hal-hal kecil yang mereka lakukan dan memberi manfaat bagi mereka sendiri atau bagi orang lain. Untuk hambatan ini istri saya kemudian memberikan pertanyaan bimbingan yang mengarahkan mereka pada hal-hal kecil yang telah sering mereka lakukan sehari-hari.
Kedua, memang mereka tidak melakukan perbuatan yang baik pada hari itu. Untuk mereka, tidak ada pernyataan kecuali himbauan dan motivasi agar mereka melakukan kebaikan pada esok harinya.
Hari berikutnya pertanyaan serupa disampaikan oleh istri saya kepada mereka. Tidak ada kesulitan bagi mereka untuk menjawabnya. Permasalahan definisi kebaikan telah mereka atasi dan begitu juga pada masalah anak yang tidak melakukan kebaikan, mereka telah melakukannya untuk hari kedua, karena rasa sungkan dan tidak enak hati jika mereka kembali tidak mampu menjawabnya.

Perubahan yang terjadi pada hari kedua dan seterusnya adalah munculnya rasa tanggung jawab bagi anak-anak untuk melakukan kebaikan setiap hari.
Pada hari kesepuluh istri saya bertanya tentang kebaikan dengan menambah kriteria kebaikan tersebut, yaitu kebaikan baru yang sebelumnya belum pernah mereka lakukan. Beberapa anak dengan mudah menjawabnya, tetapi mayoritas dari mereka kesulitan menjawabnya terutama anak-anak yang melakukan kebaikan hanya sebagai rutinitas dan menjawabnya secara rutinitas pula. Tidak ada respon yang menonjol dari gurunya kecuali senyuman dan himbauan untuk berpikir melakukan kebaikan yang baru.
Pada hari selanjutnya tantangan baru tersebut telah memaksa mereka untuk selalu memikirkan perbuatan baik yang baru. Dengan demikian telah terjadi pergeseran dalam mereka melakukan perbuatan baik, di mana semula mereka melakukannya secara rutinitas tanpa niat khusus untuk melakukannya menjadi kesengajaan dan niat untuk melakukan perbuatan baik yang baru.
Semakin lama jenis perbuatan baik semakin beragam dan tidak terasa satu bulan berlalu, dan saya melihat betapa banyaknya jenis perbuatan baik yang mereka lakukan setiap hari.

Saya tidak dapat membayangkan perkembangan anak-anak tersebut jika istri saya secara istiqomah selalu bertanya tentang amal kebaikan mereka, dengan melakukan modifikasi-modifikasi dalam pertanyaannya.
Saya masih ingat dengan sebuah statement:
“Hati-hati dengan pikiran anda, karena ia dapat menentukan keyakinan anda. Hati-hati dengan keyakinan anda, karena ia dapat menentukan harapan anda. Hati-hati dengan harapan anda karena ia akan menentukan sikap anda. Hati-hati dengan sikap anda karena ia akan menentukan kebiasaan anda. Dan hati-hati dengan kebiasaan anda karena ia akan menentukan masa depan anda.”
Ada beberapa manfaat yang dapat diambil oleh guru dan orangtua jika mereka mampu membangun kebiasaan untuk bertanya tentang kebaikan yang dilakukan oleh anak, di antaranya:
1. Manfaat dari Pertanyaan Orangtuadan Guru
Saat guru dan orangtua bertanya tentang kebaikan yang dilakukan oleh anak, hal ini menunjukkan bahwa materi yang ditanyakan adalah materi yang penting. Apalagi pertanyaan tersebut dilakukan berulang-ulang.
2. Mendapat Inspirasi
Anak-anak terinspirasi untuk melakukan kebaikan saat mereka mendengarkan temannya juga melakukan kebaikan.
3. Motivasi Anak Lebih Kuat untuk Melakukan Kebaikan
Jika mereka menyampaikan kebaikan yang telah mereka lakukan. Kebaikan yang dilakukan secara berulang-ulang dengan beragam jenisnya akan mampu membangun karakter berperilaku baik pada diri anak.
Drs. H. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”
________________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


