Katakan yang Benar

Ini barangkali namanya mendapatkan rezeki nomplok, saat saya kebingungan mendapatkan inspirasi untuk menulis tentang moral, tiba-tiba salah seorang teman trainer bercerita tentang peristiwa yang baru saja ia alami.

Ia datang ke kelas VII SMP Patra Dharma Balikpapan dan bertanya kepada seluruh siswa, “Siapa yang rutin setiap hari melakukan kebaikan dalam satu minggu lalu?” Mendapatkan pertanyaan tersebut secara serempak seluruh siswa mengangkat tangan.

Kemudian trainer tersebut melanjutkan pertanyaannya, “Siapa yang melaksanakan perbuatan baik tersebut karena didorong atau dipaksa orangtuanya?” Sekitar sepuluh anak yang mengangkat tangannya, tanda mengakui paksaan dari orangtua mereka.

Namun dari sepuluh anak tersebut ada fenomena yang menarik, sebagian dari mereka mengangkat tangan tinggi-tinggi dengan cepat tanpa melihat sekeliling mereka, namun sebagian yang lain mengangkat tangan dengan ragu sambil melihat kiri dan kanan. Ketika mereka telah melihat ada teman yang angkat tangan akhirnya mereka mengikutinya.

Saya tertarik dengan fenomena kelompok anak yang mengangkat tanpa ragu dan tanpa melihat teman-teman di sekeliling-nya. Ada dua masalah yang harus dihadapi seorang anak ketika guru mereka bertanya tentang paksaan orang lain didalam melakukan kebaikan.

Pertama, mengatakan dengan sesungguhnya apa yang ia lakukan, karena hal tersebut adalah bisikan dari hati nuraninya. Kedua, dengan mengangkat tangan maka tampaklah kekurangannya di dalam melakukan kebaikan.

Beberapa anak di atas telah melakukan hal yang luar biasa karena dengan spontan memilih mengikuti hati nurani untuk berkata yang sesungguhnya walaupun sebagian kekurangannya terlihat oleh orang lain.

Dalam sejarah Islam kita menjumpai beberapa pemuda yang melakukan seperti yang dilakukan oleh beberapa siswa di atas, bahkan dalam tingkatan yang lebih tinggi. Dalam sebuah halaqah Rasulullah bersama para sahabat, tiba-tiba datanglah seorang pemuda dan langsung berkata kepada beliau.

“Wahai baginda Rasul, Alhamdulillah aku telah dapat menjalankan seluruh ajaran Islam, kecuali satu yaitu zina.”

Dengan wajah tenang dan penuh kebijakan Rasulullah memandang pemuda itu seraya berkata, “Wahai pemuda, apakah engkau mempunyai bibi, ibu, atau saudari perempunan?” Pemuda itupun menjawab agak ragu sambil berpikir tentang pertanyaan Rasul tersebut “Ya, baginda Rasulullah.”

Rasulullah pun akhirnya berkata, “Bagaimana sikapmu jika ada seseorang yang menzinai mereka?” Mendengar pertanyaan tersebut tiba-tiba sambil menghunus pedangnya ia berkata, “Sungguh saya akan bunuh seseorang yang telah berani berlaku demikian kepada mereka.”

Lalu Rasulullahpun berkata, “Dan begitu pula sikap mereka yang bibi, ibu atau saudari perempuannya telah engkau zinai”. Saat itu pula Pemuda ini sadar dan berjanji untuk meninggalkan perbuatan zina.

Saat bertemu Rasulullah dan hendak bertanya kepada beliau, pemuda ini harus menghadapi beberapa resiko. Pertama, ia harus mengakui bahwa ia telah berbuat zina di mana ini memungkinan Rasulullah akan memberi hukuman atau minimal ia malu dihadapan para sahabat bahwa ia telah berbuat dzalim. Kedua, hati nurani mendorongnya untuk bertanya kepada Rasulullah demi perbaikannya. Ia memilih yang kedua dan berani menghadapi resiko hukuman dari Rasulullah dan rasa malu.

Ada kemiripan moral yang dimiliki oleh pemuda-pemuda di atas, terus terang, tanpa kompromi, cenderung kepada kebaikan dan integritas. Dengan moral tersebut maka mereka cenderung lebih mudah menerima kebenaran. Mereka lebih mudah bersikap obyektif terhadap nilai-nilai yang benar. Walaupun untuk sikap obyektif tersebut seringkali mereka menghadapi resiko-resiko yang tidak ringan.

Yang terpenting bagi kita sebagai orangtua atau guru adalah bagaimana membangun moral yang demikian. Berikut ini beberapa penjelasan yang barangkali memudahkan kita untuk untuk merunut perjalanan perkembangan moral pada diri pemuda-pemuda di atas:

1. Pemuda yang Tumbuh pada Keluarga yang Menjunjung Tinggi Kebenaran.

Mereka tidak menolerir sedikit pun kebohongan untuk berkembang pada keluarga mereka. Dalam keluarga seperti ini, akan mudah bagi putra-putri mereka untuk mengatakan yang benar walaupun seringkali berakibat yang buruk bagi mereka.

Namun ironisnya akhir-akhir ini kita lebih sering menjumpai keluarga yang terlalu permisif terhadap kebohongan. Dengan alasan adanya dharurot mereka dapat menerima kebohongan bahkan keculasan. Ada banyak keluarga yang merasa nyaman walaupun anaknya yang baru mengikuti Ujian Nasional mengaku bahwa sebelum ujian anaknya telah diberi kunci jawaban ujian.

2. Nilai Kebenaran Tidak diajarkan Secara Doktrinal dan Tekstual.

Mereka melakukan diskusi tentang nilai-nilai yang baru saja mereka kerjakan, tanpa adanya paksaan-paksaan yang tidak sesuai dengan tingkat pikiran anak. Diskusi-diskusi ini tidak menempatkan orangua selalu yang mempunyai nilai dan harus diikuti oleh putranya. Tetapi justru memberi ruang bagi sang anak untuk menemukan kebenaran dengan secara mandiri.

3. Terjalinnya Hubungan yang Harmonis antara Anak dengan Orangtua atau Guru.

Hubungan yang harmonis akan membangun keterbukaan antara anak dengan orangtua atau guru. Keterbukaan inilah yang menjadikan munculnya rasa saling percaya antara kedua belah pihak. Jika anak sampai berkata, “Untuk apa saya mengatakannya, toh mereka tidak akan pernah percaya kepada saya,” jelas merupakan kegagalan yang besar bagi munculnya hubungan yang harmonis antara orangtua, guru dan anak.

4. Tidak Ada Ejekan, Cemoohan atau Pernyataan yang Merendahkan.

Sikap di atas sering terjadi saat anak melakukan perilaku yang kurang baik atau kegagalan tertentu. Justru harusnya yang muncul adalah rasa empati dan saling pengertian serta memisahkan antara pribadi anak yang selalu baik dan sikap anak yang kadangkala kurang baik.

Banyak anak yang tidak mempunyai keberanian untuk berterus terang atas perbuatan yang telah mereka lakukan, karena mereka membayangkan jika ia melakukannya ia akan mendapatkan ejekan, cemoohan dan malu yang besar dari orangtua, guru dan teman-teman mereka.

Kita yakin tidak mudah untuk mendidik anak-anak kita seperti pemuda-pemuda di atas, tetapi dengan perhatian kita terhadap kebenaran, melakukan diskusi yang intensif dengan mereka tentang kebenaran, menjalin hubungan yang harmonis dan selalu berempati terhadap kegagalan yang mereka lakukan, minimal kita telah meretas jalan untuk munculnya pemuda-pemuda hanif tersebut. Selamat berjuang untuk mewujudkannya.

Drs. H. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC

Direktur Griya Parenting Indonesia

Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”

________________________

**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.