Kami bertiga dari tim Product and Development Kualitas Pendidikan Indonesia mendapatkan kesempatan untuk magang di sebuah sekolah yang sangat baik di Jakarta Timur, Sekolah Al Falah. Pada hari ketiga kegiatan magang kami di sekolah tersebut, setelah secara tidak sengaja kami menjumpai sekelompok siswa kelas VIII sedang membicarakan rencana liburan mereka pada hari Sabtu dan Ahad mendatang.
Tidak ada yang istemewa dari apa yang mereka bicarakan, hanyalah rencana untuk melakukan tamasya di beberapa daerah wisata di Bandung. Namun saya harus menuliskan cerita tersebut dalam buku ini, karena cara mereka berdialog sungguh merupakan fenomena yang sangat menarik,

1. Gaya Diskusi yang Berbeda
Biasanya anak seusia ini suka clometan dalam berdiskusi dan saling memotong pembicaraan temannya, tetapi yang kami saksikan adalah sekelompok remaja yang sangat sopan dalam berbicara. Menunggu temannya menyelesaikan perkataan, baru ia mulai menyampaikan pendapatnya.
2. Tidak Merendahkan dan Mengejek Temannya
Sesekali mereka memang tertawa dan bersenda gurau, tetapi tawa mereka sungguh jauh dari kesan merendahkan apalagi mengejek temannya.
3. Gaya Berbicara dan Mendengarkan Sangat Terhormat
Sikap dan cara mereka berbicara dan mendengar sangatlah terhormat. Mereka melihat temannya yang sedang bicara dan tidak membuat kelompok kecil untuk berbicara sendiri.
Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu saat mengikuti pelatihan Communiction Skill yang membicarakan tentang teknik yang baik dalam berbicara dengan orang lain, justru remaja-remaja ini telah melaksanakannya dengan baik. Jika mereka kelak tumbuh dewasa, sikap keahlian berkomunikasi tersebut akan banyak membantu mereka untuk lebih berhasil dan bahagia di dalam hidupnya.

Kemampuan berbicara dengan orang lain bukanlah sekedar kemampuan seseorang untuk mengungkapkan ide-idenya dengan baik dan fasih. Tetapi juga menyangkut kemampuan untuk mendengarkan dengan baik saat orang lain berbicara kepadanya.
Seseorang yang mampu mendengar dengan baik minimal melakukan tiga hal saat mereka mendengarkan pembicaraan orang lain. Pertama, merefleksikan kembali sebagian isi masalah yang disampaikan. Kedua, merefleksikan kembali sebagian emosi yang dikomunikasikan orang lain tanpa berbunyi seperti burung beo. Ketiga, mendengar dengan ketulusan hati.
Bayangkan jika kita saat ini dalam kondisi emosi dan marah terhadap seseorang. Orang itu telah mengkhianati kita dalam banyak hal, dan baru hari ini kita menyadari bahwa ia telah mengkhianati kita. Kemudian datang 3 orang teman kita dengan beberapa sikap yang berbeda.
Orang pertama langsung menemui kita dan berkata, “Bagaimana perasaan kamu?” Orang yang kedua masuk untuk berbicara, “Sudahlah, kamu lebih baik sabar menghadapinya, ingat orang yang sabar akan ditolong oleh Allah dalam kesabarannya.” Orang ketiga datang dan duduk di depan kita sambil berbicara, “Anda sungguh-sungguh marah saat ini,” dan ia kemudian hanya mendengarkan pembicaraan kita.
Orang pertama, mungkin cukup membuat kita agak tenang karena memberi kesempatan kita untuk mengungkapkan isi hati kita. Orang kedua, jelas menjadi orang yang tidak kita kehendaki kedatangannya, karena saat ini kita sedang tidak membutuhkan nasehat dan petuah. Sikap orang yang ketiga adalah sikap yang ideal, merefleksikan sebagian emosi kita kemudian ia hanya mendengarkan ungkapan isi hati kita.

Melihat remaja-remaja pada sekolah Al Falah berbicara saya yakin mereka mempunyai guru-guru yang sangat perhatian terhadap sikap-sikap mendengar yang baik. Guru-guru tersebut telah menjadikan aktifitas mendengarkan sebagai kesempatan paling baik untuk lebih memahami siswa-siswi mereka sekaligus merasakan apa yang dirasakan oleh mereka.
Alangkah indahnya jika kita sebagai orangtua atau guru menjadikan kegiatan mendengar aktif sebagai aktifitas yang sama pentingnya dengan aktifitas mendidik atau mengajar. Merefleksikan sebagian isi hati dan emosi anak-anak kita dengan segala ketulusan hati kita.
Jika kegiatan ini sering kita lakukan, maka sebenarnya kita sedang membangun sikap mendengar yang baik pula bagi mereka.
Mari kita mendengarkan mereka saat kita mempunyai waktu, mendengar dengan cinta dan ketulusan hati. Ketika kita kehabisan energi emosional untuk mendengar, kita harus mengatakan kepada mereka bahwa kita dapat melanjutkan pembicaraan ini pada lain waktu.
Jika kita memang hanya mempunyai waktu 10 menit untuk mendengarkan mereka, kita pun harus mampu mengatakan bahwa waktu kita berbicara adalah 10 menit. Dengan demikian kita tidak sedang berpura-pura mendengarkan, padahal pikiran kita sedang focus pada hal lain.
Mendengar dengan segala emosi dan ketulusan hati, adalah hadiah yang tidak ternilai bagi anak-anak kita. Pastikan hadiah tersebut lebih sering mereka dapatkan dari diri kita.
Drs. H. Miftahul Jinan, M. Pd.I., LCPC
Direktur Griya Parenting Indonesia
Disadur dari buku “Aku Wariskan Moral Bagi Anakku”
________________________
**) Kami mengundang Bapak/Ibu, Ustadz/ah untuk mengisi rubrik “Inspirator”. Alternatif tema tulisan berupa dunia pendidikan maupun pengasuhan (parenting). Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: griyaparentingindonesia2@gmail.com lalu mohon konfirmasi ke nomor +62 857-1735-3824 atas kiriman tersebut
**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi Griya Parenting Indonesia.


