Simulasi Moral

Ini mungkin masalah yang masih sering menghantui pikiran saya. Saya sering mendengarkan tuntunan agama tentang cara yang baik saat kita marah. Berganti posisi dari berdiri ke duduk, dari duduk ke berbaring, Kemudian mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat.

Ada beberapa teknik yang akhir-akhir ini saya pelajari tentang manajemen emosi dengan mengambil nafas panjang dan mengembangkan pikiran positif.

Namun saat saya benar-benar menghadapi situasi emosi yang tinggi, saya sama sekali tidak ingat akan tuntunan agama dan teknik tersebut di atas. Bahkan saya melakukan hal-hal yang saya sendiri tidak bisa prediksi sebelumnya.

Beberapa saat kemudian saat emosi kembali normal saya mengingatnya kembali dan sedikit muncul penyesalan atas beberapa tingkah laku yang kurang bijaksana saat emosi.

Saya memang telah memahami tentang teknik pengendalian marah beserta alasan mengapa berpindah posisi, berwudlu dan tidur. Namun semua masih bersifat infomasi yang masuk ke dalam pikiran logis saya.

Padahal saat marah, justru pikiran logis inilah yang kurang berperan, dan diri saya lebih dikuasai oleh perasaan dan otak reptil kita, sehingga tidaklah mengherankan saat saya marah maka tuntunan yang bersifat logis dengan mudah saya lupakan.

Disinilah kita merasakan adanya jarak antara tuntunan yang kita dapatkan dari proses pendidikan di sekolah dengan kebutuhan dalam kehidupan sehari-hari. Seorang guru harus sudah mulai memikirkan bagaimana sebuah pengetahuan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga ia perlu mempertimbangkan skenario penyampaian materi tersebut.

Apakah materi itu cukup disampaikan dengan model ceramah, simulasi atau praktek langsung di dalam kehidupan nyata.

Saya sangat kagum terhadap beberapa sekolah dan keluarga yang mulai mencoba melakukan terobosan dalam metode penyampaian materi. Mereka tidak lagi merasa cukup untuk menyampaikan materi terutama materi agama dan kewarganegaraan dengan ceramah dan diskusi, melainkan mulai menggunakan simulasi, sosiodrama dan praktek di lapangan.

Seperti pelajaran tentang menahan emosi, sebenarnya seorang guru dapat melakukan beberapa tahapan berikut ini;

1. Mengidentifikasi Tanda-tanda Datangnya Marah.

Pada proses ini siswa diminta untuk mengenali perubahan tubuh yang muncul saat mereka mulai marah. Kemudian hasil identifikasi tersebut dituliskan dalam sebuah kertas.

Proses ini sangat bermanfaat untuk mengetahui tanda-tanda awal marah, sehingga seseorang dapat menghadapinya dengan lebih baik, seperti menyendiri dan mengambil air wudlu, dan dapat menghindari kebiasaan-kebiasaan yang buruk saat marah.

2. Mengambil Teladan dari Rosulullah

Menjelaskan tentang tuntunan Rasulullah saat beliau menghadapi emosi, dengan berubah posisi, berpindah tempat, mengambil air wudlu atau melakukan shalat.

3. Melakukan Simulasi

Meminta anak untuk melakukan simulasi emosi dengan mempraktekkan satu persatu tuntunan ini.

4. Melakukan Praktik Sosiodrama

Memberikan skenario sebuah drama pendek yang di dalamnya ada adegan marah dan emosi. Dengan adanya sosio drama ini maka anak akan terlibat dalam materi menahan marah ini secara emosi, bukan hanya sekedar mengetahuinya namun ia melupakannya saat benar-benar dalam kondisi emosi.

Barangkali ini adalah penjelasan riil dari buku Ratna Megawangi bahwa ada tiga aspek dalam pembelajaran moral.

Pertama Moral Knowing yaitu pengetahuan tentang nilai-nilai moral. Kedua Moral Feeling yaitu kemauan dan kecintaan terhadap nilai-nilai moral. Ketiga Moral Action yaitu kebiasaan dan keterampilan untuk melakukan tindakan nyata sesuai dengan pengetahuan dan keinginan nilai-nilai moral.

Pembelajaran yang dimodifikasi seperti di atas dengan mempertimbangkan bagaimana materi diaplikasikan telah mendorong pembelajaran moral bukan saja pada aspek moral knowing saja, tetapi juga melibatkan moral feeling dan pada akhirnya moral action.

Drs. H. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

________________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.